Tiga Kiat Sederhana Menaklukkan TOEFL

Eny Wulandari
Karya Eny Wulandari Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 09 Mei 2016
Tiga Kiat Sederhana Menaklukkan TOEFL

Beberapa kawan sering bertanya kepada saya cara mencapai skor Test of English as a Foreign Language atau TOEFL tinggi begitu mereka tahu saya lulusan Sastra Inggris. Saya sendiri tidak memiliki kiat spesial sebab sewaktu saya kuliah tidak ada pelajaran khusus tentang TOEFL. Yang paling saya ingat sewaktu masih menjadi mahasiswa baru kami mengikuti tes ini tetapi hasilnya hanya sebagai rekam jejak saja.

Tak adil rasanya saya memakai sudut pandang sebagai yang menggilai Bahasa Inggris sejak saya masih sangat belia sebab tak semua orang seperti saya. Bahkan, mungkin yang bertanya kepada saya adalah orang yang teramat sangat membenci bahasa asing itu namun sayang di suatu persimpangan waktu mereka ‘terpaksa’ harus melewati ujian TOEFL demi tiket untuk sekolah S2, mendapatkan beasiswa sekolah di luar negeri, melamar pekerjaan atau yang lainnya. Berikut yang bisa saya bagi di sini:

  1. Banyak Berlatih

Kecuali inspirator mempunyai banyak uang untuk kursus super singkat dengan biaya jutaan rupiah, saya bisa katakan tidak ada cara instan menguasai tes TOEFL. Beberapa sahabat bertanya soal cara menembus skor 450 atau 550 hanya beberapa minggu jelang mereka tes. Terus terang saya bingung mau jawab apa. Menurut saya, satu-satunya cara adalah dengan banyak belajar. Dan lakukanlah jauh-jauh hari bahkan ketika tidak tahu kapan akan tes. Sebab suka atau tidak, kita akan berhadapan dengan tes ini kapan saja. Jadi lebih baik belajar sedikit demi sedikit di sela kesibukan yang lebih penting lainnya sehingga kita bisa siap tes kapanpun.

  1. Kenali kelemahan dan kekuatanmu

Bahasa Inggris mengenal keahlian membaca, mendengar, menulis dan berbicara. Keseluruhan keahlian tersebut tercakup dalam tes TOEFL. Khusus untuk keahlian membaca, peserta dihadapkan pada tes tata bahasa dan struktur selain menjawab pertanyaan berdasarkan teks atau artikel. Berbicara dan menulis tidak masuk ke dalam tes TOEFL jenis Instutional Testing Program (ITP) sedangkan tes TOEFL iBT atau tes TOEFL yang berbasis internet mencakup ke semua keahlian tersebut. Pentingnya memahami keahlian mana yang kita kuasai dan tak begitu kita jago adalah kita bisa mengatur strategi waktu pengerjaan tes sekaligus memprediksi bagian mana yang bisa memberikan skor tertinggi.

Saya, misalnya, kurang menguasai bagian mendengarkan jadi setiap kali tes saya cenderung tak berharap banyak terhadap beberapa jenis model tes mendengarkan dengan teks yang panjang. Saya akan lebih berfokus mendulang skor pada soal mendengarkan berdurasi pendek juga pada bagian keahlian yang lain.

  1. Belajar ‘online’

Ada banyak sekali situs yang menawarkan belajar TOEFL secara ‘online’. Daripada membeli buku TOEFL yang cepat habis dibaca dan dipelajari saya lebih menyarankan banyak membaca contoh soal yang ada di internet. Jika menemukan situs yang menyertakan jawaban dan pembahasannya akan lebih baik jadi bisa belajar secara gratis. Semakin sering belajar dan berlatih, akan semakin paham dan mengenali bahwa sebenarnya pola soal dalam tes TOEFL kurang lebih sama, terutama untuk struktur dan penulisan.

Sekian dari saya. Selamat mencoba!

Gambar diambil dari www.usnews.com