Tidak Selalu Menulis Itu Menyenangkan

Eny Wulandari
Karya Eny Wulandari Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 23 November 2016
Tidak Selalu Menulis Itu Menyenangkan

Menulis yang jujur, sejujur yang mampu aku lakukan, bisa menjadi proses yang mengerikan.

Menulis seperti ‘menelanjangi’ diri sendiri. Jika selalu memikirkan prinsip itu aku bisa berpikir berulang kali mengeluarkan uneg-uneg, terutama untuk hal yang bersifat pribadi. Entah hal ini terkait dengan kepribadianku atau bukan yang jelas rasanya sungguh ‘miskin’ harus berbagi semua hal dengan orang lain. Apalagi di dunia ‘online’ seperti sekarang, bahkan orang yang tidak kamu kenal pun bisa tahu apa masalahmu, apa rahasiamu.

Tidakkah engkau merasa ‘habis’ jika selalu berbagi segala hal kepada orang lain?

Di balik setiap tema yang kamu pilih, kalimat yang kau utarakan, kamu mengekspos pemikiranmu, sudut pandangmu terhadap apa pun. Walau itu berbalut karakter fiktif, teori atau omongan pakar hebat sekali pun, kamu yang memilih mereka. Itu secara tidak langsung mewakili pendapatmu. Engkau hanya butuh corong dari orang lain.

Bukankah menulis mengajarimu berlatih memakai banyak ‘topeng’?

Menulis dari dalam hati buatku selalu menjadi pengalaman yang ‘menampar’. Terutama jika aku hendak menulis semacam motivasi. Seperti ada sentilan ‘Jadi engkau ingin menulis motivasi? Apa kau yakin ingin memotivasi orang lain? Bagaimana dengan dirimu sendiri?’

Menulis mengajakku ingin menjadi pahlawan buat orang lain. Untuk diriku sendiri? Nanti dulu.

Tidak ada yang lebih menggelikan ditertawakan oleh kata-kata yang aku rangkai sendiri. Apalagi jika kalimat-kalimat itu bertentangan dengan kenyataannya. Terkadang menulis mengajariku untuk menjadi orang yang skeptis. Kalau lagi waras, menulis mengajariku menjadi orang yang optimistis. Dengan catatan tadi.. kalau lagi waras.

Menulis mengajakku untuk ‘berani’. Bukan berani bilang si A salah, si B yang benar. Pendapatku tentang ini atau itu paling bagus sebab didukung teori A atau B, bahkan pakar ini pun senada pendapatnya dengan diriku..

Bukan.. bukan tulisan opini semacam itu yang aku maksud.

Aku jadi ‘berani’ berkat menulis sebab kesukaanku yang satu ini memaksa aku untuk berani mengalahkan rasa malas. Keinginanku menulis membuatku mau tidak mau berdamai dengan segala perasaan tidak menyenangkan akibat masa lalu. Menulis melecutku untuk mengeluarkan semua isi hati meski lebih baik aku menutupnya dalam karung rapat-rapat.

Terlebih dari segalanya menulis suatu keharusan bagiku. Agar aku tidak gila dengan segala informasi di kepala, demi hati yang lega setelah mengalami perasaan yang mengoyak jiwa. Karena jika semua aku pendam aku bisa ‘meledak’.

Jika engkau tanya motivasi aku menulis aku baru saja menyebutkannya: agar aku tidak gila!

Bukan karena aku berbakat atau aku cerdas. Bah!!

Tetapi lebih karena Alloh swt kasihan saja padaku jika aku hanya diam. Maka Dia menyuruhku untuk menulis. Seolah aku diberi dua pilihan besar: nulis atau gila!

Hanya menulis yang bisa membuatku menulis seberani dan sejujur ini. Hanya menulis.

Gambar diambil dari sini.


  • agus geisha
    agus geisha
    12 bulan yang lalu.
    "Hanya menulis yang bisa membuatku menulis seberani dan sejujur ini." <<< enggak ngerti.

  • Hani Taqiyya
    Hani Taqiyya
    12 bulan yang lalu.
    kerennya kak, tulisan kamu selelalu mewakili isi hatiku, cailah. Btw aku barusan aja lagi iseng browsing quote maya angelou, ini pas banget. Haha

    • Lihat 2 Respon

  • Entis Chai
    Entis Chai
    12 bulan yang lalu.
    Warbiaza