Mengulang Kembali 'Junk Journaling'

Eny Wulandari
Karya Eny Wulandari Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 18 Januari 2017
Mengulang Kembali 'Junk Journaling'

Saya tidak ingat kapan memulainya tetapi saya mempunyai satu buku tulis berwarna biru yang hampir setiap hari saya selalu bawa pergi beraktivitas. Tidak cuma ke kantor tetapi juga saat menghadiri acara komunitas saya.

Lama-kelamaan ia seperti novel atau antologi cerpen yang biasa jadi teman saya pergi. Dalam buku biru itu saya menulis daftar yang harus saya kerjakan hari itu. Awalnya hanya itu yang saya tulis tetapi lambat laun saya menulis hampir apa saja di dalamnya. Kini buku itu hampir habis halamannya sebab saya isi dengan sampah yang ada di kepala saya.

Ada hal-hal yang terkait dengan komunitas saya, seperti hasil rapat, lalu hal-hal yang belum saya kerjakan hingga puisi pendek sampai cerita pendek. Buku yang isinya hal kecil tersebut lambat laun jadi bagian dari proses kreatif saya. Selalu ada lega setiap kali usai menuangkan apa yang ada di kepala ke dalam buku tersebut.

Rasanya lucu memulai kembali menulis tangan dalam buku semacam ini. Dulu sewaktu kecil saya suka sekali menulis buku harian atau diary, hehe.. Jangan salah loh. Kebiasaan kecil ini membuat saya jadi getol menulis, meski yang ditulis terkadang nggak penting, lebih banyak nggak pentingnya sih..

Saya belajar menulis kembali berita dari radio atau menuliskan lirik lagu favorit saya sewaktu remaja juga melalui buku harian atau jurnal sampah semacam ini. Hobi sepele yang sungguh tidak terkira ikut membentuk saya suka menulis dan membaca.

Bertahun-tahun saya sudah berhenti menulis tangan dalam buku harian atau jurnal sampah. Selain karena lebih senang mengetik di laptop toh saya sudah punya smartphone, tinggal ketik jadi deh. Jauh lebih bisa ditenteng pula.

Entah kapan saya kembali menekuni tulis-menulis tangan di jurnal sampah lagi. Awalnya bagaimana saya lupa. Yang pasti jika pikiran pusing dan kalut, saya segera ambil pena dan menulis apa yang menjadi agenda saya hari itu. Kadang saya juga hanya mencorat-coret ide menulis yang ada di benak. Sekadar berbagi di kertas, itu sudah sangat membantu dalam mengangkat beban di kepala.

Ada lumayan kepuasan tersendiri memaksa diri menulis menggunakan pena. Teringat masa dimana saya menulis memakai pena saat sekolah dan kuliah. Pena yang membuat saya terjun jadi wartawan. Dulu saat saya ulang tahun ke-23, sahabat baik saya, Kiki, bahkan menghadiahi saya pena bermerk favorit saya berjumlah 23. Sahabat saya ini tahu betul saya ingin menjadi wartawan dengan menulis menggunakan pena merk itu.

Saya pernah menulis cerpen dalam buku sampah ini. Karena sudah lama tidak menulis panjang memakai pena, awalnya terasa agak berat menyelesaikan tulisan cerpen berhalaman-halaman itu. Ketika sudah merampungkannya saya sangat puas. Melampaui rasa malas, mengulang nostalgia masa menjadi mahasiswi.

Ada rasa kepuasan batin tersendiri masih menulis tangan, ingatan yang lebih lama dibanding mengetik. Seperti ada rasa bangga tersendiri menutup lembar novel terakhir dibandingkan membaca e-book. Tidak semua yang cepat dan mudah memuaskan dahaga banyak orang, salah satunya saya dan menulis tangan.

Gambar diambil dari sini.