Kebisingan Sekitar Candi Dijaga, Bagaimana dengan Kebisingan pada Pekerjanya?

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Kesehatan
dipublikasikan 29 September 2017
Kebisingan Sekitar Candi Dijaga, Bagaimana dengan Kebisingan pada Pekerjanya?

Konser band progresif metal terkenal di tahun 2017 ini sempat dipindahkan dari area Candi Prambanan ke lokasi lain di Yogyakarta. Pasalnya kebisingan yang dikeluarkan dari sebuah konser musik bergenre rock dan sejenis bisa terasa hingga sejauh 400 meter dari lokasi pusat bising. Belum lagi jejingkrak yang menghasilkan getaran tertentu dilakukan oleh penonton bisa mengganggu warga se-kampung.

Alasan utama sebuah perhelatan musik-musik keras tidak boleh dilakukan di situs budaya berusia lebih dari satu abad ditenggarai karena ingin memberikan perlindungan pada benda yang dianggap sepuh tersebut. Jika kondisi prima sebuah benda dari suatu kebisingan bisa dijaga sedemikian rupa agar lebih bertahan lama, bagaimana dengan kondisi pekerja di lingkungan candi, atau siapapun?

Kebisingan yang dirasakan oleh seseorang merupakan gabungan suara dari beberapa frekuensi mulai dari frekuensi tinggi maupun frekuensi gabungan. Sebuah kebisingan mampu merusak pendengaran dalam sekejap atau setelah dipaparkan berkali-kali pada manusia tanpa ia sadari, lho. Sumber kebisingan umumnya dikategorikan menjadi constant noise (berturut-turut lebih dari lima detik), fluctuating noise (kontinuitasnya naik turun), continuous noise (frekuensi tetap dan terus menerus), intermittent noise (kebisingan naik turun dan tidak berulang), dan impulsive noise (suara ledakan).

Mekanisme Gangguan Pendengaran

Bersumber dari suara bising tersebut, bunyi yang masuk ke telinga seseorang diteruskan melalui telinga tengah dan menggetarkan sebuah selaput atau membran bernama timpani. Setelah bunyi masuk ke dalam membran timpani, ia menggetarkan tulang-tulang pendengaran, menekan membran-membran lain, dan menggerakkan sel rambut yang berfungsi sebagai sensor saraf pendengaran di otak. Adalah sel-sel rambut yang menua lebih lebih cepat, bernama stereosilia, saat seseorang terkena gangguan pendengaran. Bila seseorang mendengar sebuah kebisingan dengan intensitas tinggi dalam waktu lama, ia akan mirip seperti orang-orang lansia yang seluruh tubuhnya sudah mengalami degenerasi alias sulit mendengar.

Nilai Ambang Batas

Nilai ambang batas kebisingan seseorang, menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No 13 Tahun 2011, perlu diperhatikan untuk menghindari percepatan penuaan sel-sel rambut di telinga, Inspirator. Ketika ia mendengar bunyi lebih dari 140 desibel walau hanya satu detik, telinga bisa mengalami trauma seperti pendarahan dan tidak bisa mendengar lagi. Angka yang menjadi nilai ambang batas pendengaran seseorang bisa dilihat dari gambar berikut, walau angka sebenarnya hanya bisa terlihat melalui pengukuran kebisingan (sound level meter).

Oleh karena itu, setiap orang yang ingin menjaga fungsi telinganya agar terdegenerasi dengan normal perlu menjaga telinganya dari berbagai macam kebisingan dan meminimalisasi paparan kebisingan. Misalnya dengan menjauhi sumber bising agar tidak terlalu lama terdengar oleh indera pendengaran kita. Sebab gangguan yang terjadi pada telinga bersifat irreversible, maksudnya fungsi telinga tidak bisa kembali pada kemampuan normalnya jika dipaparkan oleh sumber bising terus-menerus. Mari jaga pendengaran kita sebelum terlambat!

 

 

 

*Dikutip dari berbagai sumber.

  • view 67