Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Bola 25 April 2016   16:40 WIB
Hal Paling Edan yang Pernah Aku Lakukan (1)

Hal tersinting yang pernah aku lakukan adalah menemui Alessandro Del Piero di Sydney, Australia, akhir November 2013. Aku sudah mengidolai Ale, begitu ia disapa, sejak 2000. Awalnya pemain yang aku pertama suka adalah Filippo Inzaghi sebab menurutku dia lebih piawai mencetak gol. Justru Ale lebih membuatku sebal. Sebab ia lebih lama dimainkan dibandingkan Pippo, tandemnya ketika itu.

Tetapi berawal dari benci lama-lama aku tergila-gila dengan Ale. Aku merasa Ale mewakili beberapa sifat penting dari diriku sendiri. Walau waktu itu aku masih remaja, belum paham mengenali benar karakterku yang sesungguhnya tetapi aku selalu yakin aku adalah orang yang pekerja keras, ambisius, cenderung perfeksionis, serius dan tidak pernah puas. Aku melihat sifat ini di diri Ale selama mengikuti kiprahnya selama dua tahun pertama aku mencintai Juventus.

Marcello Lippi memang tidak salah lebih mengutamakan Ale. Bisa dibilang ia bermain konsisten bermain bagus selama 90 menit plus ‘injury time’. Ia bukan tipikal penyerang yang tinggal menunggu umpan. Ia adalah jelmaan sempurna sosok nomor punggung 10 yang memang gesit mencari peluang mencetak gol. Ale selalu ada saat dibutuhkan dan ia selalu haus akan kemenangan. Sosok yang serius, jauh dari gosip. Bahkan foto-foto pernikahannya dengan Sonia Amoruso pun hingga kini tidak pernah nongol di Google.

Ia juga pemain setia. Saat Juve digusur ke Serie B dan ia sebenarnya bisa menerima pinangan klub besar lainnya, Ale memutuskan bersama Si Nyonya Tua. Benar saja, ia malah jadi top skorer Serie B dan Juve cuma butuh satu musim untuk kembali ke liga yang memang miliknya, Serie A.

Tak hanya soal urusan bermain, aku mengagumi dia dari karakternya sebagai pemain yang dicintai kawan dan disegani oleh lawan. Bahkan jika kau tidak mengaguminya pun, sulit bagimu untuk membencinya. Ale mempunyai kharisma juara yang bisa membuat supporter lawan pun tetap menghormatinya. Aku mengikuti perjalanan karir dan kehidupan pribadinya bertahun-tahun. Aku sudah tak terlalu mengikuti dunia bola pas aku masuk dunia kerja.

Pun demikian, mimpi saat remaja, yang selintas saja terpikirkan, bahwa aku ingin bertemu dengan Ale dan Juventus, tetap ada.

Orang bilang di balik tiap berita buruk ada hikmahnya.

Pada 2013, aku sedih habis akhirnya Ale harus hengkang dari Juve. Mengingat cinta Ale yang begitu besar ke Juve, rasanya ini berita yang sangat pahit buat aku telan. Berminggu-minggu aku galau. Nggak ngira juga rasanya bisa sesedih ini. Sampai aku ikutan tanda tangan petisi bersama ribuan Juventini lain agar Ale dipertahankan tetapi apa daya.

Siapa sangka tak berapa lama muncul berita Ale justru memilih ke Sydney FC. Ia sebenarnya didekati oleh beberapa klub Eropa, termasuk dari pesaing Juve di Serie A, namun kesetiaannya kepada Juve membuatnya menolak tawaran tersebut. Bahkan Ale pun tidak mau mengecewakan klub yang sebenarnya sudah tidak mau menerimanya lagi. Sebut dia ‘pathetic’ atau butuh belas kasihan namun buatku yang dilakukan Ale adalah hal yang sangat manis..

Seolah keinginan masa lalu kembali muncul. Kebetulan sekali ada tabungan yang cukup dan aku masih bisa memakai Bahasa Inggris di Sydney, jadi kenapa tidak dicoba? Awalnya, aku hendak membatalkan niatku ke sana. Di pikiranku selalu terlintas pertanyaan untuk diriku sendiri: ‘Hah? Ke Sydney? Hanya demi Del Piero? Gila!’

Berlanjut ke Hal Paling Edan yang Pernah Aku Lakukan (2)

Karya : Eny Wulandari