Jangan Berlebihan! Efek Abadi Ini Dapat Membuat Bisnismu Kolaps

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Enterpreneurship
dipublikasikan 30 Oktober 2017
Jangan Berlebihan! Efek Abadi Ini Dapat Membuat Bisnismu Kolaps

Hampir semua orang pernah merasakan sebuah kemelekatan dengan sesuatu dan tidak bisa melepaskan. Meskipun sebenarnya keputusan untuk berlalu harus diambil. Semisal mempertahankan pekerjaan dengan buruknya budaya kerja, berada tetap dekat dengan perundung atau penyeleweng walau menyakitkan, bahkan sesederhana mempertahankan barang kesayangan yang seringkali rusak setelah diperbaiki. Kamu tidak bisa lepas karena sudah merasa tidak ada jalan lain selain jalan itu, yang terbaik menurutmu saat ini. Pernah kah kamu mengalaminya?

Menurut Ilmu psikologi sosial, ketika kamu pernah, atau mungkin sedang mengalaminya, berarti kamu pernah mengalami bias kognitif bernama efek abadi (endowment effect), Inspirator. Perasaan yang kamu rasakan bisa salah, karenanya disebut bias. Bias semacam itu dinamakan instant endowment effect oleh Daniel Kahneman sebab adanya rasa kepemilikan berlebihan yang dialami seseorang terhadap sebuah nilai pada obyek miliknya. Seolah-olah dengan adanya kepemilikan atau suatu kondisi yang sedang dijalani hidupnya akan selalu terbaik untuk selamanya, bagaimanapun keadaannya. Padahal tidak sama sekali, karena hidup selalu dinamis, terutama ketika berbicara tentang bisnis.

Sangat dekat dalam lingkup ilmu psikologi, endowment effect juga tidak asing dalam sektor ekonomi dan bisnis, lho. Sayangnya, kebangkrutan sebuah bisnis lebih terlihat ketika seorang entrepreneur tidak sengaja terperangkap dalam kondisi bias kognitif endowment effect ini. Dibandingkan dengan efek yang terjadi pada kegiatan sehari-hari. Mengapa? Sebab pebisnis menjadi tidak rasional melihat kenyataan saat ini ketika ia sudah memiliki kemelekatan pada sesuatu yang seharusnya ia lepaskan.

Kisah yang lebih konkret pernah dialami oleh perusahaan pelopor di dunia fotografi. Dua atau tiga generasi keluarga sebelum Inspirator sekalian lahir umumnya menggunakan kamera film bermerek Kodak ketika hendak berfoto ria. Kodak selalu menggunakan teknologi roll film tanpa digitalisasi karena (film-based) adalah keunggulan perusahaan ini. Namun, “kepemilikan dari efek abadi” akan ciri khas perusahaan tersebut berubah menjadi senjata makan tuan. Kodak pun mengalami kebangkrutan saat tidak bisa menyesuaikan kemelekatannya terhadap kemunculan fotografi digital.

Berbeda dengan Kodak, kesuksesan menangkis endowment effect dialami oleh Bill Walsh, pelatih dan general manager dari American Football (National Football League). Bill tahu cara memilih pemain dan tetap meningkatkan kualitas permainan sehingga permainan selalu ramai diminati penggemar setia NFL. Caranya? Dengan melakukan transfer pemain ke tim lain ketika pemain tersebut sedang berada dalam masa-masa terbaiknya, yaitu satu tahun sebelum produksinya jatuh. Selain untuk menguji pasar, ia melakukan itu untuk menghindari kemelekatan karena endowment effect dalam sebuah tim.
 
 
 
 
 
 
*Dikutip dari berbagai sumber.

  • view 71