Masih Juga Ketagihan Baca Artikel 'Self-Help'

Eny Wulandari
Karya Eny Wulandari Kategori Buku
dipublikasikan 11 Januari 2017
Masih Juga Ketagihan Baca Artikel 'Self-Help'

Menurutku jenis artikel yang paling memberikan rasa campur aduk saat membacanya adalah tulisan tentang self-help, yang memotivasi orang agar hidup positif, mengajak orang untuk berbahagia, melihat hidup setengah gelas penuh.

Kadang aku berpikir artikel seputar topik tersebut nggak penting. Bukankah menguasai diri sendiri, memotivasi diri sendiri menjadi manusia yang lebih baik dan bahagia tiap harinya tak butuh guru atau motivator? Bukankah bahagia itu perkara pilihan? Bukankah sedih atau bingung sesekali tidak akan membuat hidupmu gagal?

Sewaktu aku kuliah aku suka membaca buku self-help yang hampir secara keseluruhan isinya positif, menularkan nada senang pada siapa pun yang membacanya. Aku cukup rajin membaca tulisan seperti ini hingga akhirnya seorang dosen, yang paling aku kagumi, mentah-mentah mengaku sebal dengan bacaan seperti itu. Entah memang karena dosenku ini orang yang tipikal realistis cenderung skeptis dan sarkastis, tetapi omongan beliau ada benarnya juga. Ya maklum waktu itu aku masih polos belum kenal buruknya dunia, LOL! Jadi bacaan self-help pun yang aku baca memang condong berat ke indahnya dunia, terkesan naif.

Aku berhenti membaca bacaan semacam ini cukup lama. Hidupku habis buat kerja. Buku atau artikel yang aku baca hampir semua tentang berita, isu terkini, novel sastra yang memang berat.

Berawal dari membuka tautan salah satu akun di Twitter, aku menemukan situs bernama Thought Catalog. Lalu aku klik. Pertama membaca judulnya aku langsung terkesima. Hampir semua artikel di situs ini tentang self-help tetapi dengan nada yang berbeda dengan buku self-help yang pernah aku baca waktu kuliah.

Artikel di Thought Catalog mengajak siapa pun hidup apa adanya; kalau kami sedih ya jangan menghindar dari kesedihanmu, kalau kamu mau bahagia caranya nggak serumit yang kamu bayangkan. Yang terlebih paling asyik aku banyak mengenal cara mencintai diri sendiri. Beberapa tahun rajin menyambangi situs ini satu hal yang paling mengena di hati adalah aku belajar menjadi sahabat terbaik bagi diriku sendiri tanpa menjadi orang yang egois.

Tak seperti tulisan di buku self-help yang aku nikmati saat kuliah yang memang benar kata dosenku terkesan naif dan munafik, tulisan di Thought Catalog banyak yang realistis, terkadang idealis, bahkan tak segan si penulis mengejek dirinya sendiri, menertawakan kebodohan yang pernah ia perbuat, yang kalau aku renungkan aku pernah melakukannya. Aku mulai ketagihan membaca artikel self-help lagi tetapi dengan gaya yang lebih baru, mungkin seiring dengan umur dan pengalaman hidupku yang bertambah.

Sampai sekarang aku masih suka membaca artikel di Thought Catalog walau tak sesering dulu. Hal ini karena kualitas agak menurun, mulai banyak membahas tentang budaya Barat, ada pula yang naif (lagi), dan lainnya. Poinnya adalah aku suka bertanya-tanya apa yang membuat tulisan macam beginian laris manis dibaca orang? Apa karena ini yang memang mereka butuhkan?

Kadang membaca tulisan semacam ini membuatku berpikir: kayak gini aku juga sudah tahu caranya tetapi mengapa aku masih mau membacanya? Aku berpikir seperti itu tetapi tetap saja aku membaca tulisan seperti ini selama berjam-jam dalam sehari. Kadang berpikir mending waktu membaca tulisan jenis ini aku pakai buat membaca novel atau cerpen. Tetapi entahlah..

Tulisan self-help benar-benar membuatku ketagihan. Dan sampai sekarang aku belum benar-benar berhasil melepaskan diri dari hal itu, terutama saat sedang bete atau bosan. Membaca artikel self-help memberi kesejukan tersendiri.

Mungkin memang aku tak perlu total berhenti. Cukup menahan diri biar nggak terlalu ketagihan, hehe..

Gambar diambil dari sini.

  • view 185