Lima ‘Dosa’ yang Pernah Dilakukan Kutu Buku

Eny Wulandari
Karya Eny Wulandari Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 10 Agustus 2016
Lima ‘Dosa’ yang Pernah Dilakukan Kutu Buku

Semalam saya melakukan sebuah dosa favorit, dosa yang masih saya lakukan hingga kini. Meski sariawan masih belum sepenuhnya pulih ditambah kondisi badan yang mulai flu, kaki saya tetap semangat berjalan cukup jauh lalu nyambung bus umum ke salah satu tempat yang paling saya sukai seantero Jakarta; toko buku Kinokuniya, Plaza Senayan.

Saya tahu saya akan menyesal mengingat masih ada 400an halaman novel ‘Bleak House’ karya Charles Dickens yang masih belum selesai saya baca. Tetapi memang dasar membeli buku baru bagus selalu menggoda saya ya akhirnya.. tak berdaya saya menolak bujukan dari dalam diri saya sendiri. Terlebih dahulu saya yang paling malas membaca karya Jane Austen disebabkan gaya bahasa yang dangkal ditambah terlalu banyak karakter kini berubah menjadi bisa beradaptasi dengan gaya tulisan Jane.

Walhasil, saya jingkrak-jingkrak begitu membaca dua paragraf awal ‘Emma’. Tidak disangka tulisan Jane yang dulu paling saya hindari cukup berhasil menyihir hati saya, yang jujur kurang sreg dengan cerita di ‘Bleak House.’ Itu adalah salah satu dosa kesukaan saya: membeli buku baru meski buku yang lama belum rampung saya lahap. Selain dosa tersebut, beberapa hal salah yang masih saya lakukan diantaranya:

  1. Memaksakan diri membeli buku meski kantong tipis

Walau duit sudah mepet, selalu ada alasan membeli buku. Biasanya siasat yang saya lakukan adalah mencari buku dengan judul yang sama tetapi dengan penerbit berbeda yang mematok harga lebih murah. Atau saya membeli tabloid yang biasanya harga lebih miring dibanding membeli buku. Konsekuensinya, saya harus beradaptasi dengan ukuran tulisan yang lebih kecil.

2. Seharusnya membeli baju atau celana karena memang dibutuhkan tetapi ujung-ujungnya lebih lama berada di toko buku

Jujur ya, saya suka merasa agak tertekan berada di toko baju atau celana padahal saya biasanya belanja baju di toko besar biar bisa lolos dari tatapan mbak-mbak penjaga toko. Tetapi memang dasar saya bukan fashionista, berada di toko semacam ini biasanya tidak lama. Lihat seperlunya dan cepat pergi. Walau sebenarnya saya membutuhkan baju atau celana tetapi selalu ada godaan pergi ke toko buku. Dan biasanya durasi di toko buku bisa lebih lama di toko baju padahal saya tidak membeli buku sekali pun. Masuk ke dalam toko buku sudah membawa hawa sejuk di dalam batin. Rasanya tenang dan adem walau cuma bisa melihat buku yang dipajang dan tidak membelinya selain karena memang tidak mau membuat dosa favorit, lagi, juga karena bokek. Hohohooooo..

3. Kurang tidur karena terlalu larut dalam bacaan

Dulu sahabat saya, Lia, mengaku dia bisa susah mau tidur jika memegang buku yang menurutnya bagus. Waktu itu saya bilang ke teman saya tersebut hal tersebut sungguh nggak masuk di akal. Tetapi bak makan omongan sendiri, saya sekarang jadi susah menahan hasrat meletakkan buku seru bahkan saat jarum jam sudah menyentuh angka 10 malam, atau lebih. Berhubung saya ini tukang tidur, memejamkan mata di atas jam 11 malam berarti menyiksa diri sendiri. Tetapi kalau sudah membaca buku yang membuai, sungguh godaan ini sangat menyiksa saya..

4. Khilaf bahwa saya adalah makhluk sosial yang harus bergaul

Dulu saya parah banget. Akhir pekan pun saya isi dengan ngadem di kamar kost. Dulu saya suka sekali menonton DVD, baca buku dan menulis apa saja. Bergaul pun terbatas mengingat dulu saya tipikal orang yang lebih memilih berkumpul dengan beberapa sahabat dekat yang saya anggap sangat nyaman. Sekarang sudah jauh lebih lumayan. Saya memberanikan diri bergabung dengan komunitas Ketimbang Ngemis Jakarta dimana saya bertemu dengan kawan baru yang sangat inspiratif. Risikonya ya waktu membaca jadi sangat berkurang. Tetapi secinta-cintanya saya terhadap buku, saya lebih mencintai manusia, hehe..

5. Apa kabar buku-buku yang tidak saya baca tuntas sampai sekarang?

Terkait erat dengan dosa favorit di atas, akhirnya ada beberapa judul yang mangkrak, tak tuntas saya baca. Entah karena memang saya sudah tidak bisa memaksakan diri membaca buku yang pernah saya beli atau karena sudah telanjur tenggelam dengan judul yang baru, yang pasti saya merasa sangat bersalah tidak lagi tertarik membaca beberapa buku yang dulu dibeli. ‘Don Quixote’ dan ‘Middlemarch’ adalah dua novel terbaik di dunia yang tidak lagi saya sentuh. Terlalu tebal, gaya bahasa yang kurang pas di hati dan terlebih karena saya sudah tidak lagi berminat membacanya. Jangan ditiru ya..

Demikian daftar dosa yang masih saya buat hingga kini. Namanya juga manusia pasti ada salah dan lupa. Maklumi saja... hehe..

Terima kasih kepada penyedia gambar secara berturut-turut:

guiadoestudante.abril.com.br

spiritualcleansing.org

www.pinterest.com

www.critical-theory.com

www.pinterest.com

www.cafepress.co.uk


  • Anik Cahyanik
    Anik Cahyanik
    2 tahun yang lalu.
    Hampir keseluruhan kita sama kak *tos* wkwk

  • Asti Nurhayati
    Asti Nurhayati
    2 tahun yang lalu.
    Gara-gara dosa nomor lima itu, sampai-sampai ada yang pernah nyindir, sebenarnya yang jadi hobi itu 'baca buku' atau 'beli buku' Hihi.
    Keren, Kak. Sangat mewakili isi hati para pecinta buku. Hihi :b

    • Lihat 1 Respon

  • Chairunisa Eka 
    Chairunisa Eka 
    2 tahun yang lalu.
    nomor 4 dan nomor 5 saya banget duhhhh!! bubar bubar bubarrr

    • Lihat 3 Respon

  • Trias Abdullah
    Trias Abdullah
    2 tahun yang lalu.
    Dosa pertama, dosa favorit saya mbak Eny

    • Lihat 3 Respon

  • Ira Wahyu  Widya
    Ira Wahyu  Widya
    2 tahun yang lalu.
    ikut ninggalin jejak
    dosa pertama itu yang serinngggg bangett saya lakukan