Dari Bus Hingga Pesawat.. Menyambut Ritual Mudik Lebaran ke-11 (LOL)

Eny Wulandari
Karya Eny Wulandari Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 21 Juni 2017
Dari Bus Hingga Pesawat.. Menyambut Ritual Mudik Lebaran ke-11 (LOL)

Harusnya aku menulis ini tahun lalu pas satu dekade aku melakukan mudik dari Jakarta menuju rumah orang tua di Karanganyar tetapi sama sekali lupa, haha.. Jadi anggap ini membayar utang tahun lalu.

Jadi aku sudah lebih dari 10 tahun aku jadi anak rantau di Jakarta. Hampir lima tahun sebelumnya aku setengah jadi anak rantau waktu kuliah di Yogyakarta (sebab seminggu atau dua minggu sekali aku pulang ke rumah). Setelahnya aku jadi anak rantau super profesional di Jakarta. Yang aku sebut terakhir ini dikarenakan aku hanya mudik empat kali dalam setahun, bahkan dulu pernah kurang dari itu.

Yang aku bilang hanya tadi kadang bisa disemprot sama teman yang jauh lebih merana dari aku sebab pulang jarang dari angka itu, hehe.. Berhubung bosan juga nulis melalu tentang buku, sastra atau yang serius-serius, sambil nunggu editan berikutnya yuk dibaca curhatanku yang satu ini.

  1. Nggak pernah naik kereta api

Sampai sekarang aku belum pernah naik kereta api. Alasannya aku malas melek tengah malam berburu tiket dengan ribuan perantau arah Solo, Yogyakarta atau Jawa Timur. Walau dibanding bus atau pesawat, kereta api pilihan yang paling aman. Lebih murah dan nggak pakai macet.

  1. Merasakan benar-benar mudik justru pakai bus

Dari awal aku pergi ke Jakarta untuk wawancara hingga 2014, aku masih setia mudik pakai bus untuk Lebaran. Selain murah bus yang aku pakai juga nyaman dan aman. Aku juga bisa turun di dekat rumah. Dari situ keluarga tidak terlalu jauh tiap ingin menjemputku.

Lama mudik naik bus membuatku banyak belajar di sepanjang perjalanan pulang mau pun balik. Mulai dari belajar ketahanan diri (bisa sampai 20 jam loh!) hingga melihat sendiri bagaimana masyarakat sepanjang jalur mudik menikmati jelang dan usai Idul Fitri.

Aku bisa jadi tahu tempat-tempat di sepanjang Pantai Utara (Pantura) pulau Jawa. Tahu kebiasaan penduduk di sepanjang jalur yang banyak di antaranya meraup rezeki berjualan makanan, minuman hingga menyewakan toilet umum. Aku pernah saur di pinggir jalan saat bus mogok, masih di daerah Jawa Barat. Pernah pula jantung deg-deg an saat supir ngebut saat jalan lengang usai melintasi Semarang.

Aku jadi tahu peta Jawa Tengah. Salah satu titik yang paling aku rindukan adalah saat bus melintasi kawasan Cirebon dimana laut terlihat jelas dari jalan raya. Saat itu biasanya sudah tengah malam. Melihat laut tenang dan lampu bus yang sudah redup membawa sensasi syahdu tersendiri.

Atau juga aku suka pas bus meninggalkan Semarang saat arus balik. Biasanya saat malam, terlihat lampu kerlap-kerlip dari rumah penduduk yang terlihat jelas di jalur tol. Berhubung rumah penduduk di dataran yang lebih tinggi dari jalan tol Semarang-Jakarta maka yang terlihat di mata sungguh menakjubkan. Seperti pendar berkilauan di angkasa yang menggelap..

  1. Pernah berada di jalan lebih dari 22 jam

Terjadi saat ada kerusakan jembatan pada 2014 hingga bus pun terpaksa mencari jalur alternatif, dari jalur utara beralih ke tengah lalu masuk ke jalur selatan. Macet hampir di sepanjang jalan. Saat itu berasa keliling lebih dari setengah Jawa Tengah! Sampai ke rumah pas orang sedang menjalankan sholat Idul Fitri. Ini yang membuatku tak lagi memakai jasa bus.

  1. Merelakan THR habis buat beli tiket pesawat

Sejak 2015, aku memulai ritual mudik menggunakan pesawat saking kapoknya naik bus. Sebab aku membeli tiket dekat hari keberangkatan maka aku selalu dapat harga dengan batas atas tertinggi. Yang setiap kali aku ke agen si mbak atau mas nya bilang, “Tapi ini sudah harga tertinggi, bu.” Yang aku langsung jawab,” Ya udah, nggak apa-apa mas/mbak.”

Aku beli mendadak sebab pengumuman libur Lebaran dari kantor yang biasanya mendadak. Karena sudah tahu harga sekitar segitu maka aku sudah antisipasi keuangan jauh sebelum Lebaran. Rela uang THR mayoritas aku pakai buat beli tiket pesawat bolak-balik demi memangkas waktu perjalanan sama pastinya waktu kumpul sama keluarga jadi lebih lama.

  1. Pernah 2 kali nggak mudik dan itu rasanya..

Saat ada tugas peliputan pertama kali jadi jurnalis di Tegal pada 2007 dan tiga tahun kemudian sebab hanya menerima jatah libur tiga hari. Walau dalam dua momen tersebut aku ramai-ramai bersama teman-teman, bahkan melakukan road trip ke Garut pada 2010, rasanya sungguh nyesek nggak bisa mudik. Walau tetap bisa pulang di lain waktu, tidak bisa mudik saat Idul Fitri itu rasanya sangat sedih..

  1. Betapa repot,boros dan lelahnya, mudik selalu bikin bahagia dan lega

Meski repot dari jauh-jauh hari buat cari tiket kereta atau boros ongkos buat beli tiket pesawat.. Belum lagi uang habis buat dibagi-bagi ke keponakan, sepupu bahkan tetangga yang masih kecil... Yang namanya mudik masif, yang sudah jadi tradisi dari dulu ini selalu sukses bikin aku lega dan senang. Istilah Inggrisnya it is so worth it! Ketemu orang tua, saudara, tetangga hingga reuni teman semasa SD, SMP hingga SMU atau kuliah sama pastinya makan enak masakan buatan ibu, hehe...

Jadi teruskan dan lestarikan tradisi ini, kawan-kawan..

Selamat mudik teman-teman bagi yang mudik. Hati-hati di jalan. Semoga selamat sampai tujuan dan selamat menikmati libur panjang bersama keluarga tercinta, amiiiin..

Buat yang nggak mudik selamat menikmati jalanan lengang ibukota, hehehe..

Mohon maaf lahir dan batin ya.. Maafin semua kesalahanku setahun belakangan ini baik yang aku sengaja atau tidak.

Selamat Idul Fitri 1438 H/2017 teman-teman.

*Gaya bahasa sengaja dibuat acakadul sebab bosan nulis formal melulu..*

Gambar diambil dari sini

 

  • view 104