Setiap jiwa pemimpin bagi dirinya sendiri

Eny Wulandari
Karya Eny Wulandari Kategori Renungan
dipublikasikan 01 Februari 2017
Setiap jiwa pemimpin bagi dirinya sendiri

Saya sebenarnya paling menghindari menulis topik tentang agama sebab tanggung jawabnya yang saya nilai terlalu berat bagi saya. Saya takut salah. Tetapi berhubung melihat banyak sekali unggahan kurang menyenangkan di akun media sosial saya dan saya yakin banyak yang mengalaminya sebab sedang hangat dibicarakan, saya ingin bersuara mengenai topik ini. Sebab tak selamanya diam itu baik. Sudah jadi tugas bagi seorang muslim untuk mengingatkan diri saya sendiri dan siapa pun yang berkenan membaca tulisan saya ini.

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” – Q.S. Al-Israa’ [17]: 36

Ayat tersebut menjelaskan perintah yang cukup berat bagi setiap manusia hidup di dunia ini: belajar. Ia harus tahu mengapa ia melakukan ini dan itu, mengikuti ini dan itu. Menarik garis besar secara lurus dengan melandaskannya pada Al-Qur’an dan hadits. Setiap ucapan dan perbuatan akan dimintai pertanggung jawabannya kelak di akherat. Bahkan ketika apa yang kita lakukan kita mengetahuinya dari ulama atau tokoh terkenal sekali pun.

Saya ingin berusaha menjadikan apa yang saya dengar dan ketahui dari ulama atau buku atau sumber di internet sebagai ajakan bagi saya untuk belajar sendiri dari sebaik-baiknya sumber, yakni Al-Qur’an dan hadits. Sebab secerdas-cerdasnya manusia, dia pasti ada kekurangan. Hanya Al-Qur’an yang saya nilai benar mutlak sebab dia adalah sabda dari Alloh swt, yang Maha Tahu.

Sejatinya, setiap hari seharusnya kita belajar. Sepantasnya pengetahuan yang kita peroleh dari manusia menjadi bahan untuk merenung, mempertanyakannya kembali, mengkajinya dari sebenarnya-benarnya ilmu, Al-Qur’an. Bukan menelannya mentah-mentah.

Saya selalu percaya semakin kita belajar semakin kita paham kita tidak tahu apa-apa. Makin banyak yang kita ketahui kita akan belajar menjaga mulut dan ucapan kita. Lebih baik diam daripada berbicara menyakitkan hati orang lain.

Makin banyak ilmu yang didapat makin kita menaruh hormat pada orang lain sebab kita belum tentu lebih baik dari mereka. Menghina, mencaci, merendahkan orang lain atas alasan apa pun menurut saya hanya akan menurunkan harga diri sendiri. Saya sendiri kurang hormat pada mereka yang meskipun berpendidikan tinggi tetapi berbicara kasar.

Tetapi juga bukan berarti saya selalu berpihak kepada mereka yang selalu bermulut manis sebagai kamuflase, atau topeng atas keburukan yang mereka lakukan. Bahkan saya pun diminta belajar menilai perilaku orang lain, yang buruk tidak diikuti, yang baik dicontoh. Sekali lagi, tidak menelannya mentah-mentah.

Saya sudah tak intens mengikuti perkembangan isu terkini, apalagi kini terkait dugaan kasus penistaan agama, saling lapor-melapor atas dugaan terkait agama juga, dan lainnya. Saya sudah kadung miris dan sedih melihat kawan-kawan baik saya saling mengejek di media sosial untuk hal yang masih belum pasti.

Jikalau teringat setiap jiwa yang diberi kesempatan hidup memang bertugas untuk belajar tidakkah merasa gelisah saling hina seperti itu? Bahkan termasuk menghina tokoh publik yang tidak dikenal secara langsung. Bukankah setiap unggahan status, foto, video dan apa pun di ranah media sosial pun kelak akan dimintai pertanggung jawabannya nanti di akherat?

Kembali ke judul dalam tulisan saya ini, tidakkah kita ingin memimpin diri kita sendiri menjadi manusia yang lebih tenang dan lebih memilih berfokus pada solusi ketimbang koar-koar untuk hal yang kita belum tahu pasti kebenarannya?

Tiap jiwa memimpin dirinya sendiri, mengarahkannya ke jalur yang suka menghujat, tidak mau tahu atau memilih menyerahkannya pada pihak yang berwenang. Apa yang dipilih itulah yang jadi arah hidup kita kemudian.

Hanya mengeluarkan uneg-uneg. Bukan untuk menggurui. Saya sangat jauh dari sempurna. Semua kesalahan sepenuhnya kembali kepada saya. Kebenaran milik Alloh swt semata. Mohon maaf jika ada pihak yang tersinggung. Terima kasih.

Gambar diambil dari sini.