Melawan Seksisme dalam Berbisnis: Sebuah Kiat untuk Pebisnis Perempuan

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Enterpreneurship
dipublikasikan 04 September 2017
Melawan Seksisme dalam Berbisnis: Sebuah Kiat untuk Pebisnis Perempuan

Seksisme, menurut Michael Michalko dalam bukunya Thinker Toys, didefinisikan sebagai sebuah ideologi atau cara pandang seseorang yang merendahkan salah satu jenis kelamin, entah itu perempuan atau laki-laki. Umumnya, seksisme terjadi pada perempuan. Hal itu, menurut BBC, terlihat dari pendidikan pada anak-anak sejak dini di buku-buku pelajaran, dimana perempuan dimunculkan sebagai orang dengan peran sekunder, yaitu hanya digambarkan memiliki peran dalam memasak dan merawat anak, berbeda dengan laki-laki yang digambarkan sebagai pemimpin, insinyur, ilmuwan, politisi, juga pebisnis.

Semua tindakan pembedaan, yang seolah mutlak, terjadi di masyarakat tersebut tidak berhenti saat perempuan ingin memulai bisnisnya sendiri. Berbagai permasalahan muncul, dimulai dari labelling sulitnya berpikir rasional karena cenderung mengedepankan emosi hingga hanya ditampilkan sebagai obyek untuk meningkatkan penjualan dalam berbisnis. Menurut International Labour Organization, perempuan pun lebih banyak mengalami diskriminasi di masyarakat dan terbawa masuk ke dunia kerja. Oleh karena itu, perempuan yang memasuki dunia bisnis memiliki kenyataan tantangan ganda.

Tantangan itu tak hanya dalam persaingan wajarnya pebisnis dengan pebisnis. Tetapi juga dari masyarakat, yang seharusnya tidak menjadi tantangan pada kebanyakan pebisnis, menjadi pelengkapnya. Lebih jauh lagi, segala tantangan serta keraguan sangat mungkin datang dari calon investor karena kepemilikan bisnismu dikelola oleh orang-orang berjenis kelamin perempuan, jika investormu cukup seksis dalam melihat peluang bisnis. Hal itu terjadi pada Penelope Gazin dan Kate Dwyer, pemilik bisnis online tentang creative art bernama Witchsy.

Penelope dan Kate memulai bisnisnya dengan menghadapi jegalan kultur seksisme mulai dari seniman, web developer, investor dan pihak-pihak luar yang memperlakukan mereka secara tidak hormat melalui balasan email-email seksis hanya karena mereka perempuan. Menurut John Paul Titlow, dalam tulisannya tentang wawancara bersama Penelope dan Kate yang dilansir oleh Fast Company, mereka menemukan cara cerdik dalam melawan balik seksisme di dunia bisnis yang mereka jalankan, yaitu menggunakan nama Keith Mann untuk membalas semua kontak bisnis dengan dunia luar. Tidak disangka-sangka, bisnis mereka lebih mendapat respon positif dibandingkan dengan sebelumnya.

Meskipun tidak semua perempuan mengalami seksisme ini saat memasuki dunia bisnis, sebaiknya kamu mampu mengetahui arena permainan bisnis yang akan kamu jalankan nantinya. Tidak dipungkiri juga kemampuanmu dalam meyakinkan lingkunganmu dengan berbagai persoalannya perlu ditingkatkan. Selain itu, kamu juga perlu memperjuangkan bisnismu dengan cara apapun agar bisa berlari kencang menuju kesuksesan. Sebab mendapatkan kesempatan untuk sukses dan menjadi sukses itu sendiri adalah hak semua orang. Betul?

 

 

 

 

*Dikutip dari berbagai sumber.

  • view 49