'Don’t judge a book by its movie'

Eny Wulandari
Karya Eny Wulandari Kategori Buku
dipublikasikan 28 September 2016
'Don’t judge a book by its movie'

Sampai sekarang aku belum pernah membaca novel Harry Potter. Selain memang tidak suka cerita fantasi, ada satu kesalahan besar yang pernah aku lakukan.

Aku melihat film Harry Potter, lupa judulnya apa, sebelum membaca novel itu. Kualitas film tersebut buruk, maklum aku dan kawanku menonton dalam bentuk DVD bajakan, wakakak! Tetapi efek yang dihasilkannya luar biasa. Tak hanya aku tidak paham alur ceritanya, aku sama sekali tidak pernah menonton film atau membaca satu pun novel Harry Potter setelah itu. Sewaktu aku pernah menjadi wartawan aku pernah dapat novel Harry Potter gratis. Waktu itu aku langsung meminjamkannya ke sahabat kost yang memang sangat menyukai Harry Potter. Sekarang buku tebal itu entah ada dimana.

Beberapa tahun kemudian, aku dan kawanku yang juga kutu buku menonton film klasik berjudul Jane Eyre, yang berdasarkan novel berjudul sama. Sebenarnya film ini terhitung bagus dari segi cerita, kostum, tempat yang mirip dengan lokasi saat novel tersebut dibuat. Hanya karena aku kurang suka dengan tampang sangar Michael Fassbender yang dalam film itu berperan sebagai tokoh pria utama sajalah aku sampai sekarang tidak tertarik membaca novel tersebut. Menurutku, kombinasi Mia Wasikowska dan Michael Fassbender sungguh merusak kesan romantis yang aku harapkan atas novel itu.

Sahabat baikku saat di bangku kuliah, Nanda, pernah bilang jangan pernah membandingkan buku dan film sebab dua-duanya merupakan karya seni yang berbeda. Aku sepakat sekali soal itu.

Kini aku hampir tidak pernah melihat novel yang pernah aku baca dalam versi filmnya. Hampir seluruh novel Thomas Hardy yang telah difilmkan tak satu pun yang pernah aku lihat. Bahkan garapan sutradara seperfeksionis Ang Lee untuk Life of Pi (2012), pun tak sanggup membuatku menonton film tersebut. Aku sendiri pernah membaca novel Life of Pi sebelum film tersebut dirilis.

Aku takut versi film akan ‘merusak’ versi bukunya padahal merujuk kata temanku, film dan buku adalah dua karya seni berbeda jadi wajar apabila hasilnya berbeda. Cuma mungkin aku tidak akan bisa menahan diri mengkritik versi film jika ternyata hasilnya melenceng jauh dari yang aku baca. Maka lebih baik aku tidak pernah menontonnya sekali pun.

Buatku, menyelami kedalaman dan keindahan kata-kata berlembar-lembar lebih menyenangkan daripada menyaksikan deskripsi pengarang yang dituangkan ke dalam benda via layar bioskop.

Lebih baik membayangkan mimik wajah tokoh sambil membaca buku daripada menyaksikannya langsung mereka berinteraksi di depan mata lewat film. Semua kembali kepada kesukaan masing-masing dan buatku verbal lebih mengena di hati.

Sumber gambar dari sini.