Seni Membaca Novel yang Sangat Tebal

Eny Wulandari
Karya Eny Wulandari Kategori Buku
dipublikasikan 09 September 2016
Seni Membaca Novel yang Sangat Tebal

‘Wives and Daughters’ (1864) sejauh ini menjadi novel tertebal yang pernah aku baca. Buku ini memiliki tebal 800an halaman dalam Bahasa Inggris, yang jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, menembus lebih dari 1.000 halaman. Aku sedang tidak memamerkan seberapa hebat diriku dalam membaca buku. Aku percaya kawan inspirator lebih kuat membaca buku dariku. Jumlah yang kalian baca pasti lebih banyak dari novel karangan Elizabeth Gaskell ini.

Yang ingin aku sampaikan adalah pengalaman membaca novel tersebut yang sungguh luar biasa sebab aku bisa tahan menyelesaikan novel yang bisa dibilang minim konflik, cenderung datar. Bahasa yang digunakan Elizabeth Gaskell pun tidak seaduhai ‘Mary Barton’. Tetapi aku menyelesaikannya.

Buku ini mengisahkan perjalanan hidup Molly Gibson, seorang anak piatu, dari kalangan atas masyarakat Inggris abad ke-19. Bagaimana ia tumbuh dari gadis cilik yang tomboi menjadi wanita dewasa yang dikenali banyak orang karena kebaikan. Bukan perkara mudah juga baginya menerima kehadiran ibu tiri dan saudari tirinya yang lebih cantik dan lebih cerdas dari dirinya.

Jika ditanya pilih membaca cerita pendek atau novel, aku akan tegas menjawab novel. Asalkan memiliki kisah yang bagus, aku tak keberatan membaca novel tebal. Semakin panjang malah semakin bagus.

Membaca novel secara perlahan mengajariku komitmen terhadap diri sendiri. Memegang teguh apa yang telah aku pilih. Jadi buatku memilih buku mana yang akan aku baca bisa jadi urusan pelik. Aku bisa melakukan riset kecil-kecilan sebelum membeli novel. Harus bersiap jika buku yang akan aku beli tebal sekali.

Oleh sebab itu, aku jarang tertarik membeli buku saat diskon. Sebab buat apa beli buku murah dan banyak jika aku tidak tertarik membacanya sama sekali. Jika berhasil merampungkan novel yang aku beli dengan sepenuh hati, aku akan bahagia. Tak sekadar melahap habis isi cerita tetapi lebih karena aku berhasil memenuhi janji terhadap diriku sendiri. Sebaliknya, jika aku gagal menyelesaikan buku yang telah aku beli maka aku akan menyesal sebab aku masih malas.

Membaca ‘Wives and Daughters’ banyak mengajariku tentang hal ini. Menyelami novel ini seperti melakukan perjalanan yang sangat panjang. Hal lain yang membuatku bertahan membaca novel ini justru adalah dengan menikmati kesederhanaan yang ditulis oleh Elizabeth.

Memahami karakter tokoh-tokoh di buku tersebut, membayangkan kondisi masyarakat dan lingkungan zaman tersebut secara luar mungkin terlihat normatif tetapi jika dipahami secara serius menjadi hal yang gampang-gampang susah untuk dilakoni.

Tetapi begitu bisa menaklukkannya, aku puas. Mungkin sepuas mencapai puncak tertinggi bagi pendaki gunung atau melewati garis finish pelari marathon. Ya, seperti itu rasanya.

 Terima kasih untuk penyedia gambar di atas.


  • DEBORA KAREN
    DEBORA KAREN
    1 tahun yang lalu.
    Buku yg paling tebal saya baca adalah Web Programming Power Pack 600 hal. Isiny code semua

  • Fitriane Lestari
    Fitriane Lestari
    1 tahun yang lalu.
    memang beda baca novel sama cerpen, kalo novel kita lebih mendalami karakter. saya cukup sering baca novel tebal, contoh Musashi, sekarang masih lagi baca Inferno yang belum juga kelar hehe..
    bener juga si mba, membaca novel tebal seperti melakukan komitmen dengan diri sendiri.

    salam kenal mba

    • Lihat 1 Respon

  • agus geisha
    agus geisha
    1 tahun yang lalu.
    Novel tertebal saya mungkin "SIlalatu Gunung Salak" bersambung ke "Pasukan Siluman Haji Prawatasari" novel berbahasa sunda dengan ejaan lama dan istilah yang sedikit berbeda. tulisan Aan Merdeka Permana.

    gada yang nanya ya

    • Lihat 4 Respon

  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    Mksi artikelnya Mba Eny.
    Semoga bisa saya praktekkan.

    *_*

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    versi audio booknya ada gak mbak?
    *males baca

    • Lihat 3 Respon