Dua Pelajaran Penting dari Ambruknya Yahoo!

Eny Wulandari
Karya Eny Wulandari Kategori Ekonomi
dipublikasikan 02 Agustus 2016
Dua Pelajaran Penting dari Ambruknya Yahoo!

Salah satu web portal terbesar di jagat internet, Yahoo!, tak kuasa bertahan di antara raksasa situs dengan identitas melekat mereka masing-masing. Setelah sekitar 22 tahun berdiri, Yahoo! dijual ke firma telekomunikasi asal Amerika Serikat, Verizon Communications senilai hampir US$5 miliar pada Juni 2016, sangat jauh dari $44 miliar yang ditawarkan oleh Microsoft pada 2008. Walau mungkin banyak yang kaget dengan dijualnya bisnis operasional Yahoo!, situs ini sebenarnya sudah mulai linglung sebelum ia akhirnya dijual. Sempat berjaya pada 1990an, melakukan akuisisi besar-besaran, Yahoo! memberhentikan dua ribu karyawan pada 2012. Berikut adalah dua pelajaran penting yang bisa kita petik dari jatuhnya Yahoo!:

  1. Pentingnya memiliki identitas

Sementara Google sangat identik dengan mesin pencarian, Facebook menjadi rajanya media sosial, Yahoo! seperti kehilangan jati diri. Di awal kemunculannya sebagai web portal, ia begitu merajai dunia internet antara 1997 dan 1999 bahkan saat booming dotcom, Yahoo! mencatat rekor saham tertinggi pada $118,75 per lembar saham. Setelah itu, Yahoo! banyak melakukan akuisisi, meluncurkan berbagai produk, termasuk Yahoo! Messanger dan Yahoo! Mail. Web portal sendiri adalah situs yang mayoritas berisikan informasi dalam satu wadah dari berbagai sumber. Pada perkembangannya, entitas bisnis Yahoo! yang semakin beraneka ragam justru memunculkan tanda tanya tentang mana yang menjadi fokus utamanya. Yahoo! berjalan lambat saat pesaingnya, Google dan Facebook, berlari kencang berkonsentrasi mengerjakan ‘jualan’ utama masing-masing dari mereka.

  1. Jangan mengubah jati diri produk yang dibeli

Yahoo! menghabiskan $1,1 miliar untuk mencaplok Tumblr, salah satu situs blog populer pada 2013. Ketika itu CEO Yahoo! Marissa Mayer berjanji tidak akan mengubah apa yang sudah melekat pada Tumblr tetapi pada kenyataannya Yahoo! dinilai turut berperan pada pudarnya identitas Tumblr. Seperti ditulis oleh Mashable.com pada 15 Juni 2016, Mayer justru menggabungkan tim penjualan iklan Tumblr dengan Yahoo lalu menempatkan mereka di bawah eksekutif yang dikabarkan kurang berpengalaman tentang Tumblr. Tak lama kemudian, departemen penjualan iklan Tumblr banyak yang pergi. Tumblr pun mati-matian mencapai target $100 juta lewat penjualan iklan yang ditargetkan oleh Mayer.

Saya termasuk yang ikut sedih Yahoo! tumbang sebab saya lebih senang menggunakan Yahoo! Mail dibandingkan Gmail atau lainnya. Dulu juga saya rajin chatting menggunakan Yahoo! Messanger. Sungguh disayangkan Yahoo! tak lagi memegang kendali bisnis utamanya lagi tetapi dunia bisnis, terutama internet, berkembang sangat cepat. Siapa pun yang tidak gesit beradaptasi akan dengan cepat tertinggal dari yang lain tak peduli betapa dia dulu menjadi penguasa di bidangnya. Contohnya ya Yahoo! ini. Sekarang saya hanya berharap Yahoo! Mail tetap sampai kapan pun tidak akan diubah.