Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Enterpreneurship 5 September 2017   07:18 WIB
Mengenal Antropomorfisme Lebih Jauh. Pernah Dengar?

Antropomorfisme, sekilas terdengar mirip sebuah paham pada isme-isme lain, seperti liberalisme, komunisme, hedonisme, dan sejenisnya. Antropomorfisme memang dianggap menjadi satu paham yang mempersepsikan banyak obyek atau agen non-manusia menjadi seperti manusia. Misalnya pada cerita fabel, hewan-hewan dipersepsikan sama seperti manusia, yang bisa berbicara dan memiliki pikiran sendiri. Paham antropomorfisme bisa ditafsirkan berbeda oleh banyak orang, dari cerita fabel hingga diskusi teologi. Meski begitu, apakah antropomorfisme bisa dijadikan pembahasan dalam bisnis? Mari kita bahas lebih lanjut dari sudut pandang Entrepreneurship.

Di dunia bisnis, pembahasan antropomorfisme disebut sebagai brand anthropomorphism. Tidak hanya dijadikan pembahasan biasa, antropomorfisme sangat berpengaruh pada penjualan sebuah bisnis. Menurut Gianluigi Guido dan Alessandro M. Peluso, melalui jurnalnya yang berjudul Brand anthropomorphism: Conceptualization, measurement, and impact on brand personality and loyalty, berbagai penelitian psikologi menghasilkan bahwa manusia lebih mudah untuk mempersepsikan obyek antropomorfis seperti binatang peliharaan, mobil, bahkan personal computer sebagai teman manusianya dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu digunakan oleh para marketer handal untuk menarik perhatian publik agar produk dan jasa yang ditawarkan lebih ingin dimiliki oleh pelanggan.

Brand anthropomorphism dimanfaatkan oleh marketer dengan cara mengubah sebuah produk menjadi layaknya manusia. Produk dinyatakan berhasil mengadopsi paham antropomorfisme jika tampilan luarnya sekilas mengingatkan kita pada tokoh-tokoh non-manusia pada film animasi yang bisa berbicara, seperti sebuah gambar kelinci di etalase produk makanan yang mirip dengan kelinci-kelinci di Alice in The Wonderland menjadi penghias bungkus makanan tersebut atau pada grill mobil yang tersenyum seperti manusia.

Tak hanya merangsang kesenangan pelanggan agar membeli produk atau jasa, pemasangan gambar antropomorfis pada sebuah produk dapat mengonstruk atau menyentil salah satu konsep diri yang ideal dari pelanggan ketika ia melihat produk yang dipasarkan, lho. Konstruk dari sebuah produk yang sampai pada persepsi pelanggan akan lebih dahsyat terlihat daripada penjelasan atau promosi verbal maupun promosi berbentu audio, dibuktikan dari hasil neuroimaging pada penelitian Carolyn Yoon, yaitu A functional magnetic resonance imaging study of neural dissociations between brand and person judgments.

Sehingga, konsep diri seseorang setelah melihat produk dengan brand anthropomorphism dapat memanipulasi konsep dirinya yang sebenarnya menjadi seperti konsep diri yang sesuai dengan konstruk sosial. Terlebih ketika produk atau jasa tersebut benar-benar memberikan hasil fisik seperti yang pelanggan persepsikan. Pelanggan akan selalu setia menggunakan sebuah produk. Menarik bukan?

 

 

 

*Dikutip dari berbagai sumber.

Karya : Inspirasi Entrepreneurship