Menjaga Agar Asa Media Cetak Tetap Membara

Eny Wulandari
Karya Eny Wulandari Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 22 Januari 2016
Menjaga Agar Asa Media Cetak Tetap Membara

Digitalisasi kembali memakan korban. Satu demi per satu media cetak yang telah puluhan tahun berjaya terpaksa tutup. Meski dampak ini bukanlah hal yang mengejutkan tetapi tetap saja matinya beberapa media yang dulunya besar memicu rasa miris sebab ada manfaat yang tetap tak terganti oleh era digital dengan banyaknya pemain berupa situs sosial media.

Mungkin karena saya pernah bekerja di beberapa media cetak di Jakarta hilir mudik berita tutupnya media cetak, entah koran, tabloid atau majalah, membuat saya terenyuh. Berbagai pengalaman dan kenangan senang dan susahnya menjadi wartawan media cetak sungguh membuat saya tak ingin media cetak tutup. Ada kenikmatan dan kepuasan menulis di media cetak yang tak bisa diperoleh saat menjadi wartawan media online, pekerjaan yang juga saya lakoni setelah saya pensiun di media kertas.

Dari dalam negeri, yang paling membuat sedih adalah tutupnya koran sore Sinar Harapan. Harian legendaris yang pertama kali menyapa pembaca pada 27 April 1961 ini resmi tak lagi naik cetak awal 2016. Koran ini pun beberapa kali dibredel, diantaranya pada 1965, 1974, dan yang paling memukul adalah pada 1986. Setelah vakum sekitar 14 tahun, harian ini pun kembali terbit pada 2001. Koran ini banyak memenangkan penghargaan dan melihat dari rekan sesama kuli tinta saya merasa tak heran. Jurnalis harian ini saya kenal idealis dan mempunyai dedikasi tinggi.

Dari luar negeri, majalah dewasa For Him Magazine (FHM) resmi bubar tahun lalu. Sebelumnya, majalah Newsweek, Reader?s Digest pun telah berhenti cetak dan kini sepenuhnya berubah menjadi media ?online?. Khusus untuk Reader?s Digest, majalah ini pertama kali terbit pada 1922 dan bahkan menjadi ?franchise? di 17 negara dengan diterbitkan ke dalam bahasa negara tersebut masing-masing, termasuk Indonesia.

Reader?s Digest Indonesia sendiri resmi tutup Oktober 2015. Reader?s Digest adalah salah satu bacaan favorit saya waktu kuliah di Yogyakarta dulu. Majalah ini yang pertama kali membuka wawasan bahwa menulis tak melulu serius dan mengangkat topik berat. Ide sederhana bisa dibuat jadi tulisan menarik asal tahu cara mengemasnya. Sungguh, sangat disayangkan majalah sebagus Reader?s Digest harus ikut tutup usia.

Menulis untuk media cetak memberikan kepuasan yang entah mengapa terasa lebih beda. Berkat rentang menulis yang lebih lama sebab tulisan baru dimuat esok harinya, waktu merangkai fakta dan kata menjadi lebih lama, tulisan pun lebih berisi. Belum lagi fase penyuntingan yang dilakukan berkali-kali membuat tulisan bisa lebih dipertanggungjawabkan.

Sedangkan pengalaman waktu di media ?online?, proses penulisan, pengecekan dan penyuntingan memang jauh lebih pendek sebab berpacu dengan waktu, semakin cepat biasanya semakin lebih baik. Mutu tulisan menjadi agak kurang terkontrol. Kreativitas dibatasi oleh waktu, jumlah pembaca dan jumlah klik pengunjung.

Pun demikian dengan menjadi pembaca media cetak, entah koran atau majalah, saya bisa merasakan ingatan yang lebih langgeng di kepala dibanding membaca tulisan dari layar. Ingatan jadi jauh lebih terpatri daripada memori di media digital yang dengan gampang buyar secepat saya mengklik tautan ini dan itu.

Salut bagi media yang masih bertahan hingga saat ini meski mungkin mulai ditinggalkan oleh pembacanya. Tak mudah istiqomah mempertahankan media cetak di tengah gempuran media online berikut imbas pengiklan yang mungkin cenderung memajang lapak mereka di layar digital. Bak berenang melawan derasnya arus, saya yakin media cetak mempunyai cukup bekal dan pelampung agar tetap bisa mengambang bebas di lautan.

?Foto diambil dari www.news.com.au


  • Pak RM
    Pak RM
    1 tahun yang lalu.
    @Eny Wulandari : saya kalau nulis digital sudah sering, tapi yg belum bisa itu nembus koran mainstream, gimana ya kiat-kiatnya...

    • Lihat 1 Respon

  • Eny Wulandari
    Eny Wulandari
    1 tahun yang lalu.
    @Ahmad Maulana S: Makasih banyak buat komentarnya mas. Tulisan itu sebenernya buat pengingat juga buat saya yang sudah jarang baca koran atau majalah cetak. Xixi. Soal kiat, paling gampang bookmark tetapi kalau mau lebih butuh usaha tetapi lebih bisa bikin nyantol di otak bikin notes gitu mas dari temuan situs2 yang udah kita kunjungi. Sebelumnya tentuin dulu tema atau topik yang ingin kita pelajari trus catat poin2 penting dari temuan kita tadi. Kalo di komputer bisa bikin folder tersendiri ntar tinggal diliat kapan2. Tapi saya sendiri nggak konsisten sih, kadang bikin kadang nggak, haha!

  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    1 tahun yang lalu.
    Artikel yang amat mengena buah pengalaman yang kuat dari penulisnya, terutama perbedaan menulis untuk media cetak dengan media online, serta durasi ingatan semasingnya yang memang sangat berbeda. Kalo menurut Mbak Eny, adakah kiat-kiat tertentu untuk lebih memperlama daya ingat bacaan online, karena kadang saya pribadi agak bermasalah dengan data digital ketika butuh 'data kecil' sementara asal link serta file penyimpanannya lupa? Makasih banyak sebelumnya atas jawabannya, salam kenal, salam hangat...^_

    • Lihat 1 Respon