Apa yang terjadi setelah kata cinta itu terucap

Eny Wulandari
Karya Eny Wulandari Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 09 Juni 2017
Apa yang terjadi setelah kata cinta itu terucap

Mohon maaf sebelumnya sebab tulisan ini membahas cinta secara universal bukan  antara lawan jenis. Jika kecewa silahkan berhenti membaca tetapi jika tidak semoga setia menikmati sampai akhir.

Kata ‘cinta’ belakangan semakin terasa sakral saja di kuping saya. Benar kata David Cain, yang punya raptitude.com, blog yang sering saya kunjungi akhir-akhir ini, bahwa cinta itu tidak seperti yang kita dengarkan lewat lirik lagu atau film komedi romantis buatan Hollywood atau sinema pada umumnya.

Andai cinta hanya manis saja maka alangkah indahnya hidup ini. Sayangnya, cinta datang tak sendiri. Ia menghampiri siapa pun, saya dan mungkin kamu, bersama-sama teman-temannya. Ketidakpastian, cemburu, stres, pusing, rasa sebal dan sebagainya. Payung besarnya bersama cinta datanglah tanggung jawab. Tujuan akhirnya sih bisa macam-macam; menikah, punya anak, sukses usahanya, jadi orang terkenal dan lainnya.

Jatuh cinta pada siapa pun atau apa pun itu berat loh. Makanya saya sebal kalau tahu ada cowok yang gampang sekali bilang cinta pada banyak perempuan!

Tetapi benarkah rasa sayang dan teman-temannya tadi hanya melulu membuat kita sengsara? Pertanyaan ini serupa dengan benarkan hidup akan indah kalau kita hanya merasa senang saja, dimana segala apa yang kita inginkan terpenuhi?

Kalau sudah sampai pertanyaan begini, ujung-ujungnya mengarah ke istilah ‘rumput tetangga memang selalu lebih hijau’. Padahal rumput milik siapa pun akan terlihat hijau jika sering disirami, termasuk rumput milikmu sendiri.

Contoh sederhana, saya jatuh cinta dengan Juventus sejak 1997 pada pertandingan pertama. Saya milih contoh yang kecil-kecil saja ya, hehe.. Saat itu bahkan saya tidak sadar saya sedang jatuh cinta. Pada klub bola pula. Sungguh rasanya remeh sekali. Sampai sekarang saya menganggap sayangnya saya pada Juventus itu teramat konyol, hahaha..

Karena suka akhirnya saya mengikuti informasi tentang Juve, melihatnya bertanding bertahun-tahun. Di usia yang masih belia saya sudah sering menyaksikan Juve menang tetapi tak jarang pula akrab dengan kekalahan. Salah satu yang paling nyesek saat Juve kalah dalam perburuan scudetto versus Lazio di menit-menit terakhir pada musim 1999/2000. Siapa kira itu melatih saya bersiap menghadapi cerita-cerita pahit dalam kehidupan saya di masa depan.

Kalau mau cerita serius ya tentang ibu saya. Saya nggak bisa membayangkan betapa sabarnya ibu saya menghadapi saya yang memang keras kepala. Misalnya, saya dulu susah sekali belajar membaca. Ibu saya sampai membentak-bentak saya agar saya serius belajar hingga akhirnya saya sekarang maniak baca. Dulu saya nangis tiap dimarahin oleh ibu saya sekarang saya baru sadar jika ibu saya tidak bersikap demikian apa jadinya saya. Sebab membaca benar-benar menjadi bekal saya mengarungi masa depan hingga saat ini. Dari ibu saya, saya belajar cinta tidak melalu lembut tetapi tegas bahkan keras demi mencapai tujuan yang lebih besar. Mudahkan menjalani cinta seperti ibu saya? Tentu tidak.

Dulu saya pernah sangat mencintai pekerjaan saya sebagai wartawan. Saya sudah suka jurnalisme dari kecil, lagi-lagi tanpa saya sadari apa itu jurnalisme. Hingga pada akhirnya pengalaman pahit saya bekerja sebagai wartawan membuat saya sempat kehilangan kepercayaan diri, merasa tidak cukup layak jadi pewarta dan sebagainya. Sampai sekarang saya masih mencintai jurnalisme sebab meski banyak beredar hoax profesi jurnalis itu diperlukan sebab ia membawa amanah informasi bagi umum. Yang tak lagi saya cintai adalah bekerja di korporasi yang berbisnis inti jurnalisme. Saya sudah cukup punya pengalaman yang getir di situ dan kini saya tidak mau kembali lagi. Kecintaan saya terhadap jurnalisme sebenarnya lebih banyak memberikan pengalaman tidak menyenangkan hingga pada akhirnya saya menyerah. Dari situ saya belajar mencintai sesuatu secara berlebihan memang terkadang tidak baik.

Sekali lagi, buat saya kata ‘cinta’ itu mahal sekali. Sebab sekali bilang dan mengaku cinta datang apa yang disebut komitmen yang harus dihadapi dan dijalani. Tidak semua akan berakhir menyenangkan. Tetapi buat saya, berani menjalankan apa yang saya cintai dengan segala konsekuensinya tetap lebih baik daripada diam dan pura-pura tidak menyadari apa yang saya rasakan. Mencintai itu perkara keberanian. Kita pun hanya diberi satu kali kesempatan hidup yang jika tidak kita jalani secara berani maka ya buat apa hidup di dunia ini?

Foto diambil dari sini.

  • view 104