Resensi ‘Of Mice and Men’, Buku Favorit Saya

Eny Wulandari
Karya Eny Wulandari Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 17 Juni 2016
Resensi ‘Of Mice and Men’, Buku Favorit Saya

Dari baru sekian puluh novel yang pernah saya baca, belum ada yang sanggup menggeser Of Mice and Men dari tangga tertinggi novel yang paling saya sukai. Ide cerita, teknik penulisan, penokohan, penjabaran setting hingga alur menurut saya: brilian!

Of Mice and Men (1937) adalah novel karya penulis asal Amerika Serikat, John Steinbeck, yang pernah memenangkan Nobel untuk kategori sastra pada 1962. Ia dan Thomas Hardy (Inggris) adalah dua penulis favorit saya. Hingga kini sulit bagi saya untuk memilih mana yang terbaik dari keduanya.

Ide cerita Of Mice and Men adalah seputar dua sahabat lama; Lennie Small dan George Milton. Keduanya adalah pekerja migran, yang berpindah dari California demi memperoleh penghidupan yang lebih baik. Setting Great Depression di negara tersebut menjadi latar cerita ini atau dengan kata lain tokoh dalam novel ini mengusung tema cara bertahan hidup, syukur-syukur bisa menjadi orang berkecukupan.

Walaupun bernama lengkap Lennie Small (small=kecil), ia secara postur tinggi, besar, mempunyai kekuatan fisik yang luar biasa. Akan tetapi, Lennie mempunyai keterbatasan mental. Oleh karena itu, ia sangat mempercayai dan mengandalkan sahabat karibnya, George Milton, yang berpostur lebih kecil tetapi cerdas walau tak berpendidikan.

Sebenarnya sahabat saya, Lia, sudah memperingatkan saya bahwa dua karakter utama tersebut akan membuat saya depresif bahkan sebelum rampung menyelesaikan bacaan ini. “Steinbeck ‘tega’ emang kalau bikin karakter,” ucap teman saya saat itu. Tetapi rasa penasaran membuat saya kekeuh membaca novel ini meski tepat seperti ucapan sahabat saya, hati saya bahkan miris hanya dari membaca beberapa halaman awal, mengenal dan memahami sifat Lennie.

Saya selalu merasakan ironi yang hebat tiap kali melihat, baik secara langsung atau hanya dalam novel, karakter seperti Lennie; orang dengan fisik yang kuat tetapi memiliki keterbatasan mental. Dua tokoh ini begitu apik disajikan oleh John dari awal hingga akhir.

Guna semakin menambah haru dan getir cerita, John menggunakan teknik penceritaan penggambaran yang memang kesukaan saya. Teknik ini sanggup membuat suasana novel menjadi kian temaram. Imajinasi saya pun terbangun dengan baik, saya pun sangat larut dalam membacanya.

George dan Lennie berkelana mencari pekerjaan. Dikarenakan kondisi ekonomi yang sangat terpuruk saat itu, keduanya pun bekerja sebagai buruh dengan ala kadarnya. Segalanya berjalan biasa saja hingga suatu hari Lennie ‘berurusan’ dengan salah satu majikannya, yang seorang perempuan. Sebenarnya penyebab sepele tetapi perempuan ini benar-benar menguji batas kesabaran Lennie hingga ia pun melakukan hal yang di luar kendalinya, yang pada akhirnya memaksa George mengambil keputusan menyentak atas sahabatnya tersebut. Saya cukupkan resensi di sini saja agar teman inspirator membaca buku ini sendiri..

Yang paling sadis dari John adalah teknik dia yang membangun emosi pembaca sedikit demi sedikit, pelan demi pelan hingga akhirnya meledak di ujung cerita! Akhir kisah baru diketahui pada halaman terakhir novel. Cara penceritaan yang edan ini sukses menghadirkan sensasi yang tak bisa saya gambarkan dengan kata-kata hingga sekarang. Usai menutup buku, rasanya campur aduk; antara sedih, senang, puas, tak terima, dan sebagainya.

Urusan pesan moral tentunya banyak yang bisa saya ambil. Yang paling saya soroti adalah seberapa besar batas kesabaran seseorang dalam menghadapi masalah pelik. Ini juga yang paling membuat saya kesengsem sama buku ini sebab menghadirkan pesan atau pertanyaan realistis yang berlaku bagi siapa saja. Buku yang memancing siapa saja bertanya dalam hatinya sendiri; “Bagaimana jika aku jadi dia?”

Saya selalu merekomendasikan buku ini buat siapa saja yang doyan baca. Bukunya tipis tetapi harga cukup mahal, haha! Buat yang mau beli baru bisa ke toko buku Kinokuniya tetapi bisa pula beli lewat toko online atau pasar loak. Bukan promo loh, hehe..

Selamat membaca, kawan-kawan inspirator.

Dilihat 214