Perempuan dan Pekerjaan: Agar Tidak Menjadi Target Objek Jual Beli

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Enterpreneurship
dipublikasikan 25 September 2017
Perempuan dan Pekerjaan: Agar Tidak Menjadi Target Objek Jual Beli

Negara berkembang memiliki berbagai macam masalah. Perihal kemiskinan seringkali menjadi salah satu masalah yang menonjol dan dijadikan alasan untuk melakukan inovasi maupun hal-hal “gila”, melalui bisnis maupun alternatif lainnya. Tujuannya tak lain agar permasalahan yang banyak itu bisa selesai, dong. Dengan jumlah penduduk perempuan yang banyak, ditambah dengan rendahnya kualitas hidup keseluruhan dibandingkan dengan laki-laki, menurut Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, bukannya saling membantu untuk membenahi permasalahan, perempuan malah sering dijadikan objek seksual, objek kelas dua, serta objek dalam dunia periklanan.

Menjadikan perempuan sebagai objek bisnis, apa sumber masalahnya?

Kemiskinan

Perempuan mengalami kendala lingkaran setan yang menjadikan dirinya tidak mampu berusaha karena beban kemiskinan maupun karena memang belum berusaha akibat norma kultural (budaya patriarki yang menginferiorkan perempuan), struktural (kurangnya akses pendidikan, ekonomi, berorganisasi), dan pembawaan alamiah dirinya (lebih banyak pasrah terhadap posisinya setelah menjalani kehidupan berumah tangga karena perbedaan pemahaman kodrat dan peran perempuan).

Kepedulian

Pemerintah sedang menggalakkan program-program yang mampu mendukung perempuan untuk bebas dari pengentasan kemiskinan yang memiskinkan dirinya sebagai individu maupun sebagai bagian dari keluarga. Namun, program dan kebijakan yang dibuat tersebut tidak akan berjalan maksimal ketika dukungan dari masyarakat untuk bersama-sama menjalankan upaya perlindungan perempuan dari berbagai aspeknya dilaksanakan. Keterbatasan yang muncul dan menjadi salah satu penyebab kemiskinan diawali dari kepedulian untuk membuat perempuan mampu berkembang untuk berkiprah demi kemandirian ekonomi.

Kapasitas SDM

Tak hanya dua hal di atas, Inspirator, pengembangan kapasitas SDM perempuan masih terbatas jika berbicara konteks wawasan, pengetahuan, keterampilan, semangat kerja, hingga pola pikir dalam mengendalikan kemampuan ekonominya sendiri. Karenanya dibutuhkan akses terhadap pekerjaan yang setara dengan laki-laki di tempat kerja, peluang modal yang lebih besar jika ingin bermitra dan mengembangkan usaha, serta peningkatan kemampuan untuk melangsungkan kegiatan ekonomi yang menguntungkan lainnya.

Demi memperbaiki ketimpangan, menurut Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, perlu ada upaya peningkatan produktivitas ekonomi pada perempuan agar bisa turut berperan dalam meningkatkan kualitas hidupnya sendiri tanpa menjadi objek jual – beli seperti zaman kebodohan di masa lalu, yang sayangnya tetap ada sampai hari ini. Ada empat upaya yang bisa dilakukan untuk meningkatkan produktivitas perempuan. Apa saja?

Menurut Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, ada empat upaya bisa dilakukan untuk meningkatkan produktivitas perempuan, diantaranya memfokuskan peningkatan produktivitas ekonomi perempuan dalam seluruh sektor pembangunan, menumbuhkan kesadaran sektor maupun pemerintah daerah untuk menghasilkan program-program yang tepat untuk meningkatkan produktivitas ekonomi perempuan, menumbuhkan forum komunikasi program peningkatan ekonomi perempuan untuk mengakses sumberdaya dan informasi tentang pemberdayaan ekonomi, serta mengembangkan model desa mandiri untuk mengurangi beban keluarga miskin. Sehingga, permasalahan ekonomi yang menimpa perempuan maupun keluarga dapat diatasi tanpa harus mengesampingkan aspek-aspek keadilan, kesetaraan, dan kesejahteraan.

 

 

 

*Dikutip dari berbagai sumber.

  • view 138