Terkadang kau harus merangkul luka itu agar dirimu bebas

Eny Wulandari
Karya Eny Wulandari Kategori Bola
dipublikasikan 05 Juni 2017
Terkadang kau harus merangkul luka itu agar dirimu bebas

Pertama-tama aku ingatkan agar dirimu tak melanjutkan membaca tulisanku ini jika engkau menganggap sepakbola hanya perkara menang atau kalah. Cuma urusan gelar. Bahwa tiap penonton itu hanya menikmati hiburan, tak ada ikatan emosi, atau bahkan menilai penonton tidak tahu apa-apa.

Kalau engkau tidak tahan menikmati celotehan panjang dan mendalam cukup, jangan buang waktumu membaca kalimat di bawah ini sebab engkau akan menilai apa yang akan aku tulis ini berlebihan. Iya, aku tahu. Sudah sering aku dibilang seperti itu. Sudah kerap orang terheran-heran mengapa aku bisa seperti ini.

Sudah cukup sering pula aku menulis tentang Juventus, apalagi di masa silam. Saat masih SMP, saat masih senang-senangnya menonton Juve. Sekarang masih tetapi sebenarnya sudah tak sesering dulu sebab sekarang harus live streaming. Dulu Serie A sedang jaya-jayanya pada 90an.

Menuliskan ini sesungguhnya ogah aku lakukan sebab ngomongin Juventus itu selalu menghadirkan sensasi bermuka dua, yang satu bikin senang yang satu bikin nostalgia. Bahagia sekaligus sedih di saat yang bersamaan. Sedih yang selalu rindu ingin aku selami kembali. Masa sekolah yang cuma mikir ujian dan senang-senang bersama teman-teman.

Aku baru terpikir menulis ini sebab ini jadi satu-satunya cara terampuh yang harus aku tempuh agar pedih yang sedari Minggu pagi buta menghinggapiku bisa setidaknya lega ia, akhirnya, aku rangkul. Aku mengajaknya berdamai hari ini.

Antara mencoba menghindari pahitnya kekalahan melawan Real Madrid di final Liga Champions 2017 di Cardiff Minggu dini hari yang lalu (4/6) atau memberi ruang agar hati bisa lega dengan sendirinya, begitulah yang aku rasakan mulai dari Minggu pagi bahkan Senin siang ini.

Bahkan sepanjang Minggu aku menyengaja tak bertemu dengan teman-temanku sebab suasana hati yang sedang buruk-buruknya. Daripada mereka terganggu dengan raut wajahku maka lebih baik aku menghindari mereka. Belum lagi badan yang lemas habis sebab memang hanya menyendok tak lebih dari lima kali saat sahur. Kekalahan Juve benar-benar membuatku tak berselera sahur. Aku beneran nangis. Yang meski hanya sebentar tapi nyeseknya berhari-hari. Alhamdulillah aku masih bisa tidur.

Sementara sebelumnya kekalahan Juve di final 2015 melawan Barcelona bisa aku atasi dengan bersedih dan merenung lalu tak mengonsumsi berita kekalahan tersebut selama beberapa hari maka kali ini cara tersebut gagal.

Akhirnya, aku menulis ini demi melegakan diri sendiri. Agar ia tak terasa seperih waktu dirasakan saat kekalahan itu terjadi. Saat aku menulis ini aku masih belum sanggup membaca berita tentang Juve paska keok dari El Real. Aku belum membuka Twitter, media sosial dimana aku cukup sering berkomunikasi dengan kawan sesama Juventini. Paling sesekali membuka foto pemain Juventus, terutama Gianluigi Buffon, melalui Instagram. Entahlah. Aku masih belum sepenuhnya berani menyelami luka itu. Aku belum 100% menerimanya. Sebab kali ini sungguh di luar dugaan. Well, terlalu menyakitkan untuk dibahas jalannya laga tersebut.

Juventus kalah oleh dirinya sendiri. El Real memang bermain konsisten tetapi Juve sebenarnya sanggup mengalahkannya, tidak seperti saat menghadapi Barcelona. Tetapi Juve di babak kedua bukanlah Juve yang aku kenal setidaknya sepanjang musim 2016/2017. Aku nggak kenal Juve di paruh kedua laga itu. Linglung, tidak berdaya oleh serangan lawan yang sesungguhnya tidak begitu spektakuler. Juve lemas, entah karena apa. Lini tengah bermain acakadul. Bagian depan mandul. Operan bola terkadang tak akurat. Semua pemain Juve seolah menjadi orang lain yang bertanding jauh di bawah penampilan terbaik mereka, well, penampilan standar mereka selama musim yang sangat luar biasa 2016-2017 ini.

Aku nggak kenal Juve. Tetapi aku tetap menonton dengan raut nanar. Antara heran, sedih dan berharap keajaiban. Aku nggak mengira Juve bermain sangat anti klimaks. Ini sungguh di luar nalarku. Gelimangan gelar juara dan trofi domestik, bahkan baru dua tahun sebelumnya maju ke partai puncak pun tak menjamin Si Nyonya Tua terbebas dari kungkungan tantangan mental yang memang cuma bisa ditaklukkan usai berkali-kali gagal di final.

Tetapi kamu sudah enam kali gagal di final sebelum Minggu dini hari tersebut, Juveku, tidakkah itu angka yang terlampau banyak?

Untung selama menonton aku tidak teringat kebersamaanku dan Juve saat masih di bangku SMP dan SMU. Kesemuanya hilang sebab wajah seakan tak percaya begitu mudah gawang Gigi Buffon dijebol empat kali oleh El Real.

Bersyukur juga SCTV tak banyak menyorot Juve pas laga berakhir. Baru kali ini aku berharap pemain Juve kena sorot kamera kekalahan. Begitu kamera menangkap ekspresi wajah mereka, satu-satunya pemain yang paling harapkan sekaligus aku hindari ingin dilihat memunculkan raut yang datar. Bahkan aku sempat melihat Gianluigi Buffon bercakap dengan Andrea Barzagli. Mungkin untuk menghibur diri mereka sendiri.

Atau Gigi terlihat bisa menahan sedih. Baru hari ini aku melihat Gigi memang menangis. Aku baru tega menyaksikan itu hari ini. Aku pengin banget sebenarnya Juve menang malam itu, bukan buat menuntaskan penantian 20 tahun sebagai Juventini tetapi aku ingin Juve menang buat Gigi Buffon.

Tiga kali tampil di final lalu musim 2017/2018 kemungkinan jadi musim terakhirnya, Gigi tinggal punya satu kali kesempatan lagi merengkuh trofi Liga Champions. Gelar yang belum pernah ia raih bersama Juve. Semoga tahun depan jadi tahun keberuntungannya dan bisa menang setelah tiga kali mengecap pahitnya dipecundangi tim-tim lawan, amiiiin.

Tulisanku kali ini sengaja tidak berisi foto-foto pas laga tersebut sebab ya aku masih butuh waktu untuk ikhlas. Tetapi setidaknya menulis ini sangat teramat membantu mengalirkan emosi yang tersumbat di hati dan otak hampir dua hari belakangan ini. Itulah gunanya menulis. Dan aku beruntung banget dikasih hobi seperti ini, yang berkali-kali terbukti membantuku di masa-masa sulit dan menyesakkan dada seperti saat ini.

Ditulis dengan sedikit kekecewaaan namun selalu berlimpah rasa cinta..

Selalu dan selamanya.. Fino. Alla. Fine. Forza. Juventus.

 Foto diambil dari sini

  • view 384