Tiada yang Paling Menyiksa Kutu Buku Selain yang Satu Ini

Eny Wulandari
Karya Eny Wulandari Kategori Buku
dipublikasikan 19 September 2016
Tiada yang Paling Menyiksa Kutu Buku Selain yang Satu Ini

Bukan tokoh utama yang mati di akhir cerita. Tak melulu pula soal cinta yang kandas di ujung cerita. Saling bunuh antar karakter favorit atau bunuh diri karena frustrasi tak jadi soal berat buatku.

Yang paling membuatku tersiksa adalah menemukan buku yang sangat bagus lalu menyadari itu adalah satu-satunya buku yang ditulis. Celakanya, dia sudah meninggal dunia!

foto dari sini.

Saat ini aku sedang membaca ‘Wuthering Heights’ (1847) milik Emily Bronte, sastrawan asal Inggris. Sudah lama aku tahu judul ini dari dosen waktu kuliah dulu. Beliau, pak Djoko, begitu terpukau menyebut judul yang satu ini. Awal perkenalanku dengan buku ini pun sampai di situ saja. Aku tak langsung membacanya.

Melanglang buana aku membaca berbagai judul novel, membaca artikel tentang buku terbaik yang pernah ditulis sepanjang masa, ‘Wuthering Heights’ selalu disebut. Tetapi aku masih belum tertarik membacanya. Baru halaman pertama aku sudah tidak tergiur. Gaya menulis yang orang pertama langsung memadamkan rasa ingin tahuku.

Hingga akhirnya, aku membaca novel ‘Agnes Grey’ milik adik Emily, Anne Bronte, dan aku suka. Walau ditulis menggunakan sudut pandang orang pertama, ‘Agnes Grey’ sukses memukau hatiku, cukup puitis, tidak berlebihan, studi karakternya cukup lengkap. Yang dengan kata lain aku simpulkan sebagai karya yang pas.

Singkat kata, akhirnya aku membaca ‘Wuthering Heights’. Baru halaman pertama aku langsung terbelalak! Belum pernah aku membaca novel yang dari halaman pertama langsung membuatku bilang ‘hah’!

Atmosfir novel ini tertangkap secara jelas melalui jalinan kata-kata luar biasa karya Emily. Kejutan ada di mana-mana. Persoalan jiwa yang dimiliki oleh masing-masing tokoh utama terpampang secara jelas dari awal. Sepanjang membaca aku sambil berkata ‘ada ya orang-orang seperti ini?’ atau ‘Gila ini buku. Bisa-bisanya tema dahsyat ini ditulis secara menusuk oleh Emily jadi begitu melekat di kepala?

Belum sampai setengah perjalanan aku langsung mencari informasi apakah ada novel yang Emily tulis selain ini. Sungguh saya. Tidak ada. Ini adalah satu-satunya novel yang ia tulis. Satu-satunya buku yang sampai sekarang masuk ke dalam daftar klasik harus baca, terutama bagi pencinta sastra Inggris klasik atau romansa. Buku yang telah entah berapa kali dibuat ke dalam versi film, serial atau teater. Buku yang membuatku teramat sangat jatuh cinta sekaligus sedih sebab tak kan bisa lagi menikmati novel seindah dan sesadis ini.

Emily sendiri meninggal dunia di usia 30 tahun pada 1848. Saat menulis ‘Wuthering Heights’ pun ia memakai nama pena Ellis Bell.

foto dari sini.

‘The Picture of Dorian Gray’ (1890) satu-satunya novel yang ditulis oleh dramawan asal Irlandia, Oscar Wilde. Novel ini identik dengan tema Gothic, bercerita tentang seseorang yang terobsesi awet muda, sebuah pengalihan isu tentang ketidakmampuan dia dalam mengendalikan keinginan dari dalam dirinya sendiri.

Oscar sebenarnya lebih dikenal dengan karyanya yang mayoritas drama. Drama karangannya pun sangat bagus, seperti favoritku The Importance of Being Earnest. Membaca drama dia yang kebanyakan komedi situasi dengan tujuan mengejek perilaku kaum aristrokrat zaman Victoria, aku terkejut The Picture of Dorian Gray sungguh berbeda dari kebanyakan yang ia tulis.

Mengambil tema ‘gelap’, novel ini cukup berat dicerna. Banyak menampilkan sisi buruk manusia, yang bisa melakukan apa pun demi meraih obsesinya. Yang tidak dilupakan adalah sensasi membacanya yang lumayan membuatku geleng-geleng kepala sebab menyelami contoh ekstrem seorang manusia.

Sayangnya, ini adalah satu-satunya novel yang ditulis oleh Oscar. Dua orang ini sukses membuat saya merasa ‘digantung’, bahagia membaca karya mereka dan merengek minta dibuatkan lagi cerita yang tak kalah hebatnya. Andai saja mereka tahu satu novel saja tidak pernah cukup membuat pembaca merasa puas. Ah tetapi mereka keburu tiada...

 Foto diambil dari sini.


  • Muthmainnah Rati
    Muthmainnah Rati
    6 bulan yang lalu.
    Pinjem donk, Mbak

  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    Lagi, ulasan yang bagus.
    Mba Eny, novel-novel di atas terjemahan, yah Mba?

    Ato gini deh, Mba. Gimana kalo Mba nulis artikel tentang 3 Novel Indonesia terbaik menurut Mba, tentu dengan alasannya. Jadi bisa jadi referensi untuk saya yang kuper di dunia sastra.

    Saya sok Bossy banget, yah. Hehe...
    Peace, Mba Eny.

    • Lihat 2 Respon