Dua Penulis Ini Paling Membuatku Iri

Eny Wulandari
Karya Eny Wulandari Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 25 Juli 2016
Dua Penulis Ini Paling Membuatku Iri

John Steinbeck (1902-1968) dan Thomas Hardy (1840-1928) adalah penulis yang paling aku sukai. Soal ide cerita, teknik penuturan dan karakterisasi, keduanya diakui salah dua yang terbaik di dunia sastra. Aku sendiri menyukai karya-karya mereka terlebih juga karena aku merasa keduanya banyak mewakili sifat dan pandanganku tentang banyak hal.

Secara umum, Thomas adalah penulis yang, walaupun banyak mengangkat banyak kisah tentang romansa, tetapi hampir sulit bagiku menangkap sisi romantis dari buku-bukunya. Topik ini dia balut sedemikian realistis hingga menikmati asmara dua tokoh utamanya pun aku harus meraba-raba, mulai dari kalimat, yang sangat jarang ada penggalan lebay, hingga adegan manis yang tak banyak jumlahnya.

Thomas bisa juga dibilang penulis yang realistis cenderung ‘dark’ jika pesimistis terlalu berlebihan. Ia mengutarakan masalah sosial, agama, idealisme, feminisme yang mengelilingi kisah asmara dua tokoh yang ia pilih. Buat yang tertarik, saya rekomendasikan membaca novelnya, ‘Far from the Madding Crowd’ dan ‘Tess of the D’Urbervilles’. Dua-duanya sudah beberapa kali diadaptasi ke dalam layar perak. Harap menyiapkan diri emosi teraduk menikmati karya-karya Thomas.

Tulisan John terasa sangat berkesan bagiku sebab ia banyak sekali mengangkat kisah kaum papa, kaum buruh, orang marginal. Tulisannya mengandung banyak kritik, lagi-lagi realistis, dan tidak seperti Thomas, John meninggalkan sentuhan positivisme betapa pun sepanjang novel ia banyak mengetengahkan kisah muram atau miris. Ini yang aku suka. John juga menjadi penulis pertama yang mengajarkan bahkan tempat kelahiran, hal-hal sederhana bisa menjadi ide brilian asal mau mengolahnya. Singkat kata, karya John adalah bukti nasionalismenya. ‘Cannery Row’ adalah satu contoh novel yang banyak menceritakan tanah kelahirannya, Salinas, California, Amerika Serikat.

Sementara itu, dua penulis yang paling membuatku iri adalah Oscar Wilde dan Nury Vittachi.

Oscar Wilde (1854-1900), penulis Irlandia, dikenal dengan karya dramanya. Aku sendiri dan kawan baik saya, Lia Balantina, memilih dramanya, ‘The Importance of Being Earnest’, sebagai bahan diskusi untuk salah satu kelas saat kuliah. Kami berdua suka sekali mengerjakan ini sebab sangat terkagum dengan kejeniusan Oscar. Yang aku suka dari dia, dan sulit sekali aku raih meski telah beberapa kali mencoba, adalah gaya penulisannya yang satir, kocak tetapi sangat jujur. Seperti tersengat oleh kecerdasannya dalam meramu karya-karya sastranya.

Ia acapkali mengkritik gaya aristokrat kaum ningrat Inggris zaman tersebut, yang menurutnya terkadang bodoh dan sok. Menikmati karya-karyanya membuatku selalu tertawa. Betapa tema berat bisa ia sajikan dengan bahasa kocak. Satu-satunya karyanya, tepatnya satu-satunya novel yang ia tulis, ‘The Picture of Dorian Gray’, menjadi pengecualian. Novel ini mengandung aspek Gothic, karya serius dengan kritik lantang tentang orang yang ingin awet muda. Novel ini luar biasa sebab sukses menghadirkan sensasi horor secara psikologis. Sayang Oscar hanya menulis satu novel ini saja.

Nury Vittachi, lahir pada 1958, adalah penulis dan blogger favoritku. Aku ingin bisa menulis seperti dia; selalu bisa melihat sisi unik suatu peristiwa lalu menjabarkannya secara lucu. Penulis yang berdomisi di Hong Kong banyak menghiburku melalui tulisannya yang tetap ‘berisi’ meski sajiannya ngawur. Tulisan dia yang konyol bisa dijumpai di blog pribadinya http://mrjam.typepad.com/.

Salah satu artikel yang paling aku ingat adalah saat ramai badai Katrina. Di tulisannya dia menanyakan mengapa nama-nama badai justru sangatlah lucu, seperti Katrina. Seharusnya, nama badai harus mengerikan biar menimbulkan efek menyeramkan, seperti ‘Monster Pembunuh’ atau ‘Si Pembawa Kematian’. Aku sih sewaktu membaca ini tertawa terpingkal-pingkal lalu pada akhirnya bilang,” Iya, ya, benar juga.” Tulisannya bisa dilihat di sini.

Oscar dan Nury adalah dua penulis yang mewakili hal yang aku dambakan tetapi harus aku akui sulit bisa seperti mereka sebab pada dasarnya aku memang penulis serius. Bagaimana pun aku selalu percaya karakter bawaan lahir penulis tetap memainkan peran sangat penting dalam setiap karya yang mereka ciptakan. Itulah sebabnya suatu karya bisa ditebak siapa yang menulis dari gaya bahasa dan pemikiran yang disampaikan.

Ah, memang ada hal yang tidak bisa diubah di dunia ini..

Sumber gambar: www.jecraft.com