Secepatnya Menyembuhkan Trauma Pengungsi Seperti Rohingya, Mungkinkah?

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Psikologi
dipublikasikan 04 September 2017
Secepatnya Menyembuhkan Trauma Pengungsi Seperti Rohingya, Mungkinkah?

Atas nama kemanusiaan, Rohingya and other refugees are going to rise. Mungkin kalimat itu tidak pernah berhenti diharapkan oleh semua orang yang selalu berpikir untuk memanusiakan manusia. Setelah mengalami perusakan properti, pemukulan, pemaksaan untuk bersembunyi, perlakuan kekerasan, dan sudah mati berkali-kali, mungkin korban pengungsian akibat perang, atau hal yang terendus seperti konflik kepentingan lainnya, akan membutuhkan waktu lama untuk mampu menikmati hidup normal mereka. Atau menikmati hidup tidak normalnya mereka, karena situasi panas dan traumatis sudah menjadi hal wajar bagi pandangan matanya.

Dinamakan post-traumatic stress disorder (PTSD), berbagai tindakan dari lingkungan mereka berakibat pada situasi stress yang tetap ada. Bahkan ketika penyebab stress tersebut sudah benar-benar hilang dari hadapan mereka. Stress yang dialami berupa gangguan kecemasan pada aktivitas sehari-hari segera setelah kejadian maupun beberapa bulan atau tahun setelah kejadian berakhir. Menurut Alodokter, umumnya terdapat empat dampak buruk yang sering terjadi pada orang-orang dengan PTSD, yaitu mengalami perubahan emosi seperti sering mudah terkejut dan takut, sering menghindari pembicaraan yang mengingatkan akan kejadian buruk, selalu mendapat ingatan buruk dari trauma tersebut, serta merasa pesimis dalam menjalani hidup baru di masa depan.

Meski terlihat sulit untuk disembuhkan karena yang terserang adalah psikis, bukan fisik, PTSD bisa disembuhkan dengan berbagai macam penyembuhan. Penyembuhan PTSD umumnya dilakukan dengan menggunakan obat-obatan anti kecemasan, termasuk anti-depresan, dan psikoterapi, melalui terapi kognitif dan terapi eksposur. Menurut Detik.com terapi kognitif bisa mengupayakan perubahan cara berpikir terhadap situasi masa lalunya. Begitupun dengan terapi eksposur yang perlahan-lahan membantu penyintas PTSD menghadapi ketakutan akan situasi trauma melalui penguatan respon diri terhadap memori serta kemiripan akan situasi trauma di masa lalu.

Hanya saja, dampak dari trauma, menurut Tim Gaynor dari UNHCR, hanya benar-benar bisa disembuhkan dengan dukungan orang-orang terdekat dan komunitas-komunitas di sekitarnya yang peduli serta memahami keadaan mereka. Motivasi untuk mereka dalam kelompok tersebut dapat langsung menguatkan orang-orang yang mengalami PTSD. Singkatnya, mereka membutuhkan lingkungan sosial baru yang benar-benar dirasa aman dan bisa dipercaya untuk membangun kehidupan baru mereka bersama dengan penyintas lainnya. Meskipun begitu, kesembuhan orang-orang yang mengalami PTSD sama seperti pada orang dengan gangguan lainnya. Ia membutuhkan waktu untuk benar-benar pulih total dan waktu yang dibutuhkan pun berbeda-beda pada tiap orang. 

 

 

  

*Dikutip dari berbagai sumber.

  • view 81