Keuntungan Bisnis Didapat dengan Cara Mendiskriminasi Hak Asasi, Perlukah?

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Enterpreneurship
dipublikasikan 11 September 2017
Keuntungan Bisnis Didapat dengan Cara Mendiskriminasi Hak Asasi, Perlukah?

Diskriminasi seringkali muncul karena prasangka yang sebenarnya mungkin tidak terjadi. Dalam berbisnis, dibutuhkan intuisi untuk melihat segala sesuatu bebas dari prasangka karena peluang menguntungkan atau merugikan bisa terjadi kapanpun. Meski begitu, banyak orang masih berpegang teguh bukan pada intuisi tetapi pada orientasi keuntungan dalam berbisnis. Misalnya pada kasus-kasus bisnis jasa atau pelayanan yang sangat berkaitan dengan kemanusiaan, seperti penolakan pasien oleh rumah sakit non-pemerintah hanya karena tidak memenuhi ketentuan bisnis di Rumah Sakit tersebut.

Menurut regulasi yang berlaku, yaitu Undang-Undang No 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit, bisnis pelayanan kesehatan berbentuk rumah sakit perlu diselenggarakan dengan nilai-nilai kemanusiaan, profesionalitas, pemerataan, perlindungan dan keselamatan pasien, persamaan hak dan anti diskriminasi, serta memiliki fungsi sosial. Berangkat dari karakteristik rumah sakit tersebut, rumah sakit tidak hanya memiliki orientasi bisnis tetapi juga sosial.

Meskipun ada fungsi-fungsi sosial di sana, kepentingan korporat dalam pelayanannya pun tetap tidak bisa dilupakan. Artinya, asas merelakan sebagian harga untuk mendapatkan timbal balik di kemudian hari perlu tetap dijadikan pegangan. Ketika muncul satu tawaran untuk mengeluarkan harga tinggi tetapi tidak diberikan oleh seorang pebisnis, peluang kerugian yang lebih besar akan lebih berisiko untuk terjadi.

Kita sebagai pebisnis perlu selalu mengingat, bukankah setiap keuntungan didapatkan dengan sebuah harga? Bercermin dari pengalaman berbisnis yang dilakukan oleh perusahaan farmasi di Jepang, PT Otsuka Pharmaceutical, produsen merek minuman kesehatan ber-ion. Di awal penjualannya pada tahun 1980, direksi perusahaan memutuskan untuk memberikan minuman tersebut secara cuma-cuma dengan jumlah fantastis, yaitu ribuan botol pada orang-orang sehabis mereka berolahraga.

Awalnya tidak ada yang mau mencoba. Namun, berangsur-angsur penyesuaian dilakukan dengan kebutuhan konsumen hingga konsumennya menyadari betapa berpengaruhnya minuman tersebut untuk kondisi tubuhnya setelah berolahraga. Sampai sekarang pun penjualan minuman ber-ion tersebut tetap laku di pasaran. Walaupun ada perbedaan perspektif untuk sebuah bisnis barang dengan jasa, harga sebuah pencapaian tetap sama ketika berbicara bisnis. Maka, kerjasama dengan berbagai pihak dan selalu memberikan pelayanan maksimal berbentuk penyesuaian untuk calon konsumen perlu dilakukan agar bisa mencapai tujuan awal memulai bisnis.

 

  

 

*Dikutip dari berbagai sumber.

  • view 361