Pendidikan Karakter Bisa Memperkuat Perilaku Sosial-Emosional?

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Psikologi
dipublikasikan 08 September 2017
Pendidikan Karakter Bisa Memperkuat Perilaku Sosial-Emosional?

Bagaimana tanggapanmu mengenai penting atau tidaknya pendidikan karakter dengan perilaku emosional masyarakat hari ini? Masalah sosial di hadapan kita dewasa ini diyakini ditenggarai oleh kurangnya penguatan akan pendidikan karakter. Hal itu terlihat dari moral anggota masyarakat yang belum menonjol dalam konteks positif di berbagai lapisan, meski di masing-masing kearifan lokal pendidikan karakter memiliki idealismenya sendiri.

Pendidikan karakter pada seseorang, menurut Thomas Lickona, biasanya baru bisa disebut ideal jika ia mampu mengetahui, menginginkan, dan melakukan nilai-nilai dari pendidikan karakter dengan baik. Artinya, ia benar-benar bisa menilai apa yang benar, bisa peduli dan mempertimbangkan nilai yang ada, dan bisa melakukan kebaikan dari suatu karakter yang ia percaya. Tiga tahapan tersebut baru bisa sempurna menjadi suatu pendidikan karakter setelah seseorang bisa menganalisis situasi dan belajar mempraktikkan hasil analisisnya tersebut melalui situasi sesungguhnya, bukan hanya dari teori.

Lalu, bagaimana pendidikan karakter bisa mempengaruhi perilaku sosial-emosional seseorang? Berawal dari tahapan menilai hitam-putih maupun benar-salah, seseorang sebenarnya sedang melakukan proses mendefinisikan emosi yang ada di luar serta dalam dirinya. Tahapan penilaian benar salah setelah mendapatkan pengetahuan tentang idealnya sebuah karakter sesuai dengan teori mekanisme terjadinya emosi dari Michael Lewis dan Leonard Rosenblum.

Teori mekanisme terjadinya emosi dimulai dari Elicitor, atau dorongan berupa peristiwa tertentu; Receptor, atau penerimaan informasi terhadap adanya suatu pemicu; State, atau perubahan aspek fisiologi pada tubuh seseorang karena terpicu oleh sebuah peristiwa; dilanjutkan oleh tahapan Expression atau perubahan pada bagian fisik yang bisa diamati seperti suara maupun mimik wajah; lalu Experience atau persepsi berbentuk kesimpulan dari interpretasi seseorang akan kondisi emosionalnya pada saat itu.

Ketika selesai mengalami tahapan experience, seseorang baru akan memulai untuk memilih peduli dengan nilai-nilai yang ada atau tidak. Bersamaan dengan proses itu, ada proses pengekspresikan dan merasakan pengalaman akan sebuah situasi yang akan membawa seseorang untuk ke tahapan selanjutnya atau tidak. Jika lingkungan sosial seseorang cukup mendukung untuk memunculkan tindakan setelah tahapan-tahapan sebelumnya, maka ia akan bertindak sesuai dengan interpretasi dirinya. Sehingga masyarakat bisa memberikan sebuah penilaian tertentu pada dirinya.

 

 

 

 

*Dikutip dari berbagai sumber.

  • view 94