Saat Stress, Benarkah Pengabaian Kaidah Tertentu Membuatmu Merasa Lebih Baik?

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Psikologi
dipublikasikan 30 Agustus 2017
Saat Stress, Benarkah Pengabaian Kaidah Tertentu Membuatmu Merasa Lebih Baik?

“Ah, pusing banget. Tenggat waktu semakin sedikit tetapi rencana masih berjalan sebagian. Makan donat dan coklat manis ini tak apa lah, biar tenang.” Hmmm, kalimat di atas pasti pernah terlintas di pikiranmu kan kalau sedang stress atau bersedih? Ayo ngaku. Makan pun bukan hanya menjadi kebutuhan saat lapar saja, tetapi teman di kala suka dan duka. Terutama makanan yang seharusnya tidak kita makan berlebihan, seperti gula dan zat berbahaya lain. Saat stress, memakan “makanan terlarang” justru membuat kita cenderung lebih bahagia. Mengapa seperti itu, ya?

Ternyata, hal itu dimulai sejak kita kecil. Hiburan yang mudah dicari ketika seorang anak menangis adalah makanan manis dan permen. Sehingga kebiasaan menyenangkan diri sendiri melalui konsumsi zat terbawa ketika seseorang telah dewasa. Peneliti menemukan kondisi tersebut sebagai “emotional overeating”. Emosi negatif yang menjadi penyebab konsumsi makanan kita terlalu berlebihan. Tentunya konsumsi makanan berlebihan berisiko menyebabkan obesitas hingga kecanduan zat-zat yang tidak dibutuhkan tubuh, lho.

Perilaku yang kita lakukan ketika berada dalam kondisi tertekan ini perlu dikendalikan, sob. Saran dari J. Aschroft, peneliti perilaku makan anak yang memiliki penelitian berjudul Continuity and Stability of Eating Behaviour Traits in Children, ketika ingin mengendalikan anak-anak yang sedang menangis, sebaiknya kita fokus pada upaya penghentian perilaku dari sumbernya. Bukan dengan cara mengalihkan perhatian pada hal lain yang belum tentu baik bagi diri anak tersebut di masa depan.

Siapa yang mengajari anak-anak untuk melakukan sesuatu kalau bukan orang tua dan lingkungan sekitarnya? Anak-anak mempelajari segalanya dari apa yang ada di hadapannya. Ia tidak mengetahui apapun sebelum lingkungannya mengajarinya suatu penyelesaian masalah, walaupun menggunakan cara yang mungkin berbahaya bagi dirinya. Sebelumnya ia tidak tahu kalau emotional overeating memiliki dampak jangka panjang yang merugikan, begitu juga orangtuanya. Karenanya, hindari pemberian zat apapun untuk anak hanya untuk menghibur mereka, ya. Gunakan alternatif lain apapun yang lebih menyehatkan tetapi tetap menyenangkan bagi anak.

 

 

 

*Dikutip dari berbagai sumber.

  • view 110