Wahai Kutu Buku, Waspadai Jebakan yang Satu Ini

Eny Wulandari
Karya Eny Wulandari Kategori Buku
dipublikasikan 05 Oktober 2016
Wahai Kutu Buku, Waspadai Jebakan yang Satu Ini

Awalnya girang menemukan genre buku yang benar-benar membuatku hanyut di dalamnya. Kata-kata indah dengan pesan yang sangat kuat dan universal. Buku klasik tebal dengan Bahasa Inggris tingkat tinggi yang mungkin dinilai terlalu berat bagi banyak orang tetapi aku menemukan buku-buku tersebut sangat menyenangkan untuk dibaca. Aku membaca novel terbaik di dunia sepanjang masa tanpa tekanan, segalanya terasa enak tanpa paksaan. Semakin aku melakukan sesuatu secara sukarela maka itu berarti aku melakukan hal yang semakin mendekati dengan identitas diriku yang sesungguhnya.

Jadi bertahun-tahun, hobi membacaku seputar penulis asal Inggris dari abad ke-18 dan ke-19. Kawan inspirator yang kebetulan membaca tulisanku semoga tidak akan pernah bosan mendengar nama Thomas Hardy sebab ia penulis dengan karya yang paling sering aku baca. Belakangan aku terpukau dengan novel karya Bronte bersaudara, tinggal Charlotte Bronte yang bukunya belum aku baca.

George Eliot, Charles Dickens dan kini Jane Austen. Waktu membacaku habis aku pakai menyerap gaya bahasa, kritik, kegelisahan masing-masing dari mereka dengan sajian yang berbeda satu sama lain. Secara keseluruhan, klasik adalah genre buku yang sangat menghiburku, menantangku hingga belakangan aku merasa jenis novel ini mulai membuatku merasa terjebak.

Aku terjerembab dalam kenyamanan yang aku buat sendiri. Aku begitu mengagumi genre ini hingga sulit bagiku beralih ke sastra jenis lain, penulis lintas generasi dari Rusia atau Amerika Latin, misalnya. Aku seperti terkunkung dalam sangkar gaya bahasa dan pesan yang kurang lebih sama. Dan aku butuh usaha ekstra agar pelan demi pelan bisa keluar dari kurungan yang aku buat sendiri.

Menemukan jenis bacaan apalagi penulis favorit adalah hal yang luar biasa. Ada momen tak terhitung dalam membaca dimana aku berkata dalam diri sendiri.. “Ini aku banget.” Mereka menghiburku dengan kata mereka. Karya mereka seni tingkat tinggi yang akan terus terpatri sampai kapan pun. Suara mereka sedikit atau banyak mewakili apa yang aku pendam. Karakter yang mereka ciptakan sedikit atau banyak mirip dengan diriku sendiri.

Oleh karena itu, jika sudah berada pada fase ini segala terasa nyaman. Mau baca apa lagi? Ah aku masih ada beberapa judul Thomas Hardy yang belum aku baca. Tinggal ke toko buku lalu membeli buku judul ini. Dijamin akan bagus. Thomas Hardy bagiku adalah jaminan mutu. Teman inspirator pasti punya penulis kesukaan sendiri.

Dengan demikian, beralih membaca karya penulis yang gaya bahasa berbeda apalagi hidup di masa berbeda menjadi tantangan yang sangat berat. Buatku membaca novel itu berat sebab tak cuma butuh otak tetapi melibatkan segenap hati di dalamnya. Kamu serasa hidup bersama tokoh-tokoh di dalamnya. Kamu turut merasakan kesedihan dan kebahagiaan yang tokoh tersebut alami. Bahkan, jika tokoh tersebut benar-benar dibuat sangat ‘hidup’, kamu akan merasa kamu adalah dia.

Pelan tetapi pasti aku mencoba keluar dari zona nyaman sendiri. Aku mulai melepaskan diri dari gaya penulisan Thomas Hardy yang sangat menyihirku. Kini aku bisa mulai menikmati gaya kepenulisan Charles Dickens dan Jane Austen, yang dulu aku benci.

Hasilnya luar biasa. Walau secara gaya kepenulisan aku kurang sreg tetapi dua penulis tersebut membuatku kagum dengan cara mereka sendiri, lewat kritik hebat a la Charles atau sindiran tata krama kaum menengah ke atas secara kocak khas Jane.

Entah kapan aku akan benar-benar meninggalkan zona nyaman ini, keluar dari sel menuju ke ranah sastra beda benua, beda zaman dengan suara yang mungkin di luar dugaan. Namun suatu hari aku akan memberanikan diri menuju ke sana demi memberi makan otak dan jiwa dengan asupan yang lebih banyak, lebih beragam, makin bergizi.

Sebab terlalu banyak yang akan aku lewatkan jika aku tetap berada di zona yang sekarang. Aku akan merasa terlalu sombong dan cerdas untuk tidak mau membaca karya sastra penulis selain yang aku nikmati saat ini. Dan merasa sudah pintar adalah pertanda bahwa aku masih bodoh.

Sumber gambar cek di sini.