Berkomunikasi dari Cara Berpakaian, Adakah yang Salah Selama Ini?

Inspirasi  Entrepreneurship
Karya Inspirasi  Entrepreneurship Kategori Psikologi
dipublikasikan 28 Agustus 2017
Berkomunikasi dari Cara Berpakaian, Adakah yang Salah Selama Ini?

Kalau kamu pernah dengar pepatah berkata, “mulutmu, harimaumu”, berarti lebih mungkin kamu juga pernah mendengar pepatah lain yang berujar “pakaianmu, jati dirimu”. Banyak ahli komunikasi pun berpendapat sama seperti kedua pepatah tersebut. Kedua hal itu sangat penting bagi sejarah panjang ilmu komunikasi di dunia. Namun dalam kondisi diam seribu bahasa pakaianmu mampu memberikan kesan tertentu bagi orang lain dari apa yang telah mereka lihat.

Menurut mereka, kamu sedang berkomunikasi hanya dengan membiarkan mereka melihat apa yang kamu pakai untuk menutupi tubuhmu. Hal itu terjadi karena selama ini, menurut Feinberg, Mataro, dan Burroughs, banyak orang menganggap pakaian sebagai tampilan dirimu untuk publik. Pakaian pun dianggap mencerminkan jati diri seseorang karena masyarakat melakukan penilaian sepihak, termasuk menggabungkan simbol-simbol tertentu yang sedang melekat pada diri seseorang seolah-olah menjadi orang tersebut.

Cara berpakaian umumnya dikategorikan menjadi dua kategori besar, yaitu professional, atau formal serta semi-formal, dan casual. Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Olivia N. Angerosa tentang pakaian sebagai media komunikasi, para professional yang menggunakan pakaian formal maupun semi-formal pada umumnya akan cenderung lebih dilihat oleh orang lain sebagai pribadi yang pekerja keras, cerdas, dapat dipercaya, dan lebih sukses dibandingkan dengan gaya berpakaian casual.

Meski akhir-akhir ini pebisnis yang terlihat paling sukses hanya mengenakan baju-baju casual untuk dipakai sehari-hari, mereka tetap menggunakan baju-baju professionalnya kok untuk tetap dianggap wah oleh lawan bicara bisnisnya. Sebab, pakaian professional, menurut penelitian yang berjudul The Cognitive Consequences of Formal Clothing dalam jurnal Social Psychological and Personality Science, mampu mempengaruhi proses kognitif seseorang.

Sehingga, antara keadaan yang sebenarnya dan pikiran kita semacam memiliki koneksi, Inspirator. Apa yang kita lihat terbawa hingga ke alam bawah sadar kita. Walau begitu, dalam penelitian tersebut terdapat kekurangannya, yaitu belum tentu didapatkan kesimpulan yang sama jika jumlah sampel penelitian yang digunakan lebih banyak dan lebih menyerupai populasi asli manusia di bumi ini. Jadi, tak apa kok kalau kamu tetap ingin pakai baju dan outfit yang telah disesuaikan dengan occasion dan kenyamananmu. Asalkan kamu nyaman, lanjutkan!

 

 

 

 

*Dikutip dari berbagai sumber.

  • view 30