Ingin Menjaga Konsumen Setia? Perihal Ancaman Biaya Ini Perlu Diperhatikan

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Enterpreneurship
dipublikasikan 20 September 2017
Ingin Menjaga Konsumen Setia? Perihal Ancaman Biaya Ini Perlu Diperhatikan

Inti dari proses jual beli dalam bisnis biasanya menjaga konsumen agar tetap setia memanfaatkan produk dan jasa yang kita tawarkan. Meski konsumen hari ini sangat sulit untuk diajak setia karena banyak penawaran lain yang lebih menarik. Bukankah begitu? Para entrepreneur diminta untuk lebih memikirkan kreativitas dalam menggaet pelanggan, termasuk memikirkan alokasi anggaran selama proses tersebut.

Alokasi anggaran ketika mempromosikan sebuah produk pada konsumen yang sudah setia akan berbeda dengan alokasi untuk menarik konsumen baru agar ia beralih pada produk andalan kita. Perbedaan anggaran tersebut sering dikenal dengan sebutan switching cost. Menurut Five Forces Model yang dirancang oleh Michael E. Porter, switching cost termasuk dalam entry barrier yang akan menghambat pendatang baru potensial untuk keuntungan bisnis. Seumpama menjalin hubungan dengan pasangan yang sudah lama tetapi harus kandas di tengah jalan, switching cost dapat diartikan sebagai upaya menjalin hubungan baru bersama orang lain dengan segala konsekuensinya. Hmm, jangan baper! Fokus!

Kerugian switching cost pada pebisnis fokusnya terletak pada kepuasan konsumen, inovasi produk yang bisa merangkul lebih banyak kepala, dan riset serta strategi pemasaran baru agar konsumen lainnya lebih menerima produk yang ditawarkan. Meski terlihat kerugiannya hanya ditanggung oleh pebisnis, menurut Hermawan Kartajaya dalam buku berjudul Siasat Bisnis: Menang dan Bertahan di Abad Asia Pasifik, yang terjadi akibat switching cost tidak hanya ada pada pebisnis tetapi juga pada pelanggan. Konsumen setia sebuah produk biasanya memiliki kenyamanan tersendiri pada produk yang ia gunakan. Ongkos tambahan, penyesuaian baru dengan produk atau jasa, dan perhitungan tangible maupun intangible lain akan ditanggung juga oleh konsumen.

Perlu diingat kembali, sebuah harga merupakan satu investasi dalam bisnis. Menurut Paul Klemperer, dalam jurnalnya tentang kompetisi ketika konsumen memiliki switching cost, terdapat empat kategori pertimbangan ketika melakukan switching cost dalam berbisnis, yaitu:

Kesesuaian Alat

Alat-alat yang menjadi sumber daya selama ini secara otomatis juga terkena switching cost ketika mengalami perubahan. Semisal penggunaan kamera sebelumnya bermerek Sony dengan lensa Sony juga, ketika berganti kamera lain, lensa yang digunakan pasti akan menyesuaikan dengan kamera. Namun carilah alternatifnya agar biaya yang keluar tidak terlalu tinggi, mungkin menggunakan lensa lain yang bisa digunakan di beberapa kamera.

Ongkos Produk

Ongkos produk berfokus pada barang. Ongkos pemasoknya, ongkos untuk mempelajari produk tertentu, dan ongkos uji coba produk masuk dalam ruang lingkup ongkos produk. Berbicara dengan pemasok, termasuk mendapatkan kesepakatan akan mengubah anggaran biaya. Mempelajari produk baru dan menguji coba produk pun begitu, terutama ketika terdapat ketidaksesuaian lalu harus menyesuaikan dengan berbagai rekayasa agar produk terbaik dapat dihasilkan.

Ketidakpastian Kualitas

Masih terkait dengan ongkos produk, kualitas produk yang akan dihasilkan dari uji coba produk tersebut juga mungkin belum maksimal. Pada produsen obat, misalnya, yang membutuhkan keampuhan obat untuk digunakan banyak kalangan. Biaya riset untuk memastikan kualitas obat terjaga akan menjadi salah satu alasan switching cost dilakukan.

Psikologis

Aspek psikologis memang tidak memiliki alasan langsung yang akan berpengaruh pada ongkos produksi dan segala hal terkait. Tetapi menurut psikolog sosial aspek ini mempengaruhi sebuah merek. Pasalnya sebuah produk kesukaan konsumen sangat memungkinkan memiliki memori mendalam pada seseorang. Sehingga, dengan melakukan switching cost pada berbagai hal, akan mengganggu memori yang dimiliki oleh konsumen terhadap suatu produk. Akhirnya pertimbangan konsumen akan berubah.

 

 

 

*Dikutip dari berbagai sumber.

  • view 37