Utang yang Paling Mengusik Kalbu Itu Bernama Resensi Buku

Eny Wulandari
Karya Eny Wulandari Kategori Buku
dipublikasikan 14 September 2016
Utang yang Paling Mengusik Kalbu Itu Bernama Resensi Buku

Membaca novel saja tidak cukup. Betapa pun menikmati atau tidaknya aku dalam membaca sebuah judul, hati belum lega jika belum menuliskan pengalamanku ke dalam tulisan. Memang dasar aku pembaca yang terkadang terlalu menuntut terhadap diri sendiri. Terkadang aku harus memaksa diri sendiri menulis tak hanya resensi atau sikap atas buku yang baru saja selesai dibaca tetapi juga karakter, bagian menarik atau hal yang paling menyebalkan dari novel itu.

Buatku, tak ada utang yang paling mengusik hati selain menulis resensi buku. Padahal tak terhitung berapa orang yang telah menuangkannya. Jika masuk ke dalam daftar Google Ranking pun, kemungkinan resensiku tak akan masuk ke halaman pertama, ke-2 atau ke-3. Isi tulisan juga akan kurang lebih sama.

Tetapi aku harus menulis resensi novel yang baru aku baca. Aku harus melakukannya sebab itu seperti menuntaskan balas dendam, membayar utang mahal yang durasinya sama dengan lama waktu yang aku butuhkan untuk merampungkan novel. Atau mengerjakan pekerjaan rumah yang sebenarnya gampang tetapi justru terkadang paling malas aku kerjakan.

Semakin novel itu bagus semakin banyak utang tulisan yang harus aku lunasi. Menulis resensi adalah cara paling mudah agar menjaga aku tetap rajin menulis. Juga, resensi bagus sebagai pengingat, tak hanya judul apa saja yang pernah aku baca tetapi melacak perkembangan tulisanku sendiri. Ringkasan buku ini kurang bagus, kurang kosakata, atau yang ini menandakan perkembangan signifikan terhadap tulisanku dan sebagainya.

Menulis resensi berarti aku meninggalkan tanda pembelajaran untuk diriku sendiri. Untuk itulah, aku berusaha tidak membaca ulasan orang lain sebelum tugasku selesai. Sebab jika demikian, aku akan malas menulis resensi sebab mengetahui akan selalu ada yang bisa menulis lebih canggih dari aku. Lebih puitis, lebih ‘berisi’ dari apa yang aku tuangkan.

Itu sebabnya aku selalu mengosongkan otakku dari komentar dan ringkasan orang lain yang pernah membaca judul yang sama dengan aku baca. Akan selalu ada yang bisa membuatku iri tidak bisa menulis seindah mereka tetapi tidak akan pernah ada yang menulis sama persis seperti diriku.

Menulis resensi membuatku belajar untuk secara perlahan mempertahankan apa pun yang aku tulis dan rasakan. Itu urusanku yang kedua. Pokok yang paling penting adalah membebaskan diri dari belenggu sebegitu banyak pesan, kenangan, cerita, unek-unek yang nemplok di kepala usai membaca buku, entah menarik atau tidak.

Hanya dengan demikian aku bisa merasa plong.

Baru demikian lah aku mempersilahkan diri sendiri berpetualang dengan judul selanjutnya.

Menulis ini sebagai penyemangat menulis resensi Emma karangan Jane Austen, yang belum aku tulis barang satu kalimat pun tetapi sudah asyik membaca Wuthering Heights milik Emily Bronte.

Bahkan kutu buku pun suka mengkhianati kata-katanya sendiri.

Sumber gambar.