Sastrawan India Paling Sering Suarakan 4 Kegelisahan Ini

Eny Wulandari
Karya Eny Wulandari Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 30 Agustus 2016
Sastrawan India Paling Sering Suarakan 4 Kegelisahan Ini

Petualanganku dengan sastra India bermula saat aku membaca ‘The God of Small Things’ karya Arundhati Roy. Buku ini luar biasa. Tak heran ia bisa memenangkan Man Booker Prize for Fiction pada 1997. Usai terbuai membaca buku ini, aku pun menghabiskan waktu yang cukup lama melahap buku karya penulis India lainnya. Mayoritas yang aku baca adalah mereka yang masih berdarah India tetapi lama tinggal di luar negeri sehingga tak heran bahasa Inggris mereka luar biasa bagus yang tentu saja memudahkan bagiku membacanya. Nggak kebayang aku mesti belajar bahasa India terlebih dahulu buat bisa mempelajari sastra India.

Berikut adalah beberapa hal yang paling umum aku temukan setelah menikmati beberapa buku dari penulis India. Walau berbeda usia, latar belakang dan tempat kediaman saat ini, ada empat benang merah yang bisa ditemukan dalam karya Arundhati Roy, Aravind Adiga, Jhumpa Lahiri dan Amitav Ghosh sebagai, yang bisa aku bilang menjadi ‘warna khas’ sastra India. Yuk simak:

  1. Perbedaan Kasta

Dampak pengotak-ngotakan miskin dan kaya begitu mencolok digambarkan oleh sastrawan India. Dalam ‘The God of Small Things’, Arundhati memasukkan cinta terlarang antara Velutha, seorang tukang, dengan Ammu, perempuan dengan status sosial lebih tinggi darinya. Velutha dituduh menculik anak Ammu lalu dipukuli hingga hampir meninggal dunia.

Dalam ‘The White Tiger’, Aravind Adiga mengambil potret yang sangat gamblang betapa menderitanya menjadi orang miskin sebagaimana tercermin lewat tokoh utamanya, Balram, yang pelan tetapi pasti akhirnya dia bisa ‘naik kelas’ dari orang miskin menjadi pengusaha. Segalanya dia peroleh melalui jerih payah yang luar biasa, hingga ia pernah mengetuk dari satu pintu ke pintu rumah orang kaya untuk menanyakan apakah mereka membutuhkan seorang supir, satu-satunya keahlian yang ia miliki.

  1. Perjodohan

Kedua orang tua Gogol Ganguli, Ashima dan Ashoke, hanya bertemu sekali sebelum memutuskan menikah. Keduanya dijodohkan oleh kedua orang tua masing-masing lalu bersama sampai novel ‘The Namesake’ (Jhumpa Lahiri) berakhir.

Deeti, salah satu tokoh penting dalam ‘Sea of Poppies’ (Amitav Ghosh), adalah ‘korban’ perjodohan dimana ia dinikahkan dengan pria mandul. Di malam pertamanya, ibu mertuanya mencekoki Deeti dengan opium agar anak lelakinya yang lain bisa memperkosa Deeti. Kabutri pun lahir dari hubungannya Deeti dengan kakak iparnya sendiri.

  1. Kemiskinan

Potret kemiskinan menjadi topik dominan dalam karya penulis India. ‘The Glass Palace” dan “Circle of Reason” (Amitav Ghosh) dan “The White Tiger” kesemuanya mengangkat perjuangan warga India yang tiap bergelut cara bertahan hidup. Buat aku sendiri, inilah yang membuatku suka membaca novel India. Sangat realistis, tidak muluk, tidak menyebar janji palsu atau mimpi yang hanya ada di langit. Dalam “The Glass Palace”, Amitav mengangkat kisah seorang Rajkumar, bocah miskin, yang akhirnya bisa kaya melalui pertemuannya dengan seorang pebisnis usaha kayu. Ia pun belajar berbisnis kayu lalu bisa kaya dan menghidupi keluarganya.

Dalam “Sea of Poppies” tokoh Deeti juga berjuang hidup dalam keterbatasan sebab bersuamikan pekerja buruh. Ia harus bekerja keras menafkahi keluarganya setelah si suami meninggal dunia. Deeti adalah tokoh perempuan yang sangat tangguh. Aravind Adiga sangat menonjolkan tema kemiskinan dalam ‘The White Tiger” sampai-sampai ia menciptakan tokoh fiktif Balram yang berhasil sukses tetapi dalam perjalanan karirnya ia membunuh atasannya sendiri.

  1. Timur Versus Barat

Berada di persimpangan identitas menjadi masalah tokoh-tokoh buatan Amitav Ghosh dalam “The Shadow Lines” dan Jhumpa Lahiri dalam “The Namesake”. Sementara “The Shadow Lines” berkisah tentang benturan budaya yang dialami oleh keluarga India dengan kerabat mereka yang tinggal di Inggris, “The Namesake” menyuarakan keresahan Gogol yang awalnya jijik dengan namanya yang aneh, nama yang plek sama dengan penulis favorit ayahnya asal Rusia, Nikolai Gogol. Hingga akhirnya ia memutuskan ganti nama lalu menyadari bahwa persoalan identitas diri sungguh lebih dari sekadar rentatan huruf yang membentuk namanya.

Aku sendiri sangat menikmati tulisan Jhumpa Lahiri dalam “The Namesake”, yang dengan mengutip kata seorang pecinta sastra, kepiawaiannya dalam menulis novel ini bak ‘menciptakan emas dari tumpukan jerami”. Aku sepakat dengan pendapatnya.

Terima kasih kepada penyedia gambar: satu, dua, tiga, empat dan lima.