Mengingat Moralitas dalam Berbisnis, Ini Tiang Penyangga untuk Menguatkannya

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Renungan
dipublikasikan 12 September 2017
Mengingat Moralitas dalam Berbisnis, Ini Tiang Penyangga untuk Menguatkannya

Nilai-nilai seperti norma, etika, adat, dan moralitas umumnya berteman dengan kebiasaan di kelompok-kelompok tertentu masyarakat. Satu kebiasaan di masyarakat bisa menjadi hal yang tidak lazim bagi masyarakat lainnya, lho, karena perbedaan pandangan perihal moralitas benar atau salah. Begitu juga dalam berbisnis, pandangan benar dan salah tersebut bisa berbeda tergantung dengan kepentingan seseorang atau kelompok. Demi menghindari percekcokan siapa benar juga siapa salah, ada empat pertimbangan untuk bisa menarik kesimpulan tentang moral tersebut, terutama bagi bisnis. Mari lihat, ada apa saja?

Fokus Keuntungan bagi Siapa?

Standar moral biasanya sangat terkait dengan permasalahan serius yang bisa menguntungkan maupun amat merugikan manusia. Ketika disandingkan dengan bisnis, perusahaan yang berbisnis di suatu tempat jauh dari lingkungan industri seringkali terlihat mendapatkan keuntungan sepihak, tetapi tidak pada masyarakatnya. Jika pebisnis melupakan moral dari bisnisnya dan mengabaikan kepentingan masyarakat, apa yang akan terjadi? Chaos di tempat dan mengurangi target pasar lokal, lho, Inspirator. Tanyakan kembali fokus keuntunganmu ada pada siapa.

Adil, Dong!

Pebisnis biasanya pasti mengalami krisis. Kala itu tidak banyak pebisnis yang tetap berpegang teguh pada prinsip keadilan, atau win-win solution, antara pihaknya dengan klien atau konsumen. Tantangan moral pebisnis diuji saat itu juga. Menurut David Hagenbuch, seperti tulisannya dalam Entrepreneur.com, contoh tantangan moral ada ketika investasi perbankan memiliki hutang-hutang berisiko dan menjualnya ke nasabah untuk bertaruh pada investasi yang sama untuk “mengajak” konsumennya merugi. Etika berbisnis fokusnya berada pada pada konsumenmu lho, Inspirator. Kamu dan konsumenmu, bagaimanapun caranya, kalian harus tetap untung.

Integritas

Tidak sedikit pebisnis yang melakukan penipuan-penipuan berkedok penjualan barang dan jasa bisnis-bisnis online. Penipuan terparah ada pada kekecewaan konsumen ketika barangnya tidak diantar, bukan karena uangnya belum dikirim tetapi karena penjualnya kehilangan integritas dalam berbisnis. Pebisnis yang ideal akan menepati kesepakatan, memberikan apa yang seharusnya ia beri, dan menepati kepuasan konsumen ketika ia tertarik membeli sesuatu setelah melihat iklan. Siapa yang jujur, ia tidak akan pernah terganti dan tiada duanya. 

Malu, kah?

Seorang promotor handal tidak mau menceritakan iklan yang dibuatnya pada keluarganya ketika pekerjaan tersebut sebenarnya bertentangan dengan kaidah moral yang ia pegang erat. Ketika seseorang merasa malu, di situ terjadi persimpangan moral yang sebenarnya sedang ia hadapi. Indikator yang satu ini mungkin bisa menjadi pertimbanganmu, Inspirator. Meskipun urusan moral akhirnya kembali pada masing-masing individu.

 

 

 

*Dikutip dari berbagai sumber.

  • view 48