Balita Pendek Membuat Kualitas Sumber Daya Manusia Buruk! Cegah dengan Hal Ini

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Kesehatan
dipublikasikan 20 September 2017
Balita Pendek Membuat Kualitas Sumber Daya Manusia Buruk! Cegah dengan Hal Ini

Masalah kurang gizi dan balita pendek (stunting) akan menyebabkan kerusakan otak, kemampuan belajar yang rendah, serta risiko berbagai macam penyakit. Bersumber dari data Penilaian Status Gizi 2015, sebanyak 29% balita Indonesia masuk ke dalam status darurat karena berada pada kriteria balita pendek. Menurut World Health Organization, balita pendek yang dimiliki suatu negara akan menjadi masalah bagi kesehatan masyarakatnya jika memiliki jumlah balita pendek di atas 20% dari total balita. Berdasarkan hal tersebut muncul pertanyaan, bagaimana bisa bersaing dengan anak bangsa lain jika banyak anak Indonesia yang mengalami stunting? Bisa! Dengan cara mencegahnya melalui empat langkah berikut.

Persiapan Ibu Hamil
Menjadi ibu bukanlah hal mudah ketika seorang perempuan bertanggung jawab akan satu nyawa yang keluar dari dalam tubuhnya. Semua makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh perempuan tersebut secara otomatis dibagi kepada calon bayi. Menurut Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan, kontribusi seorang ibu dalam melahirkan bayi yang bebas dari masalah gizi tidak hanya ketika ia sedang hamil. Perlu lingkungan yang mendukung agar seorang perempuan mampu menjaankan fase persiapan menjadi ibu sedari ia remaja.

Memakan makanan yang cukup bergizi seimbang perlu digiatkan oleh perempuan agar ia terhindar dari masalah kurang energi kronis (KEK). Tablet tambah darah pun juga perlu diminum oleh ibu yang sedang hamil, minimal 90 tablet selama kehamilan. Ketika seorang perempuan sakit ketika hamil, risiko penyakit tersebut menurun pada bayi akan lebih besar, terutama penyakit bersumber bakteri, virus, jamur, maupun penyakit degeneratif lainnya.

Saat Bayi Lahir
Ketika akan melahirkan, bayi dan ibunya perlu diselamatkan oleh tenaga kesehatan yang berkompeten. Sehingga inisiasi menyusui dini (IMD) agar kolostrum dalam asi dapat diterima dengan baik oleh bayi baru lahir, mengingat fungsinya sebagai zat antibodi alami paling ampuh bagi bayi. Selain itu, bayi baru lahir sampai dengan enam bulan perlu diberi ASI dan hanya ASI untuk mengisi perut mungilnya. Sebab, makanan lain selain ASI bagi bayi di bawah enam bulan akan membahayakan fungsi pencernaan dan mendatangkan penyakit.

Memasuki Fase Balita
Bayi dibawah lima tahun, tepatnya usia di atas enam bulan sampai dua tahun, masih membutuhkan ASI dan makanan pendamping ASI (MP-ASI) agar kebutuhan gizinya terpenuhi. Makanan pendamping ASI pun tidak bisa berupa makanan yang merangsang perut bayi, seperti pedas dan asam. Selama fase balita ini, seorang anak pun perlu mengikuti imunisasi dasar lengkap di Puskesmas terdekat sekaligus memantau dan mendeteksi dini pertumbuhannya di Posyandu.

Melakukan PHBS
Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) perlu selalu dilakukan setiap hari, ada atau tidaknya kehamilan dan bayi di dalam rumah. Pasalnya, poin-poin yang dicantumkan pada PHBS mampu mencegah penyakit untuk datang karena gizi buruk tidak hanya bisa terjadi karena makanan tetapi juga disebabkan oleh lingkungan. Himbauan terkait sanitasi dan lingkungan sekitar dalam PBHS perlu diindahkan agar semua anggota keluarga terlindungi. Semoga saja dengan langkah-langkah di atas permasalahan generasi bisa dikurangi satu per satu. Mari bersama-sama melawan stunting!
 
 



 
 *Dikutip dari berbagai sumber.

  • view 63