Yang Orang Mungkin Lupa tentang Filosofi Hidup Modern Minimalis

Eny Wulandari
Karya Eny Wulandari Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 01 Maret 2017
Yang Orang Mungkin Lupa tentang Filosofi Hidup Modern Minimalis

Modern minimalis paling sering didengungkan pebisnis ‘real estate’. Jualan rumah tipe macam begini memang masih jadi incaran banyak orang, khususnya yang tinggal di perkotaan. Lahan yang terbatas dan serba mahal jadi faktor konsumen masih memfavoritkan tipe rumah jenis ini.

Di luar negeri, gaya hidup modern minimalis sudah jauh berkembang melampaui mencari rumah dengan tipe ini. Jika inspirator masih awam dengan filosofis hidup ini, kalian bisa membuka media sosial, terutama Instagram, dimana banyak bertaburan foto desain rumah atau apa pun yang terlihat indah meski serba minimal, tak banyak dekorasi. Identik dengan hitam dan putih.

Modern minimalis tak hanya seputar irit tempat atau biaya. Kalau hanya ini yang ada di otak maka menganut filosofi hidup seperti ini mirip dengan hidup hemat. Menerapkan gaya hidup ini pun tak sekadar membuang yang tidak perlu atau tidak lagi dipakai. Minimalisme berbicara lebih jauh tentang pandangan hidup yang hanya berfokus pada hal-hal penting dalam, ini bisa berbeda-beda tiap orang.

Minimalisme lebih baik berawal dari hati. Ini bisa dimulai dengan menentukan apa tujuan kita hidup lalu menentukan beberapa hal untuk mendukung kita mencapai tujuan besar tersebut. Satu kalimat yang terdengar sederhana bukan? Sederhana menulis tetapi sulit untuk mencapainya. Dibutuhkan proses seumur hidup menyingkirkan hal-hal yang merintangi pencapaian tujuan besar itu.

Sebenarnya dalam hidup kita tidak butuh banyak. Menyadari ini sudah hal yang bagus tetapi tentu tidak cukup berhenti di sini. Justru ini jadi awal baru yang membutuhkan kerja keras panjang untuk tahu dan konsisten mencapai tujuan hidup kita.

Kalau kamu ingin sehat, mengapa masih merokok? Kalau kamu ingin dicintai buat apa masih menahan memberi perhatian pada orang lain? Jika kamu ingin kaya mengapa masih suka menghambur-hamburkan uang membeli barang yang tidak kamu butuhkan? Kalau kamu ingin bahagia mengapa masih terus saja memilih merenungi kekurangan dalam diri sendiri?

Jika kamu ingin bertarung, berperanglah melawan pikiran negatif dan suara buruk dalam dirimu. Satu-satunya orang yang paling layak kamu ajak bersaing adalah diri sendiri, bukan orang lain.

Kalau sudah paham lalu setidaknya berupaya benar-benar menerapkan hidup minimalis maka membuang atau mendonasikan baju yang sudah tak layak pakai, memberikan majalah yang sudah pernah dibaca ke orang lain atau menahan diri berbelanja barang yang memang disadari tidak dibutuhkan akan terasa lebih mudah sebab hati perlahan seirama dengan tujuan hidup.

Aku kasih tahu deh. Di zaman yang konsumerisme, instan dan meminta manusia untuk terus ‘online’ setiap saat, menerapkan prinsip hidup ini sungguh banyak godaannya. Tahu-tahu duit melayang buat nongkrong di kafe entah untuk kesekian kali dalam seminggu atau jajan cemilan yang cuma buat memuaskan nafsu lidah semata.

Setidaknya sudah tahu akar hidup minimalis atau sederhana yang sesungguhnya. Teguh menjalankannya persoalan yang memang lebih pelik. Tenang saja banyak yang jatuh bangun kok, salah satunya aku, yang masih sering minum kafein, hehehehe..

 Foto diambil dari sini.

  • view 271