Tiga Alasan Konyol Masih Membeli Buku Fisik

Eny Wulandari
Karya Eny Wulandari Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 16 Agustus 2016
Tiga Alasan Konyol Masih Membeli Buku Fisik

Saya mempunyai seorang sahabat dari kuliah yang juga suka membaca buku. Bedanya dia lebih memilih membaca buku elektronik alias ‘e-book’. Selain ramah lingkungan sebab mengurangi penggunaan kertas, ‘e-book’ pastinya lebih praktis daripada menenteng-nenteng benda tebal kemana-mana. Biasanya saya sih ngeles dengan bilang saya tidak kuat membaca ‘e-book’ dalam waktu lama. Kasihan mata saya. Teman saya tersebut lalu menyarankan agar menyesuaikan pencahayaan di ponsel agar tetap enak dibaca tanpa merusak mata. Padahal dipikir-pikir saya ada alasan absurd mengapa masih tetap membeli buku fisik hingga saat ini. Alasan minor sih tetapi tiga hal di bawah masih sering saya perhatikan setiap kali hendak membeli buku:

  1. Kepincut dengan cover dan kutipan, cuplikan atau resensi

Ada nggak sih yang kayak saya? Saya suka sekali memandang cover buku, depan atau belakang. Biasanya, semakin artistik cover tersebut, makin mahal pula harga bukunya. Saya juga suka sekali mengamati bagian resensi. Buat saya, sungguh hebat orang yang bisa menyimpulkan sekaligus membuat cuplikan singkat dari buku yang tebalnya bisa beribu halaman hanya dalam satu atau dua paragraf. Tulisannya nendang pula alias bikin penasaran..

Berhubung saya penyuka kutipan maka pemilihan kutipan yang ‘dalam’ bisa langsung mencuri hati saya. Perpaduan cover yang nyeni, cuplikan buku yang pas ditambah kutipan tokoh dalam novel yang nusuk... ah godaan yang sangat berat untuk setidaknya memasukkan novel itu ke dalam daftar belanja buku berikutnya.

  1. Membubuhkan paraf di buku baru

Yang ini ngasal banget. Salah satu hal yang segera dilakukan usai membeli buku baru biasanya membubuhkan paraf sendiri di halaman awal buku. Di pojok kanan atas berikut tanggal belinya, LOL! Teman saya yang lain pernah mengatakan mengapa kami melakukan hal itu. Terus dia bilang mungkin buat latihan melayani tanda tangan pembaca yang telah membeli buku kita kelak. Aku aminin saja dalam hati sambil tertawa.

  1. Biar nggak mati gaya

Membawa buku fisik atau koran dan majalah adalah pilihan irit nan tepat buat yang ingin hemat kuota internet kalau tidak ada wi-fi pas nunggu keberangkatan pesawat, bus, berada di kereta hingga menanti kedatangan teman. Juga ini pas banget yang tidak punya power bank buat mengisi ulang ponsel yang kehabisan tenaga sebab dipakai lama buat membaca ‘e-book’. Bahasa singkatnya sih, ngirit euy ngirit!

 Penyedia gambar secara berturut-turut adalah ini , ini, lalu ini dan terakhir adalah ini.