Sisi Gelap Terlalu Suka Berbahasa Inggris

Eny Wulandari
Karya Eny Wulandari Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 27 Juli 2016
Sisi Gelap Terlalu Suka Berbahasa Inggris

Semoga apa yang terjadi pada saya bisa memberi pelajaran bagi orang tua yang kini makin marak mengajarkan Bahasa Inggris sebagai bahasa pergaulan sehari-hari di rumah.

Saya lahir dari keluarga yang sama sekali tidak mengenal Bahasa Inggris. Ayah dan ibu saya tidak mengecap bahasa ini saat mereka sekolah. Saya suka berbahasa Inggris bisa dibilang sudah menjadi takdir. Berawal dari ketidaksengajaan membuka buku pelajaran Bahasa Inggris saudara saya. Gambar dan segala tulisan aneh yang saya lihat untuk kali pertama saat itu membuat saya langsung penasaran. Perkenalan saya dengan bahasa ini terjadi saat saya masih SD. Saat itu belum diajarkan bahasa ini. Beberapa tahun kemudian barulah saya resmi belajar bahasa ini saat di bangku SMP. Standar pelajarannya. Tata bahasa dan kosakata. Membaca dan sangat sedikit menulis.

Banyak mendengarkan lagu bagus semakin membuat saya menyukai bahasa ini. Tak lagi ia hanya sebagai mata pelajaran yang membuat saya lebih pintar dibanding mata pelajaran yang lain, Bahasa Inggris lama-kelamaan menjadi bagian dari diri saya. Seolah saya menemukan sisi diri saya yang lain setiap kali berbicara, terlebih menulis, dalam bahasa asing yang satu ini.

Bukan kebetulan pula akhirnya saya kuliah di jurusan Sastra Inggris. Saya mencoba mengambil jurusan yang lebih ‘realistis’, yakni Sekolah Tinggi Akuntansi Negara/STAN, tetapi saya gagal dalam tes masuk. Ingin masuk jurusan IPA biar terlihat ‘wah’ di mata banyak orang toh pada akhirnya masuk IPS. Sudah berulang saya berusaha lepas dari Bahasa Inggris tetapi ujung-ujungnya nyemplung juga di dunia ini. Jodoh. Mau apa lagi..

Sewaktu kuliah, kecintaan saya terhadap bahasa ini semakin menjadi-jadi. Penyebabnya adalah saya menemukan teman dan komunitas yang luar biasa mendukung. Saya mulai mencintai sastra dan semakin asyik menggeluti buku. Buku sudah tak lagi jendela pengetahuan melainkan lebih sebagai suatu vitamin, yang saya tidak bisa hidup tanpanya.

Di banyak sisi, segala cerita di atas sangat membuat saya beruntung sebab saya meraih banyak manfaat sekarang, materi adalah salah satunya. Tetapi ada satu hal yang terkadang mengusik saya, berharap saya sekali waktu membaca karya sastra Indonesia. Sekarang saya merasakan akibatnya..

Novel terakhir yang saya baca adalah Lalita karya Ayu Utami. Itu pun saya baca sekitar 2013. Sudah tiga tahun saya tidak membaca satu pun novel karya anak bangsa. Selain cerita yang kalah dari Saman dan Larung, saya agak tersiksa membaca novel berbahasa Indonesia. Mungkin terdengar aneh tetapi itu yang saya rasakan. Membaca novel bagi saya adalah berpetualang dengan batin, dan sudah lama sekali saya tidak merasakannya ketika membaca novel dalam Bahasa Indonesia. Bahkan novel dengan sentuhan emosi hebat, seperti Muhammad: Lelaki Penggenggam Hujan, saya selesaikan secara susah payah.

Seolah ada benteng kalbu yang harus saya dobrak demi menikmati membaca novel dalam Bahasa Indonesia secara total. Itulah hal negatif dari hobi saya yang terlalu banyak membaca novel berbahasa Inggris.

Sekarang saya berusaha mengubah hal tersebut dengan rutin membaca cerpen. Siapa tahu suatu saat nanti saya bisa menikmati novel dalam Bahasa Indonesia sama berkesannya dengan ketika membaca novel berbahasa Inggris. Semoga.

Gambar diambil dari www.theguardian.com