Saat Saya Fokus Mengurus Diri Saya Sendiri

Eny Wulandari
Karya Eny Wulandari Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 09 Desember 2016
Saat Saya Fokus Mengurus Diri Saya Sendiri

Terlepas dari pekerjaan dulu saya yang mencari berita, saya terkejut pada diri sendiri sekarang bisa dibilang saya kurang mengikuti perkembangan dunia politik, hukum dan isu terkini di masyarakat. Padahal dulu saya termasuk yang sangat aktif mengikuti berita di situs berita nasional atau media sosial.  Termasuk juga orang yang rajin berkomentar di media sosial.

Sekarang?

Bisa dibilang saya cukup malas mengurus masalah negara. Lebih tepatnya ‘terpaksa malas’. Saya cukup tahu sekarang orang sedang ramai membahas apa atau siapa orang yang sedang hangat diperbicangkan seantero nusantara. Cukup itu saja. Komentar terkadang saja.

Semua berawal dari kebiasaan saya banyak membaca artikel tentang pengembangan diri, psikologi positif selama dua tahun belakangan ini. Dulu saat masih menjadi wartawan rasanya tidak mungkin membaca artikel semacam itu. Nggak kepikiran. Otak sudah penuh dengan isu korupsi, kemiskinan, kesenjangan sosial.

Hingga perlahan saya mulai melakukan introspeksi diri. Entah darimana datangnya saya juga baru sadar belakangan saya mulai menerapkan minimalisme pikiran beberapa tahun terakhir. Gerbang dari semuanya adalah dengan membaca artikel yang saya sebut di atas. Itu pun tanpa sengaja.

Seabreg artikel bagus mulai ‘meracuni’ otak dan pikiran saya. Perlahan ia mengambil jatah yang biasanya saya habiskan untuk membaca tulisan ekonomi, pasar saham hingga prospek otomotif atau properti nasional, misalnya.

Begini, saya setuju dengan sikap positif dalam menjalani hidup. Saya juga sepakat dengan motivasi tetapi saya paling benci diceramahi. Orang yang memotivasi orang lain dengan cara menggurui biasanya hidup mereka cenderung mulus, kayak jalan tol.

Nah tulisan yang saya maksud tersebut ditulis dengan sudut pandang yang sangat manusiawi, saya banget. Saya merasa menemukan banyak pengalaman hidup yang pernah saya alami dalam tulisan itu. Penulisnya pun jujur, tidak malu-malu. Mereka tidak menyarankan pembaca harus berpikir positif jika memang hati sedang kecewa. Kamu tidak perlu bahagia sepanjang waktu jika yang ada di hatimu amarah dan kesedihan. Intinya perlakukan semua emosi secara adil. Melakukannya berarti kamu bersikap layaknya manusia biasa, yang bisa merasakan banyak emosi.

Awal tahun ini saya menemukan tulisan yang cukup mengubah hidup saya. Saya sudah lupa judulnya tetapi inti tulisan ini mengajak saya untuk mengulas apa saja yang pernah terjadi dalam diri saya, mimpi saya yang belum tercapai, dan lainnya. Lalu saya menuliskan semua yang belum saya dapatkan atau saya alami lalu saya menganalisa apa yang bisa perbaiki dari diri saya sendiri.

Mulai dari situ saya belajar memprioritaskan hidup saya. Bermula dari menulis keinginan saya dan langkah apa yang bisa saya tempuh untuk mencapainya. Apa-apa yang tidak mendukung saya dalam meraih mimpi saya, saya belajar untuk membuang banyak pikiran dan energi jauh-jauh. Perlahan namun pasti saya belajar mempraktekkan apa yang disebut hidup yang minimalis, dalam segi apa pun.

Paling penting dari segi pikiran. Ya itu tadi. Jika tidak penting saya tidak mau repot-repot mengurusnya. Saya juga menerapkannya dari segi kehidupan lainnya. Misalnya, jika saya bertemu dengan orang yang menyebalkan sekarang saya cenderung cuek. Dulu saya akan kepikiran. Kalau menemukan lawan debat yang berpikiran sempit saya abaikan, dulu saya akan kepikiran juga.

Makanya sekarang saat dunia media sosial ribut masalah politik, pluralisme, saya lebih memilih diam berkomentar karena saya sudah tahu ujung-ujungnya membahas apaan. Semakin saya banyak membaca semakin saya menarik diri dari menyebut yang benar ini dan yang salah itu.

Banyak fakta yang saling mendukung satu sama lain loh, jika kita mau melihat dari sudut pandang yang lebih luas. Daripada nyinyir di dunia media sosial saya lebih fokus mengurus diri saya yang masih banyak kurangnya ini. Saya lebih banyak mikir bagaimana agar tulisan saya lebih berbobot dan dibaca oleh lebih banyak orang.

Saya terlalu sibuk memikirkan mimpi-mimpi saya sehingga tak punya energi dan waktu memikirkan debat tiada berujung teman-teman saya di media sosial yang tidak jelas ujungnya apa. Terkadang bukan solusi yang dicari melainkan panggung untuk berbicara. Walau jujur terkadang saya merasa bersalah seperti acuh terhadap masalah negara akibat sikap saya yang sekarang tetapi sungguh otak saya tak mampu lagi memikirkan hal yang tak lagi mampu saya kuasai.

 


  • Arif Syahertian
    Arif Syahertian
    11 bulan yang lalu.
    Tulisan yang menarik. Menyinggung perihal penyederhanaan pikiran, seperti tokoh fiksi saya Malcolm yang menolak utk repot2 mengurusi hidup orang lain. Padahal dia kan detektif. Hehehe.