Empat Hal yang Disadari Penulis Saat Menonton Film Tentang Penulis

Eny Wulandari
Karya Eny Wulandari Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 05 April 2017
Empat Hal yang Disadari Penulis Saat Menonton Film Tentang Penulis

Walau saya bukan sepenuhnya resmi sebagai penulis tetapi buat saya film yang paling saya tunggu dan paling membuat saya ‘klik’ adalah film yang menceritakan tentang penulis, sastra, buku dan yang terkait.

Buat saya itu adalah film yang memang tentang ‘saya’ meski ya, itu tadi, saya masih bukan penulis profesional. Film jenis ini seakan ‘menceritakan’ tentang saya dan banyak kutu buku atau penulis profesional atau blogger atau penulis pejuang di luar sana.

Saat menonton film ini ada banyak hal yang bisa saya rasakan, banyak di antaranya yang membuat saya menyeringai sebab merasa tersindir atau mengangguk-angguk sebab mengiyakan maksud si sutradara. Secara keseluruhan, menonton film jenis ini membuat saya terwakili.

Berikut beberapa keterwakilan film jenis ini berdasarkan apa yang saya alami saat menonton film ‘Post Grad’, ‘Gilmore Girls, ‘Genius’, ‘Dead Poets Society’  dan ‘You’ve Got Mail’. Sudah pasti kesemuanya film dan serial favorit saya hingga kini.

  1. Saya menyadari penulis itu makhluk yang keras kepala

Dalam salah satu adegan film ‘Genuis’ (2016), editor Mark Perkins berdebat sengit dengan penulis yang saat itu masih merintis karir, Thomas Wolfe. Mulai dari memangkas jumlah halaman dalam novel debut Thomas Wolfe, yang lalu diberi judul ‘Look Homeward, Angel’ hingga edit habis-habisan dalam novel keduanya, ‘Of Time and the River’.

Thomas berusaha mendebat keras saran Mark atas dua kasus tersebut. Ia membela karya fiksinya dengan berbagai alasan. Tetapi Mark berhasil membuat Thomas mengalah dengan alasan yang cerdas. Thomas yang keras kepala pun akhirnya luluh setelah memang tak sanggup melawan perkataan Mark. Untungnya Thomas mengalah sebab pada akhirnya dua novel tersebut laris manis di pasaran.

  1. Kutu buku dan penulis itu orang aneh

Salah satu karakter fiktif favorit saya adalah Rory Gilmore sebab dia maniak buku. Pada akhirnya pun ia menempuh karir sebagai seorang penulis. Salah satu keanehan yang saya paling ingat adalah ketika saat memakai gaun pesta untuk ke pesta sekolah pun, Rory membawa buku. Ia menyelipkan buku ke dalam rok sebelum ia mengenakan gaun pesta. Antara ingin tertawa geli saya jadi sadar saya sering membawa novel hampir di setiap saya pergi. Meski saya tahu saya akan bertemu kawan baik tetapi tetap saja buku masuk ke dalam tas. Orang lain mungkin menganggap saya aneh tetapi saya yang akan merasa aneh jika novel saya diamkan di dalam kamar. Padahal belum tentu novel itu saya baca juga loh. Ya aneh, memang saya aneh.

  1. Kutu buku dan penulis memang mempunyai dunia mereka sendiri

Saat mereka membaca atau menulis, kutu buku atau penulis memang autis. Mereka hidup dalam karakter yang dibaca atau ditulis. Mereka bisa yang benar-benar lepas dari dunia nyata saat itu. Tak cuma demi menyelami kata yang dicerna atau dibuat, mereka larut dalam kerja otak dan pikiran, kadang hati yang secara otomatis melambungkan mereka ke dalam dunia kata yang mereka nikmati. Membaca atau menulis bagi mereka memang benar-benar tempat mereka ‘pergi’, ‘beristirahat’ atau ‘berpetualang’ tergantung jenis hiburan apa yang mereka cari.

  1. Jika kutu buku dan penulis sudah mencintai apa yang mereka lakukan, mereka sulit dihentikan

Satu kutipan yang diucapkan oleh Robin Williams dalam ‘Dead Poets Society’ yang paling saya ingat adalah ini:

"We don't read and write poetry because it's cute. We read and write poetry because we are members of the human race. And the human race is filled with passion. And medicine, law, business, engineering, these are noble pursuits and necessary to sustain life. But poetry, beauty, romance, love, these are what we stay alive for."

Saat saya masih duduk di bangku SMU saya pernah berucap puisi itu tidak penting. Sastra tidak bisa buat orang kaya. Siapa nyana saya akhirnya masuk jurusan Sastra Inggris, yang sempat saya benci. Siapa sangka pula berkat masuk jurusan tersebut saya jadi paham benar belajar sastra itu penting sebab mengajarkan siapa pun mau berani mengejar mimpi yang memang berasal dari HATI.

Belajar sastra membuat saya berani memutuskan sesuatu meski di luar kebiasaan banyak orang. Saya pikir berani mengikuti kata hati itulah yang membuat penulis, pemusik, siapa pun yang bekerja di dunia kreatif bekerja di luar nalar terkadang. Mereka bisa begadang sampai pagi. Sulit membendung keinginan mereka kecuali dari diri sendiri.

Gambar diambil dari sini

 

  • view 217