Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Kisah Inspiratif 18 Agustus 2016   13:22 WIB
Terima Kasih Tontowi/Liliyana! Emas Kembali ke Pangkuan Ibu Pertiwi

Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir melakoni perjuangan mereka di Olimpiade Rio 2016 dengan bekal yang kurang baik. Baru menjuarai Malaysia Terbuka 2016 jelang tempur di Olimpiade Rio ini membuat Owi dan Butet, sapaan akrab mereka, bukan unggulan teratas.

Belum lagi Liliyana dua kali merasakan pahitnya berlaga di Olimpiade. Pada 2008, ia yang kala itu masih berpasangan dengan Nova Widiyanto gagal mempersembahkan medali emas di Beijing. Keduanya harus puas memegang medali perak setelah kalah dari pasangan asal Korea Selatan, Lee Yong-dae dan Lee Hyo-jung.

Empat tahun selanjutnya, Liliyana yang sudah berpasangan dengan Tontowi malah mencatatkan hasil yang lebih buruk. Keduanya kalah dari pemain Denmark, Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen, dalam perebutan medali perunggu. Hal ini sekaligus memutus tradisi emas bagi kontingen Merah Putih. Bulutangkis, yang sedari Olimpiade Barcelona 1992 selalu mempersembahkan medali emas bagi Indonesia, bahkan puasa medali di London.

Kekalahan di dua Olimpiade sebelumnya justru menempa pasangan yang hampir tujuh tahun bermain bersama ini tampil sangat siap di Rio. Owi/Butet bahkan tidak pernah kehilangan satu set pun sejak tampil di babak penyisihan Grup C ganda campuran. Keduanya sanggup menjungkalkan juara bertahan asal Tiongkok, Zhang Nan/Zhao Yunlei di babak semifinal dengan 21-16 dan 21-15.

Owi dan Butet yang memang tengah on fire seolah tak terbendung. Berbekal kemenangan atas duo asal Tiongkok tersebut, keduanya mantap meladeni pasangan Malaysia, Chan Peng Soon/Goh Liu Ying, di partai puncak.

Ganda asal Negeri Jiran tersebut memulai set pertama dengan terlebih dahulu unggul. Tetapi Tontowi/Liliyana sigap menghentikan inisiasi serangan lawan. Keduanya pun cepat meraih angka demi angka. Seperti halnya di babak semifinal, Tontowi/Liliyana langsung tampil ganas. Bola bergulir sangat cepat berkat permainan Liliyana yang brilian di depan net. Pasangan Malaysia yang sedari awal sudah tertekan semakin tak berkutik di set pertama ini. Beberapa kali mengumpulkan poin tetapi Tontowi/Liliyana tak lengah terlalu lama. Set perdana ini ditutup dengan kemenangan 21 banding 14.

Paruh pertama di babak kedua berlangsung agak imbang. Poin yang didapat keduanya saling berkejaran. Tontowi dan Liliyana bahkan lumayan repot meladeni pasangan Malaysia yang sempat berhasil mengubah pola permainan, yang menurut Susi Susanti, sengaja diperlambat, tak mau ikut terdikte oleh tempo super cepat Tontowi/Liliyana. Rada susah payah Tontowi dan Liliyana menutup paruh pertama set kedua ini dengan 11-9.

Tontowi benar-benar menguasai paruh paling penting di partai ini. Hujaman smash dan return service yang sangat hebat membuat pasangan Indonesia melaju mulus di set kedua. Service yang kurang akurat dan makin lemahnya pertahanan lawan menjadi sasaran empuk Tontowi, yang bak tak kenal ampun menghajar lawannya ini. Walau sempat kebut-kebutan angka di paruh pertama, Tontowi/Liliyana malah menutup set kedua ini dengan angka yang lebih meyakinkan, 21 versus 12.

Sontak keduanya begitu ‘pecah’ meluapkan kegembiraan. Terduduk, mengusap wajah tanda bersyukur lalu langsung berlari menghampiri pelatih keduanya, Richard Mainaky. Liliyana mengarak bendera merah putih di pundaknya, berlari di pinggir  lapangan bulutangkis tempat dirinya dan Tontowi melakukan balas dendam yang sangat manis atas kegagalan empat tahun lalu.

Lagu kebangsaan Indonesia Raya akhirnya berkumandang kembali setelah delapan tahun tidak diperdengarkan. Bendera Merah Putih dan sikap hormat keduanya sungguh memberikan kelegaan luar biasa setelah dahaga prestasi emas Olimpiade delapan tahun lamanya. Rasa haru dan bangga yang dirasakan Tontowi dan Liliyana sangat bisa mewakili penantian panjang rakyat Indonesia, terutama pecinta olahraga nasional. Pujian bagi mereka tersemat, tak hanya karena berhasil memberi kado indah untuk kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-71 tepat pada 17 Agustus 2016, tetapi juga untuk perjuangan luar biasa yang mereka tunjukkan selama ini.

Selamat dan terima kasih banyak Tontowi dan Liliyana. Berkat kalian emas kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Berkat kalian bulutangkis kembali menjadi kebanggaan negeri. Berkat kalian kami belajar indahnya menuai buah semangat pantang menyerah. Semoga menginspirasi atlet Indonesia berjaya di Olimpiade Tokyo 2020 mendatang.

Perjalanan Tontowi/Liliyana di Olimpiade Rio 2016:

- Penyisihan Grup C: Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir vs Robin Middleton/Leanne Choo (Australia) 21-7, 21-8

- Penyisihan Grup C: Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir vs Bodin Isara/Savitree Amitrapai (Thailand) 21-11, 21-13

- Penyisihan Grup C: Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir vs Chan Peng Soon/Goh Liu Ying (Malaysia) 21-15, 21-11

- Perempat Final: Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir vs Praveen Jordan/Debby Susanto (Indonesia) 21-16, 21-11

- Semifinal: Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir vs Zhang Nan/Zhao Yunlei (Tiongkok) 21-16, 21-15

- Final: Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir vs Chan Peng Soon/Goh Liu Ying (Malaysia) 21-14, 21-12

Daftar peraih medali emas Olimpiade:

Olimpiade Barcelona 1992: Susi Susanti dan Alan Budikusuma

Olimpiade Atlanta 1996: Ricky Subagja/Rexy Mainaky

Olimpiade Sydney 2000: Chandra Wijaya/Tony Gunawan

Olimpiade Athena 2004: Taufik Hidayat

Olimpiade Beijing 2008: Markis Kido/Hendra Setiawan

Olimpiade Rio 2016: Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir

Terima kasih kepada penyedia gambar yaitu iniini dan ini

Karya : Eny Wulandari