Bulan Madu Kilat Klopp di Liverpool

Eny Wulandari
Karya Eny Wulandari Kategori Bola
dipublikasikan 20 Januari 2016
Sepakbola, Gengsi dan Harga Diri

Sepakbola, Gengsi dan Harga Diri


Bola adalah salah satu bagian dari hidup saya. Bikin senang, sedih, galau, pusing, marah-marah tetapi yang pasti bola bikin saya ketagihan.

Kategori Acak

2.5 K Hak Cipta Terlindungi
Bulan Madu Kilat Klopp di Liverpool

Meski bukan seorang Liverpudlian, saya termasuk orang yang senang mendengar Jurgen Klopp melatih Liverpool. Alasannya sederhana saja, sayang bila pelatih hebat tipikal revolusioner macam Klopp lama menganggur. Bergabungnya Klopp ke Liverpool akan membuat aroma persaingan tim di Liga Primer Inggris semakin sengit meski saya sendiri lebih menyukai Serie A Italia. Semata demi tontonan kulit bundar yang kian ketat, adu taktik cemerlang yang kesemuanya menjadi sajian layak ditonton bagi siapapun, termasuk mereka yang bukan pecinta Liverpool, termasuk saya.

Tak mengherankan bila semangat saya mendengar Klopp bergabung ke Anfield berbarengan dengan tingginya harapan Liverpudlian. Awal buruk Liverpool musim 2015/2016 bersama manajer lamanya, Brendan Rodgers, cukup menjadi alasan fans tim ini gerah menanti revolusi baru.

Pada Oktober tahun lalu pun Klopp menyepakati kontrak berdurasi tiga tahun sebagai manajer Liverpool. Untuk tim yang baru saja ditinggal legendanya Steven Gerrard dan Luis Suarez, Liverpool begitu kehilangan energi. Tak heran jika Klopp, yang dikenal sukses merevolusi Borussia Dortmund, menjadi pilihan yang pas untuk saat ini bagi Liverpool. Menjadikan Liverpool tim yang solid dan tangguh meski tak lagi ditopang bintangnya adalah tugas berat Klopp di tengah persaingan yang tetap panas di ranah liga terpopuler sedunia tersebut.

Harapan mulai menjadi nyata setelah dalam laga debutnya melawan tim tangguh, Tottenham Hotspur, Klopp membawa Liverpool bermain seri 0-0 dalam laga tandang pada 17 Oktober 2015. Masih dalam ajang Liga Primer Inggris musim ini, Klopp bahkan sempat membawa anak asuhnya menaklukkan Chelsea 3-1 dalam laga tandang di Stamford Bridge. Dahsyatnya lagi, Liverpool menang besar 1-4 atas tim tuan rumah Manchester City di Etihad Stadium, hasil yang merupakan capaian terburuk City dalam 12 tahun.

Sayangnya, masa bulan madu bersama Klopp mulai berakhir bulan ini. Pada 2 Januari lalu, Liverpool mulai menelan kekalahan di liga domestik. Tim ini tumbang 2-0 dari West Ham United lalu bermain seri 3-3 versus Arsenal masih dalam ajang Liga Primer Inggris. Dan pekan lalu, Liverpool justru kalah 0-1 di kandang sendiri oleh Manchester United, musuh bebuyutan yang sebenarnya saat ini sedang suram performanya.

Masalah yang dihadapi oleh Klopp diperparah dengan cederanya sejumlah pemain pilar, seperti Philippe Coutinho, Dejan Lovren dan Kolo Toure. Belum lagi Martin Skrtel, Jordan Rossiter, Divock Origi dan Daniel Sturridge juga menderita cedera otot paha. Ada sejumlah pihak yang menyebut sesi latihan berat a la Klopp menjadi penyebab banyaknya pemain The Reds yang cedera. Porsi latihan yang berat ditambah jadwal bertanding yang padat dinilai terlalu memberatkan pemain The Reds. Akan tetapi, hal tersebut dibantah oleh pemain The Reds sendiri Emre Can yang menilai tidak ada hal yang berlebihan dengan cara melatih Klopp.

Selain internal, tentunya tantangan berat Klopp adalah menjaga agar The Reds bisa terus bersaing. Liverpool yang kini terpaut 13 poin dari Arsenal, sang pemuncak klasemen sementara saat ini, makin menambah beban pikiran Klopp. Keinginan agar bisa finish lebih baik dari posisi akhir nomor 6 musim 2014/2015 lalu kini terasa semakin berat. Ditunggu lecutan semangat dan ramuan taktik Klopp saat The Reds sudah berpunggawa lengkap demi tontonan berimbang tim papan atas dan menengah Liga Primer Inggris.

Foto diambil dari www.telegraph.co.uk

  • view 238