Sumpah! Kecerdasanmu di Atas Rata-Rata Jika Sering Bersumpah

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Psikologi
dipublikasikan 29 Agustus 2017
Sumpah! Kecerdasanmu di Atas Rata-Rata Jika Sering Bersumpah

“Aku tidak berbohong. Sumpah!”

Terkadang sebuah sumpah atau janji terdengar klise dan tidak dapat dengan mudah dipercaya, hanya karena banyak orang ditinggal oleh janji yang tidak ditepati. Meski begitu, menurut Dave Maclean dari Independent.co.uk, ternyata orang-orang cerdas lebih sering mengucap sumpah atau janji lho dibanding orang-orang biasa pada umumnya. Perilaku yang aneh, atau mungkin dianggap basi, bagi sebagian orang tersebut merupakan reaksi dari kecerdasannya.  

Menurut Dave Maclean, bila seseorang sering membuat sumpah dan bisa menyebutkan berbagai macam kata sumpah serta janji-janji dalam waktu satu menit, ia cenderung memiliki nilai yang tinggi pada tes IQ. Keterampilan menyebutkan kata-kata dan janji-janji tersebut juga menandakan bahwa ia memiliki kemampuan beretorika yang tinggi, bagaimanapun nilai pada tes IQnya.

Tak hanya perilaku sering berjanji, orang-orang cerdas lebih sering memakan makanan pedas untuk sarapannya, mengenakan baju seadanya -bahkan tidak mengenakan baju- ketika berada di rumah, dan memaki orang lain. Kesimpulan itu ditemukan dari 1000 orang responden penelitian, tentang kebiasaan melakukan 400 perilaku sehari-hari, yang dilakukan oleh peneliti dari University of Rochester, Amerika Serikat.

Walaupun banyak penelitian menyebutkan ciri-ciri orang cerdas adalah orang yang sering tidur larut malam, memiliki pikiran kritis dengan pertanyaan-pertanyaan di luar bayangan orang-orang normal, dan selalu menyempurnakan dirinya, orang-orang cerdas pun terlihat dari kepribadian serta cara mereka berperilaku rutin setiap harinya. Misalnya, orang dengan kepribadian ekstrovert, ditemukan lebih senang berkendara dengan kecepatan tinggi dan tell a dirty jokes.

Manfaat dari kondisi diri seseorang seperti di atas saat melakukan berbagai retorika dan perilaku pendukung lain, menurut Dr Richard Stephens psikolog dari Universitas Keele, dapat membuat seseorang merangsang sistem saraf simpatik tubuhnya dan mampu menoleransi rasa sakit yang dialami dirinya. Lalu, meskipun kecerdasan yang tercermin dari berbagai perilaku di atas cenderung absurd, seseorang tidak mungkin dipaksakan berperilaku demikian karena ingin menjadi cerdas. Kecerdasan tidak hanya terlihat pada perilaku tersebut dan mutlak hanya pada orang-orang dengan perilaku tersebut saja, kecerdasan bisa diasah menjadi lebih baik atau dibiarkan menjadi tumpul. Kamu mau menjadi cerdas yang bagaimana, Inspirator?

 

 

 

 

*Dikutip dari berbagai sumber.

  • view 68