Pecinta Buku Paling Berat Lakukan 3 Hal Baik Ini

Eny Wulandari
Karya Eny Wulandari Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 23 Agustus 2016
Pecinta Buku Paling Berat Lakukan 3 Hal Baik Ini

Kutu buku hanyalah manusia biasa. Yang jika ia mau jujur bisa jadi akan dibilang sebagai orang yang egois padahal memang buku tak hanya sebagai teman duduk atau kawan menunggu tetapi bisa lebih dari itu. Buat saya sendiri, banyak buku yang begitu bernilai. Tokoh dan jalan cerita sangat melekat di benak saya hingga bagi saya sulit sekali berpisah dengan mereka. Semacam hubungan spesial yang sulit dilupakan. Kenangan yang susah sekali dihapus. Ada yang bilang memori ada di otak dan hati bukan benda fisik. Tetapi buat saya sih ingatan satu paket dengan benda fisiknya. Berikut adalah tiga hal baik yang sulit saya lakukan, yang mungkin tidak dialami oleh yang lain:

  1. Mendonasikan buku

Baru-baru ini saja saya mendonasikan beberapa majalah dan tabloid bagus ke teman dan Ruang Tengah. Itu pun juga disebabkan karena rak seuprit tak lagi sanggup menahan banyaknya buku yang ada. Nggak banyak juga sih tetapi intinya kamar sudah mulai penuh sehingga harus ada yang disisihkan. Tiap kali ada permintaan donasi buku saya berat memenuhinya.

Buku yang saya donasikan pun bukan yang paling saya sukai tetapi tetap menarik dibaca. Ada rasa tidak rela melihat buku-buku pergi satu demi satu tetapi apa boleh buat. Jadi ya saya tidak sesungguhnya ikhlas. Buat buku yang tidak masuk ke dalam daftar favorit saja sudah berat, bagaimana jadinya jika novel paling berkesan yang saya beri untuk orang lain?

  1. Meminjamkan buku ke orang lain

Dulu saya pernah dermawan meminjamkan buku ke teman, bahkan untuk beberapa judul yang sangat saya sukai. Hingga akhirnya, beberapa buku itu entah sudah sekian tahun tidak dikembalikan dan saya sudah sangat lelah untuk menagihnya kembali. Rata-rata alasan mereka adalah lupa. Lupa kok ya bertahun-tahun? *garuk-garuk kepala*

Ada pula teman yang baik mengembalikan buku tak lama setelah dipinjam. Yang kayak gini yang bikin saya senang. Itu artinya mereka membaca novel yang saya pinjamkan. Ada pula yang mengembalikan buku cepat-cepat sebab mengaku tidak mempunyai cukup waktu buat membaca semuanya. Daripada mangkrak terlalu lama tidak dibaca, ia lebih baik mengembalikannya. Nah, yang belum mengembalikan sampai sekarang, woiiii!!! Jangan salahkan saya sekarang jadi mikir ulang tiap kali ada yang mau pinjam buku saya ya..

  1. Membaca buku dengan niat mewariskan ilmu ke generasi selanjutnya

Pada waktu yang entah saya sudah lupa kapan, teman kantor saya dulu pernah bilang dia mengaku membeli buku dengan niat suatu saat bisa disumbangkan ke adik kelasnya. Teman saya ini memang sangat baik. Dia juga menyumbang bukunya ke sekolah dia dulu. Saya sih jujur saja membaca novel atau buku yang memang saya sukai. Jika niat berdonasi buat anak-anak lebih baik saya membelikan buku khusus buat mereka. Saya tidaklah berhati mulia yang membaca buku dengan niat mewariskannya untuk orang lain.

Kalau ada yang kebetulan satu selera sama saya ya bagus tetapi jika tidak saya tetap tidak mau membeli buku demi ingin memberikannya ke orang lain. Sebelum membuat orang lain bahagia, saya harus terlebih dahulu senang dengan pilihan saya.

Terima kasih untuk penyedia gambar yaitu ini, ini juga, lalu ini dan lalu ini.

  • view 322