Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 11 Januari 2017   14:02 WIB
Berkutat dengan Cerpen Robert Louis Stevenson yang Bikin Pffhh..

Saat ini aku membaca cerpen Robert Louis Stevenson, ‘The Treasure of Franchard’, kisah pendek ke-7 atau terakhir karangan penulis kenamaan asal Skotlandia tersebut dalam antologi yang aku beli ‘Dr Jekyll and Mr Hyde with The Merry Men & Other Stories’ edisi Wordsworth beberapa bulan silam.

Sebenarnya aku bukan penyuka cerpen sebab tipe penulisannya yang cenderung pendek membuatku kurang merasa terpuaskan. Banyak yang biasanya kurang dijelaskan secara maksimal. Sehingga membaca cerpen menjadi hal yang kurang aku lakukan hingga akhirnya aku benar-benar terbuai dengan ‘Dr Jekyll and Mr Hyde’. Aku bahkan dua kali membaca cerpen ini. Tulisan ini termasuk yang paling menginspirasi aku ingin menulis buku suatu hari nanti.

Jadi saat aku melihat kumpulan tersebut langsung saja aku embat dan bawa ke kasir tanpa pikir panjang. Aku berharap bisa menikmati cerpen Robert Louis Stevenson seperti pengalamanku dengan ‘Dr Jekyll and Mr Hyde’. Kenyataannya...

Robert Louis Stevenson mempunyai banyak sisi yang dia tuangkan ke dalam enam cerpen di sini. ‘The Merry Men’ menguak sisi Robert Louis Stevenson yang penyuka laut, pencinta cerita rakyat. Tulisan ini cukup berat baik secara harfiah sebab banyak mengangkat aksen Skotlandia. Secara isi, cerpen ini jadi pembuka yang lumayan filosofis dan ‘dalam’ dalam balutan bahasa yang ironis.

Lalu, ‘Will O The Mill’, tipikal tulisan yang aku sukai. Mengangkat kisah hidup secara umum, reflektif, tema sederhana. Jenis kisah yang bisa kamu bawa dalam hati dalam kurun waktu yang lama. Tetapi lagi-lagi, ceritanya sedih. Bahkan terlampau menyesakkan dada. Berbeda dengan ‘The Merry Men’, kali ini bahasa yang dipakai Robert Louis Stevenson lumayan tidak terlalu berat.

‘Markheim’ kisah yang paling nanggung dan paling tidak aku sukai di sini walau membaca intronya mengingatkanku pada ‘Dr Jekyll and Mr Hyde’. Membaca ini membuatku sadar cerpen yang kurang komplit cuma menyisakan rasa ketidakpuasan pada pembacanya. Banyak detail yang kurang lengkap, akhir yang hambar..

‘Thrawn Janet’, cerpen yang paling bikin aku pusing sebab hampir seluruh isinya ditulis menggunakan bahasa aksen Skotlandia, lagi. Menyiksa sekali membaca cerpen ini tetapi aku berhasil menyelesaikannya secara susah payah sebab aku berjanji pada diriku merampungkan apa yang telah aku beli. Baru kali ini aku membaca sesuatu yang saat aku selesai membacanya aku tidak tahu apa yang aku baca.

Yang ini bagus, ‘Olalla’. Cerpen ini mengingatkan masa-masa sastra Gothic saat masih kuliah dulu. Misterius, agak mencekam dan banyak teka-teki. Tipe cerpen yang lumayan sukses membuatku menerka apa yang akan terjadi di akhir kisah. Cerpen ini bagus, berat seperti biasanya tetapi sayang banyak pertanyaan penting yang tak terjawab hingga cerita berakhir.

Terakhir, ‘The Treasure of Franchard’ yang sedang aku nikmati saat ini, yang bagiku paling seru dan ringan sekaligus menyenangkan. Robert Louis Stevenson tetap memasukkan karakter yang luar biasa, kali ini ironis di balik sikap mereka yang membuatku tertawa. Aku belum menyelesaikan yang ini.

Secara garis besar, Robert Louis Stevenson penulis yang cukup variatif dalam memilih tema menulis, sangat piawai mengeksplorasi karakter manusia dan banyak yang bercerita soal sisi gelap individu, tak jarang ada yang benar-benar ekstrim.

Membaca karya-karyanya menghadirkan tantangan tersendiri plus pastinya sensasi rasa yang beraneka rupa. Terima kasih telah menulis banyak karya hebat, Robert Louis Stevenson. Aku mengagumi tulisan-tulisanmu.

Detil masing-masing cerpen silahkan dilihat di blog pribadi saya: www.enywulandari.com

Foto diambil dari sini.

Karya : Eny Wulandari