Curhat seorang pemimpi

Eny Wulandari
Karya Eny Wulandari Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 26 Mei 2016
Curhat seorang pemimpi

Salah satu nasehat ayah saya yang paling saya ingat sekaligus menancap dalam diri saya adalah: “Nak, jangan mimpi terlalu tinggi tanpa modal yang cukup.”

Biasanya saya cuma tersenyum mendengar nasehat itu sebab saya tahu saya akan melanggar nasehat yang satu itu, satu-satunya nasehat beliau yang paling tidak saya gubris. Saya sendiri curiga beliau memang mengatakan itu sebab ia paham putrinya yang satu ini memiliki banyak mimpi dalam hidupnya.

Saya memang seorang pemimpi. Dari sekian banyak mimpi saya, mungkin keinginan saya yang normal di mata banyak orang adalah menjadi wanita karir dan mandiri, tidak merepotkan orangtua urusan uang untuk keperluan diri saya sendiri. Sisanya? Hmm.. lebih tepatnya banyak sisa lainnya adalah nonton Juventus, bertemu Alessandro Del Piero, bernyanyi bersama Westlife, dan bersua dengan pemain bulutangkis kebanggaan negeri. Hahaha...

Sebelum ada beberapa orang yang terheran-heran mengetahui saya ke Sydney demi bertemu Alessandro Del Piero, percaya deh saya sudah pusing dengan maksud batin saya tersebut selama setahun. Saya sudah merasa aneh dengan diri saya sendiri jauh sebelum orang lain menyadarinya. Berhubung selama setahun saya gelisah dan merasa ada yang belum tuntas dalam diri saya akhirnya saya mengikuti kata hati dengan pergi ke Sydney.

Dan voila!

Hasilnya memang segala hal yang terkait dengan pengalaman selama di Sydney menjadikan hidup saya terasa sangat menakjubkan. Benar-benar mengingat kejadian tersebut membuat saya sangat beruntung bisa menjalani hidup seperti mau saya.

Hingga sekarang saya suka bertanya kenapa ada orang seperti saya, yang bisa tergila-gila terhadap orang atau hal yang bisa dibilang remeh. Kata teman kantor saya dulu, menjagokan tim bola tertentu kan nggak bikin dapat duit, mbak En? Bener juga sih.

Terus ada pula yang seperti adik atau teman-teman saya yang kalau pun mempunyai idola, ekspresi mereka biasa saja alias tidak sampai menggebu-gebu alih-alih berharap bisa berjumpa dengan idola mereka.

Dipikir-pikir harapan saya bertemu pemain Juventus atau Ale juga bukan hal yang saya ucapkan terlalu serius. Dulu sekali saya memang pernah berucap ingin sekali dalam seumur hidup bertemu mereka tetapi hal itu keluar dari mulut saya tanpa niat yang teramat besar. Saya sendiri kala itu meragukan hal tersebut bisa terwujud. Rasanya seperti tidak mungkin.

Sisi positifnya adalah saya menjadi tidak terlalu terfokus mengejar mimpi saya tersebut dan melanjutkan hidup normalnya orang lain. Hingga akhirnya setelah 13 dan 17 tahun, saya takjub dengan cara Alloh swt mengabulkan keinginan konyol tadi.

Di balik keberhasilan saya bertemu dengan idola saya di masa kecil dan remaja, ada segudang pelajaran luar biasa yang saya petik dan selalu menjadi pelecut semangat saat saya loyo atau patah harapan.

Di situ, saya belajar mengagumi bagaimana Alloh swt bekerja dengan cara yang luar biasa. Siapa kira saya bisa bekerja menjadi wartawan dan bisa mewawancarai Susi Susanti sendiri? Siapa sangka saya dapat melihat Rexy Mainaky berdiri di hadapan saya? Dua orang ini adalah atlet nasional yang paling saya gemari hingga saat ini. Setelah 17 tahun, saya tidak akan pernah menyangka akhirnya bisa menonton Juventus bermain di stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, tepat saat saya bekerja di kota ini. Bayangkan jika saya berada di luar kota. Pasti akan repot mencari penginapan, dll. Benar-benar jika sudah memang rezeki, Alloh swt akan memudahkan segalanya.

Dari semuanya saya belajar saya tidak selalu perlu mengendalikan hidup saya. Toh saya juga siapa? Ada Alloh swt yang akan mewujudkan mimpi saya jika memang sudah menjadi rezeki saya yang tidak akan pernah tertukar. Dan hal luar biasa yang paling saya membuat saya bahagia adalah memimpikan hal itu semua menjadikan hidup saya terasa sangat fluktatif, kadang naik dan kadang turun. Saya pun jadi bisa menikmati hidup dengan segenap emosi.

I mean I’m totally living my life.

Tidak mengikuti kata orang atau apa yang seharusnya dikatakan orang lain melainkan menjalaninya sesuai kata hati saya.

Kalau sudah begini, apalagi yang bisa saya katakan selain bersyukur dan bersyukur saya benar-benar melukis hidup seperti yang saya mau.