Lima Hal Buruk yang Sering Dilakukan Pekerja Industri Kreatif

Eny Wulandari
Karya Eny Wulandari Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 25 Januari 2017
Lima Hal Buruk yang Sering Dilakukan Pekerja Industri Kreatif

Bekerja di industri kreatif melahirkan dua hal yang seperti kata pepatah, dua sisi mata uang. Di satu sini, karena kreatif maka ide apa pun tidak ada yang salah. Setiap hari akan ada banyak gagasan bermunculan di kepala. Setiap kali bertemu orang atau melihat suatu peristiwa radar otak akan selalu berbunyi, memproses mana yang bisa dituangkan menjadi karya tertentu.

Seolah otakmu selalu bekerja. Susah sekali benar-benar beristirahat sebab sekali kamu menjadikan kesukaanmu menjadi mata pencaharian maka setiap kali kamu bangun maka otakmu akan bekerja secara otomatis. Dengan kata lain, pekerjaanmu melekat dalam dirimu saat kamu terjaga. Sebab engkau tidak bisa hidup tanpa melakukannya.

Jadi kamu terus berproses mencari ide, ada yang memang kamu mengalokasikan waktu dan energi untuk mencari ide tetapi ada pula yang secara tidak sengaja bertebaran di kepala kamu.

Ada kalanya kamu bersyukur sebab bekerja di industri kreatif adalah yang memang kamu inginkan maka akan ada banyak kesempatan kamu tak perlu susah payah menggali gagasan.

Tetapi jika menjumpai kondisi dimana otak sedang kosong maka kamu bisa marah-marah sendiri. Hal ini karena engkau paham benar semakin susah kamu menggali gagasan maka biasanya hasilnya akan kurang baik. Engkau sadar betul karya yang bagus adalah yang dibuat secara nyaris tanpa usaha, mengalir bak air deras dari otakmu, bahkan dari hatimu. Dan untuk melakukannya kamu harus melampaui proses menyebalkan hampir setiap hari, yang baru akan kamu lewati setelah bertahun-tahun. Bahkan label penulis atau penyanyi terkenal pun tak dijamin bisa lolos dari proses menjengkelkan seperti di bawah ini:

  1. Menunda

foto diambil dari sini

Ini yang biasa saya lakukan saat berada di fase ini; berselancar di dunia maya, membaca artikel online, beberapa yang bahkan telah saya baca berulang kali, membuka media sosial, dan sebagainya. Menunda dan menunda sebagai aktivitas perlawanan duduk mengakrabi ide yang telah bertebaran di kepala.

  1. Minum kopi atau ngemil

foto diambil dari sini

Setelah saya menemukan ide bagus terkadang hal yang saya lakukan justru membuat kopi atau ngemil. Alasan pertama sih biar menulis makin mengalir dengan menyeruput kopi tetapi sesungguhnya saya sedang melawan diri sendiri untuk menulis alias cari alasan biar tetap malas.

  1. Ke toilet

foto diambil dari sini

Sama halnya dengan ngopi, hal menuju proses malas yang saya lakukan adalah pergi ke toilet. Walau memang alasan utama karena ingin buang air kecil tetapi menyelinap juga alasan ingin tidak menulis kreatif saat buang hajat.

  1. Mendengarkan musik

foto diambil dari sini

Ini yang paling susah sebenarnya. Setiap kali bekerja otak saya bekerja dua fungsi, yang satu bekerja yang sesungguhnya sedangkan yang lain mencerna musik. Terkadang menikmati lagu favorit bisa membuat otak rileks dan lebih fokus tetapi kadang juga malah membuat kurang cepat dalam bekerja. Baru-baru ini saya coba untuk mengurangi mendengarkan lagu.

  1. Chatting

foto diambil dari sini

Tangan terasa gatal jika melihat ada pesan masuk ke smartphone dan langsung ingin membalas pesan tersebut. Mata juga ingin sekali melihat foto-foto teman terbaru di media sosial. Sungguh smartphone adalah godaan hebat yang bisa mengganggu proses otak bekerja.

Hampir setiap hari saya melakukan keburukan tersebut. Saya selalu berjuang keras agar tetap bisa melewati itu semua. Saya belajar agar saya tetap produktif setiap hari. Perjuangan sulit yang selalu terbukti akan berbuah manis usai saya menyelesaikan kalimat terakhir dari setiap postingan di Inspirasi.co atau media mana pun plus rasa lega dan puas.

 Foto thumbnail diambil dari sini.