Berbisnis ‘Kebahagiaan’

Eny Wulandari
Karya Eny Wulandari Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 30 November 2016
Berbisnis ‘Kebahagiaan’

Jika ditanya salah satu tujuan hidup, bukan hal yang aneh mayoritas akan menjawab kebahagiaan. Aku ingin hidup bahagia, kurang lebih begitu. Tergantung persepsi orang, bahagia lebih sering diidentifikasikan dengan rasa girang, senyum lebar atau lega setelah meraih sesuatu.

Jika kawan sedang iseng coba saja hitung ada berapa buku atau modul yang ‘menjual’ kebahagiaan walau tak semuanya lantang bilang ‘membaca buku ini akan membuat hidupmu senang’. Tetapi ‘jualan’ mereka kurang lebih seputar bagaimana agar mereka bisa membuat orang positif, bersemangat dan berhasil dalam apa pun yang sedang mereka upayakan.

Lalu muncul banyak motivator yang menggelar seminar laris manis. Ada yang memang ahli dalam bidang pemasaran sehingga acara yang ia bawakan tepat guna. Tetapi ada pula yang memang jago menyemangati orang, baik karena pengalaman pahit pribadi atau ia pembicara ulung.

Itu baru dari sisi buku atau seminar. Coba tengok betapa banyak produk yang ditawarkan atas nama kebahagiaan atau rekan-rekannya; kedamaian, keakraban, kekeluargaan. Paling pas mengaitkan ini dengan bisnis properti. Rumah ini dapat memberikan keluarga anda kebahagiaan sebab terletak di kaki gunung dengan pemandangan alam indah, udara segar dan jauh dari kebisingan kota. Seperti itu lah.

Produk kecantikan lain lagi. Tahu benar wanita ingin cantik pebisnis sektor ini menjual produk yang secara tidak langsung membentuk cara pandang wanita bagaimana agar bahagia. Beli krim ini demi wajah yang lebih putih bersinar. Dijamin siapa saja akan terpesona melihatmu.

Atau pil ini bisa membuat kalian menahan nafsu makan. Berat badan akan cepat turun dalam hitungan minggu.

Lama-kelamaan wanita akan terdorong mempercayai ia baru bisa bahagia jika bobot tak lebih dari 60 kilogram atau jika wajah mulus bebas dari jerawat. Atau setidaknya mereka percaya badan yang langsing atau muka kinclong pintu menuju kesenangan.

Yang paling lucu kalau lihat iklan makanan atau minuman. Bualan mereka lebih jago. Aku termasuk yang paling sering kena, bahkan sampai sekarang. Favoritku teh dingin. Sampai sekarang aku masih suka minum minuman ini padahal sudah tahu kadar gula yang cukup tinggi. Tetapi aku masih sering meminumnya sebab selalu beranggapan ini menjadi obat setelah hari yang panas dan panjang.

Bebaskan dirimu dengan minuman ini.

Segigit coklat ini agar bisa tersenyum sepanjang hari.

Dekatkan diri dengan kawan-kawanmu cukup dengan Rp100 ribuan di resto ini.

Selama engkau masih menggantungkan kebahagiaan terhadap faktor luar, entah benda atau manusia, maka engkau akan rentan menjadi manusia konsumtif.

Kalau kamu bertanya berarti aku sudah kebal itu semua jawabannya salah. Walau pun aku sudah tahu bahwa bahagia itu dari dalam hati tetap saja terkadang masih mencari sumber kesenangan dari luar, misalnya lewat film, Juventus dan ya itu tadi, teh dingin kesukaanku sedari kecil, LOL!

Gambar diambil dari sini.