Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Bola 20 Januari 2016   05:22 WIB
Juve dan Deretan Pelatih Perfeksionis

Pekik teriakan Massimiliano Allegri memecah Stadio Sandro Cabassi, kandang Carpi, 20 Desember 2015, saat Claudio Marchisio salah mengumpan bola. Bola pun akhirnya jatuh ke kaki pemain Carpi. Tak cukup itu, aksi garang Max terekam lebih menyeramkan lagi tatkala bola hampir saja masuk ke gawang Gianluigi Buffon untuk kali ke-3 alias Carpi hampir saja menyamakan kedudukan menjadi 3-3 jika bola lolos dari genggaman Gigi.

Dalam kamera terlihat Max berteriak, menanggalkan ?coat? miliknya, melemparkannya ke tanah. Butuh seorang ofisial laga dan staf Juventus untuk menenangkan Max. Bahkan ketika Juve sudah unggul 0-3 atas tuan rumah Udinese pada ?giornata? ke-20 pun pada 17 Januari 2016, teriakan Max masih menggema di Stadion Friuli.

Kekesalan Max memang beralasan. Pada 24 September 2015, Juventus nyaris memperoleh tiga poin sempurna lewat gol dari Simone Zaza namun siapa kira harapan tersebut musnah setelah Leonardo Blanchard menyamakan kedudukan di menit-menit akhir pertandingan. Berkaca dari hasil tersebut, Max pun sering terlihat ?ganas? meski Juve sudah unggul. Suara nyaring memekakkan telinga, entah itu berupa instruksi atau sekadar memotivasi pemain kerap terdengar saat dia berdiri di pinggir lapangan. Buat penonton pun kerasnya suara Max sangat bisa didengar.

Selain Max, pelatih Juventus sebelumnya Antonio Conte juga tak kalah beringas. Sementara Max kerap terdengar garang lebih dari segi suara, Conte mempunyai gerak tubuh khas tatkala Juve tertinggal atau saat timnya unggul pun Conte masih tak mau menyepelekan skor masih bisa berubah saat peluit panjang wasit masih belum berbunyi. Gerak tubuh Conte lebih terlihat atraktif, mencak-mencak di sisi lapangan, ?ngomel-ngomel? ke pemain Juventus jika melakukan kesalahan.

?Ganasnya? sikap Conte pernah dijabarkan oleh mantan pemain Si Nyonya Tua, Andrea Pirlo dalam bukunya ?I Think Therefore I Play?. Ia bahkan menyebut tak mau duduk di sebelah Gigi Buffon di kamar ganti sebab Conte akan meluapkan emosinya di sekitar tempat tersebut jika pemain Juve lengah dalam bertanding. Kalau boleh memilih, Pirlo ingin pindah dari tempat itu agar tak mau ?kecipratan? kemarahan Conte.

Buah dari sikap perfeksionisme Conte adalah 49 laga tanpa kekalahan di Serie A musim kompetisi 2011/2012. Dan hadiah dari ledakan emosi Max untuk musim 2015/2016 adalah 10 kemenangan berturut-turut dalam Serie A. Tanpa suara mengggelegar di sisi lapangan, Juve tak kan mampu melompat dari posisi ke-17 ke posisi ke-2 hanya dalam waktu empat bulan, dimana Si Kuda Zebra tinggal terpaut dua angka dari sang ?capolista?, Napoli.

Sangat dimaklumi Conte mau pun Max harus mengeluarkan segala yang dimiliki agar Juve tampil stabil dan tetap bisa ?clean sheet?. Meski memiliki pemain belakang hebat di Italia, Juve masih kerap melakukan kesalahan. Leonardo Bonucci melakukan gol bunuh diri ke gawang Gigi dalam laga kontra Carpi di atas dan Giorgio Chiellini beberapa kali melakukan kesalahan fatal di depan gawang Gigi, misalnya terhadap Marco Reus yang berujung pada gol bagi Borussia Dortmund dalam Liga Champions musim 2014/2015 lalu.

Bagi tim berjuluk Kekasih Italia ini, tuntutan menang dan tampil sempurna membentuk pelatih yang menanganinya, tak terkecuali Max yang sempat dipecat oleh AC Milan, menjadi perfeksionis. Sebab hanya dengan disiplin dan mempertahankan konsentrasi tinggi saja Juve akan bisa mempertahankan gelar Scudetto untuk kali ke-5 secara berturut-turut musim ini.

Foto diambil dari www.101greatgoals.com?

?

Karya : Eny Wulandari