Akhirnya Aku Merasakan Tersiksanya Menulis Cerpen

Eny Wulandari
Karya Eny Wulandari Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 24 Mei 2017
Akhirnya Aku Merasakan Tersiksanya Menulis Cerpen

Beberapa minggu terakhir aku menulis cerita pendek, akhirnya. Aku memasukkan kata ‘akhirnya’ sebab setelah sekian tahun membaca, mengulas lalu menulis kritik buku atau novel, jari ini berani juga mengeksekusi ide yang mangkrak di kepala.

Sebenarnya motivasi utama mengapa aku menulis fiksi dalam Bahasa Inggris lantaran aku mulai putus asa dengan upayaku menulis novel berbahasa Indonesia. Sungguh susah payah aku mengutarakan ide yang cukup lama terpendam menjadi cerpen berbahasa ibuku ini. Menyaksikan betapa beberapa awal bab pertama si jabang novel ini terbaca kaku membuatku ingin berteriak. Ternyata hobi membacaku sedari kecil belum ada apa-apanya jika harus menulis karangan sendiri. Aku jadi tersadar hidup sebagai pembaca dan sebagai penulis itu bak bumi dan langit. Jauh sekali rasanya.

Saking kesal karena hal tersebut akhirnya aku menulis cerpen dalam Bahasa Inggris. Jadi bisa dibilang ini seperti upaya balas dendam atau mencoba melegakan diri sendiri. Aku pikir setidaknya aku memulai sesuatu meski aku yakin tata bahasa masih acakadul lalu kosakata seadanya. Aku memulai dulu.

Dan kalian tahu rasanya bagaimana?

Begitu memutuskan akan menulis cerpen, aku seperti terikat kontrak jangka pendek yang harus segera dilunasi. Jika tidak aku bisa seperti dikejar-kejar maling. Ini bukan melebih-lebihkan. Faktanya, akhir pekan aku harus habiskan menyelesaikan cerpen pertamaku. Berawal dari mengetik beberapa kata favorit siapa sangka aku sendiri suka lalu berlanjut hingga aku ‘memaksa diriku’ merampungkan apa yang sudah aku mulai.

Jujur aku puas dengan fiksi pertamaku dalam artian aku menikmati setiap proses per paragrafnya. Aku belajar mengingat bagaimana novel favoritku menjabarkan keindahan alam atau proses polah manusia ke dalam fiksi ini. Layaknya murid, aku menerapkan apa yang aku tahu selama aku membaca BERTAHUN-TAHUN. Walau pada akhirnya aku cuma bengong lalu berujar,” Jadi gini doang hasilnya setelah membaca buku klasik sekian tahun? Gini doang? Ckckck.”

Aku pun ketagihan. Langsung aku menulis fiksi kedua dengan topik berbeda, cara penulisan yang berbeda jauh. Kali ini aku mencoba agak kritis dan lebih banyak dialog. Nah yang kedua ini beneran bikin tersiksa. Tak hanya aku sempat bingung dengan ‘mau dibawa kemana tulisan ini’ saat menyentuh 2/3 bagian akhirnya aku juga ‘tersesat’ di jalan cerita yang aku bangun sendiri. Aku malah terkejut dengan hasil akhirnya, walah!

Karena inilah aku pun buru-buru ingin menyelesaikannya, bukan karena tak sabar melihat hasil akhirnya seperti fiksi pertama tetapi semata ingin merampungkan apa yang aku mulai tak peduli apa pun hasilnya. APA PUN.

Dari cerpen kedua inilah aku belajar banyak hal yang aku tidak tahu. Mulai dari konsep fiksi yang memang tidak jelas dari awal, eksplorasi karakter yang dibuat terlalu minim hingga alur yang memang sangat tergesa-gesa. Jelek dah pokoknya!

Pengalaman menulis keduanya sangat menyiksa sebab aku harus menyelami proses kreatifnya meski sungguh berat, sangat sulit sekaligus menantang. Aku berhasil menyelesaikannya sebab aku menulis dalam Bahasa Inggris, yang memang selalu membuatku penasaran sedari awal aku mengetahuinya. Untuk saat ini itu sudah cukup. Aku sudah memulai dan bisa menyelesaikannya. Dengan susah payah dan berdarah-darah, wkwkwk!

Itu dulu. Judul berikutnya aku belum siapkan lagi. Sebab sekali memunculkan ide dan memutuskan untuk menuliskannya aku harus berkomitmen merampungkannya, cepat atau lambat. Dengan cara apa pun.

Aku belum siap menyiksa diriku sendiri untuk kali ketiga..Begitu.

Oh ya, ini cerpen yang aku maksud:

Fiksi pertama

 Fiksi kedua

Foto diambil dari sini

  • view 111