Bukti Kesuksesan Bisnis Hugh Hefner: Berawal dari Kebutuhan

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Tokoh
dipublikasikan 29 September 2017
Bukti Kesuksesan Bisnis Hugh Hefner: Berawal dari Kebutuhan

Siapa tidak mengenal Hugh Hefner? Ialah pendiri majalah yang membahas hal tabu, kontroversial, dan dianggap lebih banyak menyalahi norma adat ketimuran, Playboy. Sebagai pebisnis di bidang media, Hugh Hefner dinobatkan menjadi suksesor besar produk bisnis yang menargetkan laki-laki sebagai pasar bisnisnya. Berbeda dengan majalah laki-laki Esquire, tempat ia sempat bekerja menjadi editor, majalah yang dibuat oleh Hugh Hefner dianggap olehnya sendiri berfokus pada hak individu terutama laki-laki, hedonisme, dan kebebasan seksual.

Belajar dari Hugh Hefner, ia sangat mampu melihat perbedaan sudut pandang yang sebenarnya memang dibutuhkan banyak orang dan menjadikannya sebagai sebuah peluang, meski utamanya kebutuhan tersebut terkhusus bagi masyarakat barat. Mungkin kamu pernah dengar slogan “ketika seseorang menggenggam kebutuhan pasar, ia juga akan selalu menjadi juara dalam berbisnis”.

Tidak hanya bermodalkan kebutuhan pasar, memiliki keunikan dalam melihat sudut pandang dan peluang, Hugh Hefner cukup lihai memahami situasi yang sedang terjadi di negara asalnya. Ia juga berhasil mencari celah untuk menjadi orang-orang berpikiran out of the box di antara ketakutan orang-orang sekitarnya pada sesuatu yang dianggap sangat tidak masuk akal. Hal itu juga yang bisa dipelajari dari mendiang Hugh Hefner.

Peluncuran perdana majalah Playboy di tahun 1953 dianggap oleh banyak kalangan pun memiliki momentum yang tepat. Pasalnya, di tahun 1950an sedang hangat issue tentang kebebasan seksual dan propagandanya, dengan Hugh Hefner sebagai salah satu pelopornya. Otomatis kehebatan Hefner juga terlihat dari cara ia menunggangi isu pada permasalahan sosial yang sedang berkembang di masyarakatnya kala itu.

Penjualan majalahnya sempat tidak laku, pun pernah masuk perkara hukum di tahun 1963 karena jelas-jelas mengeksploitasi perempuan. Namun seiring dengan isu kebebasan dan “kebutuhan hakiki” manusia, majalah yang digemari oleh target pasarnya ini akhirnya tetap menjadi salah satu kerajaan bisnis Hugh Hefner selama ia hidup. Salah satu cara agar ia tetap mampu berbisnis di saat perkembangan minat masyarakat dengan majalah berkurang adalah dengan membuat Playboy Enterprise yang menampilkan festival musik, tv shows, percetakan buku, serta klub malam. Sehingga perputaran bisnisnya tetap berjalan serta tidak kaku pada satu bidang media saja, Inspirator. Semoga amal dan ibadah beliau diterima Tuhan, ya!

 

 

 

 

*Dikutip dari berbagai sumber.

  • view 64