Perang Tak Kunjung Usai, Apakah karena Seru?

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Renungan
dipublikasikan 26 September 2017
Perang Tak Kunjung Usai, Apakah karena Seru?

Sejarah tentang peperangan telah mengakar pada umat manusia sejak zaman sebelum manusia purba hidup damai dan bahagia. Sampai sekarang pun upaya untuk beradu senjata antar kelompok tidak henti-hentinya terjadi seakan konflik dan permusuhan adalah nafas. Menurut Matthew O. Jackson, Massimo Morelli, dan Paul Goodman, ada beberapa alasan banyak orang melanggengkan peperangan untuk tetap terjadi. Apa kiranya?

Agama
Bisa dibilang, agama adalah dasar pedoman kepercayaan yang membuat seseorang memiliki pemikiran ideal bagi dirinya maupun kelompok, berbentuk ideologi, acuan berpikir, maupun motivasi untuk bertindak. Sehingga berdasarkan perbedaan berpikir dan berperspektif dari masing-masing orang, yang mungkin saling merasa tidak bisa diganggu gugat, dapat memunculkan konflik. Walaupun terkadang konflik yang muncul menjadi tidak rasional. Bukankah semua agama menyerukan perdamaian?

Ekonomi
Perang tidak harus saling meluncurkan nuklir dan menembakkan peluru. Perdebatan sengit yang memutuskan komunikasi pun termasuk dalam lingkup perang sebab adanya konflik antar umat manusia. Di masa sebelum industri, sumber daya seperti emas, perak, dan barang-barang penunjang kehidupan seperti istana maupun kuda menjadi perebutan. Kata kunci penyebab perang akibat ekonomi ada pada kata-kata penunjang kehidupan. Jika tidak hidup, mau bagaimana? Lalu terjadilah perang untuk memperebutkan semua yang dirasa penting bagi hidup.

Menjaga Wilayah
Wilayah tidak hanya sekadar lapangan kosong tanpa penghuni, tetapi mencakup tempat tinggal dan semua sejarah yang terukir di sana. Sebuah wilayah bisa menjadi sumber konflik antar umat manusia jika di dalamnya terdapat mutiara yang dicari-cari oleh seluruh penduduk bumi, apapun bentuknya. Sumber daya potensial dan memiliki nilai ekonomis biasanya menjadi pangkal perebutan karena negoisasi serta usaha lain sudah tidak membuahkan hasil.

Balas Dendam
Emosi yang muncul dalam diri manusia terkadang berpotensi untuk menyebabkan perang. Rasionalitas manusia telah dipenjara oleh emosi negatif karena pengalaman pahit di masa lalu. Balas dendam terkadang baik untuk dilakukan karena bisa membakar semangat yang hampir pudar. Namun ada peluang siklus perang yang tiada henti jika dendam kesumat terus dipelihara oleh masing-masing pihak yang sedang bertikai.
 
War may sometimes be a necessary evil. But no matter how necessary, it is always an evil, never a good. We will not learn how to live together in peace by killing each other's children — Jimmy Carter
 
 
 



*Dikutip dari berbagai sumber.

  • view 60